Setelah menetapkan bahwa al-Quran seluruhnya berbahasa Arab, al-Tabari menghadapi pertanyaan yang lebih kompleks: dialek Arab manakah yang digunakan dalam al-Quran? Bangsa Arab, meskipun memiliki nama kolektif yang sama, memiliki variasi dialek yang berbeda-beda dalam pengucapan dan struktur bahasa. Al-Tabari membahas konsep “sab’ah ahruf” (tujuh huruf) yang disebutkan dalam berbagai hadis sahih, menjelaskan makna sebenarnya dari konsep ini, lalu memberikan contoh-contoh konkret tentang bagaimana perbedaan dialek ini termanifestasi dalam pembacaan al-Quran. Pembahasannya didasarkan pada analisis terhadap hadis-hadis yang diriwayatkan dari para sahabat tentang perbedaan qiraat.
Keragaman Dialek Arab dan Kebutuhan Identifikasi
Al-Tabari menjelaskan bahwa meskipun bangsa Arab memiliki nama kolektif yang sama, mereka memiliki perbedaan dialek yang signifikan:
وإذ كانت العرب، وإن جمع جميعها اسم أنهم عرب، فهم مختلفو الألسن بالبيان، متباينو المنطق والكلام
“Adapun bangsa Arab, meskipun mereka semua terkumpul dalam satu nama bahwa mereka adalah orang Arab, namun mereka berbeda-beda dialeknya dalam pengungkapan, dan beragam dalam cara bicara dan percakapan.“
Untuk mengetahui dialek mana yang digunakan dalam al-Quran, al-Tabari menegaskan bahwa satu-satunya cara adalah melalui penjelasan dari Rasulullah Saw. yang telah ditunjuk Allah Swt sebagai penjelas al-Quran. Oleh karena itu, al-Tabari mengumpulkan hadis-hadis sahih yang membahas masalah ini.
Beliau menyajikan serangkaian hadis yang berkaitan dengan konsep “sab’ah ahruf.” Salah satu hadis yang paling terkenal adalah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
أنزل القرآن على سبعة أحرف، فالمراء في القرآن كفر – ثلاث مرات – فما عرفتم منه فاعملوا به، وما جهلتم منه فردوه إلى عالمه
“Al-Quran diturunkan atas tujuh huruf. Berdebat dalam al-Quran adalah kekufuran (diulangi tiga kali). Apa yang kalian ketahui darinya maka amalkan, dan apa yang kalian tidak ketahui darinya maka kembalikanlah kepada yang mengetahuinya.“
Hadis lain yang tak kalah penting adalah yang diriwayatkan dari Ibn Mas’ud:
أنزل القرآن على سبعة أحرف، لكل حرف منها ظهر وبطن، ولكل حرف حد، ولكل حد مطلع
“Al-Quran diturunkan atas tujuh huruf. Setiap huruf memiliki zhahir dan batin, setiap huruf memiliki batasan, dan setiap batasan memiliki tempat munculnya.“
Contoh Konkret Perbedaan Qiraat
Al-Tabari kemudian menunjukkan sebuah hadis yang menggambarkan bagaimana perbedaan dialek ini termanifestasi dalam praktik. Hadis yang sangat terkenal adalah perselisihan antara Umar ibn al-Khattab dan Hisyam ibn Hakim:
سمعت هشام بن حكيم يقرأ سورة الفرقان في حياة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فاستمعت لقراءته، فإذا هو يقرؤها على حروف كثيرة لم يقرئنيها رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Aku mendengar Hisyam ibn Hakim membaca surat al-Furqan di semasa hidup Rasulullah Saw. Aku mendengarkan bacaannya, ternyata dia membacanya dengan huruf-huruf yang banyak yang tidak diajarkan Rasulullah Saw kepadaku.“
Ketika mereka mengadukan masalah ini kepada Rasulullah Saw, beliau meminta keduanya membaca. Setelah mendengar bacaan keduanya, Rasulullah Saw bersabda:
هكذا أنزلت… إن هذا القرآن أنزل على سبعة أحرف، فاقرءوا ما تيسر منها
“Demikianlah ia diturunkan… Sesungguhnya al-Quran ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah yang mudah di antaranya.“
Penjelasan al-Tabari tentang Makna Sab’ah Ahruf
Al-Tabari dengan tegas menolak interpretasi yang menyatakan bahwa “sab’ah ahruf” merujuk pada tujuh aspek kandungan al-Quran (seperti perintah, larangan, janji, ancaman, dll.). Ia memberikan argumentasi yang kuat:
ومعلوم أن تماريهم فيما تماروا فيه من ذلك، لو كان تماريا واختلافا فيما دلت عليه تلاواتهم من التحليل والتحريم والوعد والوعيد وما أشبه ذلك، لكان مستحيلا أن يصوب جميعهم
“Diketahui bahwa perselisihan mereka dalam hal tersebut, seandainya perselisihan itu tentang apa yang ditunjukkan oleh bacaan mereka berupa halal-haram, janji-ancaman dan yang serupa, maka mustahil Rasulullah Saw membenarkan semuanya dari mereka.“
Al-Tabari menjelaskan bahwa jika perbedaan itu menyangkut makna hukum, maka Rasulullah Saw tidak mungkin membenarkan semua versi karena hal itu akan menciptakan kontradiksi.
