Salah satu kitab tafsir bi al-ma’ṡūr paling terkenal dan komprehensif adalah Jāmi‘ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān atau yang lebih populer disebut dengan Tafsir al-Tabari. Tafsir ini ditulis oleh Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir al-Tabari (224-310 H). Beliau adalah seorang mutafannin dalam berbagai cabang keilmuan, termasuk tafsir, sejarah, dan fiqih. Bahkan, beliau dikenal memiliki sebuah madzhab fiqih independen, namun kini sudah tidak tersisa lagi pengikutnya.
Dalam muqaddimah tafsirnya, beliau menegaskan kedudukan al-Quran sebagai mukjizat yang berbeda dari mukjizat para nabi sebelumnya. Al-Tabari membangun argumentasinya dengan menjelaskan keistimewaan Nabi Muhammad Saw dalam sejarah kenabian, konteks turunnya al-Quran di tengah masyarakat Arab yang fasih, serta sifat kekal mukjizat al-Quran yang tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Pandangannya ini menjadi landasan teologis untuk memahami posisi khusus al-Quran dalam tradisi wahyu Ilahi.
Keistimewaan Nabi Muhammad dan Universalitas Risalahnya
Al-Tabari menjelaskan bahwa Allah Swt telah mengutus para rasul dengan tingkatan yang berbeda dalam karunia dan kemuliaannya. Sebagian nabi dimuliakan dengan kemampuan berbicara langsung dengan Allah Swt, sebagian lain dikuatkan dengan Ruh al-Qudus dan diberi kemampuan menghidupkan orang mati serta menyembuhkan yang buta dan sakit. Namun Nabi Muhammad Saw mendapat kedudukan tertinggi di antara semua nabi.
وفضل نبينا محمدا صلى الله عليه وسلم، من الدرجات بالعليا، ومن المراتب بالعظمى. فحباه من أقسام كرامته بالقسم الأفضل وخصه من درجات النبوة بالحظ الأجزل
“Allah memberikan keutamaan kepada Nabi kita Muhammad dengan derajat yang paling tinggi dan kedudukan yang paling agung. Allah memberikan kepadanya bagian terbaik dari pembagian kemuliaan-Nya dan mengkhususkannya dengan bagian terbesar dari tingkatan kenabian.“
Keistimewaan utama Nabi Muhammad Saw terletak pada universalitas risalahnya. Al-Tabari menyebutnya sebagai “dakwah yang sempurna dan risalah yang umum” (al-da’wah al-tammah wa al-risalah al-‘ammah). Hal ini berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya yang biasanya hanya diutus untuk kaum tertentu dan dalam periode yang terbatas.
Al-Tabari menjelaskan bahwa Allah Swt menjaga dan melindungi Nabi Muhammad Saw dari setiap penguasa yang memusuhi dan setiap setan yang membangkang, hingga berhasil menyebarkan agama, menjelaskan jalan yang benar, dan menghapuskan kesesatan serta penyembahan berhala.
Mukjizat yang Kekal Sepanjang Masa
Hal yang membedakan Nabi Muhammad Saw dari para nabi lainnya adalah mukjizat yang diberikan kepadanya bersifat kekal. Al-Tabari menggambarkan keistimewaan ini:
مؤيدا بدلالة على الأيام باقية، وعلى الدهور والأزمان ثابتة، وعلى مر الشهور والسنين دائمة، يزداد ضياؤها على كر الدهور إشراقا، وعلى مر الليالي والأيام ائتلاقا، خصيصى من الله له بها دون سائر رسله
“Didukung dengan bukti yang kekal sepanjang hari, tetap sepanjang masa dan zaman, serta abadi sepanjang bulan dan tahun. Cahayanya semakin bertambah terang dengan berjalannya waktu, dan semakin gemilang dengan bergulirnya malam dan siang, sebagai kekhususan dari Allah untuknya tanpa para rasul lainnya.“
Al-Tabari membandingkan kondisi para nabi terdahulu yang “dikalahkan oleh para penguasa dan dihinakan oleh umat-umat yang durhaka, sehingga jejak-jejak mereka terhapus setelah mereka tiada, dan malam serta siang melupakan nama mereka.” Berbeda dengan mereka, Nabi Muhammad Saw diberikan sebuah mukjizat yang tidak akan pernah pudar dan lekang oleh zaman.
Tantangan al-Quran kepada Ahli Bahasa Arab
Al-Tabari menjelaskan konteks turunnya al-Quran di tengah masyarakat Arab yang mencapai puncak kefasihan. Pada masa itu, mereka adalah “pemimpin dalam seni pidato dan kefasihan, serta dalam syair dan kefasihan, dan dalam sajak dan perdukunan.” Namun ketika Nabi Muhammad Saw menantang mereka dengan al-Quran, mereka semua mengakui ketidakmampuan mereka.
لو اجتمع جميع من بين أقطارها، من جنها وإنسها وصغيرها وكبيرها، على أن يأتوا بسورة من مثله لم يأتوا بمثله ولو كان بعضهم لبعض ظهيرا
“Seandainya berkumpul seluruh penduduk bumi dari jin dan manusia, kecil dan besar, untuk membuat satu surat yang serupa dengannya, mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, meskipun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.“
Ketika sebagian orang Arab mencoba menandingi al-Quran, mereka justru menampakkan kelemahan dan ketidakmampuan mereka. Al-Tabari memberikan contoh upaya yang gagal:
والطاحنات طحنا، والعاجنات عجنا، فالخابزات خبزا، والثاردات ثردا، واللاقمات لقما
“Demi yang menggiling dengan menggiling, dan yang menguleni dengan menguleni, lalu yang memanggang dengan memanggang, dan yang mencampur dengan mencampur, kemudian yang menyuap dengan menyuap.“
Al-Tabari menyebut upaya ini sebagai “kebodohan yang menyerupai klaim palsu mereka” dan menunjukkan betapa jauhnya kemampuan manusia dari level kemukjizatan al-Quran.
Penjagaan Ilahi dan Fungsi al-Quran
Al-Tabari juga menegaskan bahwa Allah Swt menjaga al-Quran dengan “mata yang tidak pernah tidur” dan membentenginya dengan “tiang yang tidak dapat digoyahkan.” Tidak akan pernah goyah tiang-tiangnya sepanjang masa, dan tidak akan pernah pudar tanda-tandanya sepanjang zaman.
Maka, Al-Quran berfungsi sebagai pedoman abadi bagi umat Islam:
فهو موئلهم الذي إليه عند الاختلاف يئلون، ومعقلهم الذي إليه في النوازل يعقلون وحصنهم الذي به من وساوس الشيطان يتحصنون، وحكمة ربهم التي إليها يحتكمون
“Al-Quran adalah tempat berlindung mereka yang kepadanya mereka kembali ketika terjadi perselisihan, benteng mereka yang kepadanya mereka berlindung dalam musibah, benteng mereka yang dengannya mereka bertahan dari bisikan setan, dan hikmah Tuhan mereka yang kepadanya mereka berhukum.“
Dengan demikian, al-Quran tidak hanya berfungsi sebagai mukjizat yang membuktikan kebenaran kenabian Muhammad Saw, tetapi juga sebagai pedoman praktis yang terus relevan sepanjang masa.
Bersambung…
Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb
Tabik,
Ibnu Mas’ud
* Artikel ini disarikan dari pembacaan dan refleksi penulis terhadap bagian muqaddimah dari kitab Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān karya Abū Ja‘far Muḥammad ibn Jarīr ibn Yazīd al-Ṭabarī

Tinggalkan komentar