Salah satu hadis yang dijadikan dalil utama oleh al-Tabari adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Bakrah:
قال جبريل: اقرءوا القرآن على حرف. فقال ميكائيل: استزده. فقال: على حرفين. حتى بلغ ستة أو سبعة أحرف، فقال: كلها شاف كاف، ما لم يختم آية عذاب برحمة، أو آية رحمة بعذاب. كقولك: هلم وتعال
Jibril berkata, “Bacalah Al-Qur’an dengan satu ḥarf.” Maka Mikail berkata, “Mintalah agar ditambah.” Maka ia berkata, “Dengan dua ḥarf,” hingga mencapai enam atau tujuh ḥarf. Lalu dikatakan, “Semuanya memberi syifa dan mencukupi, selama tidak mengakhiri ayat azab dengan (penutup) rahmat, atau ayat rahmat dengan (penutup) azab, seperti perkataanmu: halumma dan ta‘āl.”
Bagian terakhir dari hadis ini sangat penting bagi al-Tabari karena memberikan analogi konkret: “seperti perkataanmu ‘halumma’ dan ‘ta’al’” yang merupakan dua kata berbeda dengan makna sama (keduanya berarti “kemarilah”).
Ternyata, salah satu pernyataan Abdullah ibn Mas’ud cukup mendukung interpretasinya:
إني قد سمعت إلى القرأة، فوجدتهم متقاربين فاقرءوا كما علمتم، وإياكم والتنطع، فإنما هو كقول أحدكم: هلم وتعال
“Sesungguhnya aku telah mendengarkan bacaan (Al-Qur’an) mereka, lalu aku dapati mereka saling berdekatan (dalam makna dan lafaz), maka bacalah sebagaimana kalian telah diajarkan. Dan jauhilah sikap berlebihan (dalam membetulkan bacaan), karena sesungguhnya (perbedaan itu) seperti ucapan salah seorang dari kalian: ‘halumma‘ dan ‘ta‘āl‘.“
Pernyataan ini menguatkan pandangan al-Tabari bahwa perbedaan dalam sab’ah ahruf adalah perbedaan lafal dengan makna yang sama.
Al-Tabari juga memberikan contoh lain yang menunjukkan bagaimana perbedaan dialek ini dipraktikkan:
قرأ أنس هذه الآية: إن ناشئة الليل هي أشد وطئا وأصوب قيلا. فقال له بعض القوم: يا أبا حمزة، إنما هي “وأقوم”. فقال: أقوم وأصوب وأهيأ، واحد
Anas membaca ayat ini: “Inna nāsyi’ata al-layli hiya asyaddu waṭ’an wa-aṣwabu qīlan.” Lalu salah seorang dari kaum berkata kepadanya: “Wahai Abā Ḥamzah, sesungguhnya (yang benar) adalah ‘wa aqwam’.” Maka ia menjawab: “Aqwam (lebih tepat), aṣwab (lebih benar), dan ahya’ (lebih layak), semuanya satu (maknanya sama).“
Al-Tabari juga memberikan contoh konkret perbedaan qiraat:
وفي قراءتنا إن كانت إلا صيحة واحدة، في قراءة ابن مسعود إن كانت إلا زقية واحدة
“Dan dalam bacaan kami: ‘In kānat illā ṣaiḥatan wāḥidah’ (tidaklah itu melainkan satu teriakan). Dalam bacaan Ibnu Mas‘ūd: ‘In kānat illā zaqiyatan wāḥidah’.”
Kedua kata “saihah” dan “zaqyah” memiliki makna yang sama tetapi berasal dari dialek yang berbeda.
Bersambung…
Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb
Tabik,
Ibnu Mas’ud
* Artikel ini disarikan dari pembacaan dan refleksi penulis terhadap bagian muqaddimah dari kitab Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān karya Abū Ja‘far Muḥammad ibn Jarīr ibn Yazīd al-Ṭabarī

Tinggalkan komentar