Ada sebuah hadis dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dari Anas bin Mālik RA, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Bantulah saudaramu, baik ketika dia berbuat zalim maupun ketika dia dizalimi.”
Seorang lelaki bertanya, “Ya Rasulullah, aku akan membantunya jika dia dizalimi, tetapi bagaimana aku membantunya jika dia yang berbuat zalim?” Rasulullah menjawab, “Kamu halangi atau cegah dia dari perbuatan zalim, karena itulah bentuk bantuanmu kepadanya.”
Dalam syarahnya terhadap Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Ibn Baṭṭāl menjelaskan bahwa al-nuṣrah (pertolongan) berarti bantuan dan dukungan. Bentuk bantuan khusus bagi orang yang berbuat zalim adalah dengan mencegahnya. Sebab, jika dibiarkan terus berbuat zalim, ia akan berpotensi mendapatkan hukuman. Mencegah sejak awal justru menyelamatkannya dari hukuman tersebut.
Mari kita diskusikan ulang hadis ini. Kita sering melihat bagaimana “membela” seseorang justru dilakukan dengan cara yang berlawanan dengan ajaran Nabi Saw. Ketika ada teman, keluarga, atau tokoh yang kita sukai berbuat salah, refleks pertama yang muncul adalah “membela” habis-habisan. Tak jarang, mengeluarkan seluruh upaya, tenaga, dan biaya pun tak jadi masalah.
Normalnya, fans suatu tokoh publik akan “membela” idolanya mati-matian, bahkan ketika sang idola jelas-jelas melakukan kesalahan. Begitu pula dalam konteks politik, keluarga, atau pertemanan. Kita merasa bahwa “kesetiaan” memang pantasnya diukur dari seberapa keras kita membela, bukan dari seberapa berani kita mengoreksi atau mengingatkan.
Padahal, jika mengikuti hadis ini, membiarkan seseorang terus berbuat salah tanpa ada koreksi justru adalah bentuk ketidakpedulian yang berkedok loyalitas. Ibn Baṭṭāl sudah menekankan konsekuensinya: orang yang berbuat zalim dan dibiarkan, akan makin larut dalam kezalimannya. Akhirnya, ia akan menghadapi hukuman yang lebih berat, baik di dunia maupun di akhirat.
Kita bisa melihat banyak contohnya. Seorang pejabat korup yang terus dibiarkan akan makin berani hingga akhirnya tertangkap. Seorang teman yang suka berbohong tanpa pernah ditegur, perlahan kehilangan kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Seorang influencer yang menyebarkan informasi keliru dan tetap didukung pengikutnya, akan kehilangan reputasi ketika kebohongannya terbongkar. Selain hukuman formal, bisa juga berupa hukuman sosial seperti dikucilkan atau di-cancel.
Dengan demikian, mencegah sejak awal adalah bentuk perlindungan. Kita menyelamatkannya dari konsekuensi yang lebih buruk.
Konsep nushrah dalam hadis ini seharusnya memaksa kita untuk memikirkan ulang apa itu “membela” seseorang. Membela bukan berarti selalu berdiri di pihak orang yang kita sukai dalam keadaan apa pun. Membela berarti memastikan ia tetap berada di jalan yang benar, meskipun sesaat kita harus menentangnya.
Tentu ini tidak mudah. Menegur orang yang kita sayangi membutuhkan keberanian dan kebijaksanaan. Tidak semua orang bisa menerima dengan lapang dada. Kadang, orang yang kita ingatkan justru marah dan menuduh kita sebagai pengkhianat. Tetapi, jika kita benar-benar peduli pada masa depannya, risiko itu memang seharusnya kita ambil. Lebih baik ia marah sebentar, daripada ia harus menghadapi akibat yang jauh lebih berat.
Masalahnya, diam saja tidak cukup. Dalam banyak kasus, sikap diam justru menjadikan kita terlibat tidak langsung. Ketika kita tahu seseorang berbuat salah namun memilih diam karena tidak ingin “mencampuri urusan orang lain” atau karena “bukan urusan kita,” kita sebenarnya memberi ruang bagi kesalahan itu untuk berlanjut.
Tentu saja, hadis ini tidak berarti kita wajib mengoreksi semua orang. Kata yang digunakan adalah “saudaramu,” yaitu orang-orang yang memiliki ikatan khusus dengan kita: keluarga, sahabat, atau mereka yang dekat dengan kita. Kepada merekalah tanggung jawab ini berlaku.
Lalu bagaimana caranya mengingatkan seseorang tanpa terkesan menggurui? Bagaimana menyampaikan kritik tanpa menyakiti perasaan? Bagaimana membedakan antara menasihati dan menghakimi?
Kunci utamanya adalah niat. Ketika niat kita benar-benar untuk membantu orang tersebut, tanpa ada maksud untuk menunjukkan superioritas atau melampiaskan frustrasi, biasanya cara penyampaian kita pun akan lebih bijaksana. Orang yang dinasihati pun akan merasakan perbedaannya. Selain itu, momentum juga penting. Mengingatkan di depan umum hampir selalu menghasilkan sikap defensif, sementara pendekatan personal lebih efektif.
Begitulah seharusnya “loyalitas” yang sebenarnya. Tidak harus selalu setuju dan mendukung orang yang kita sukai, apalagi jika sedang salah. Loyalitas yang benar seharusnya berani untuk jujur, mengatkan “tidak,” hingga menunjukkan ketidak setujuan, bahkan secara publik jika memang diperlukan. Disisi lain, juga harus siap memberikan dukungan personal untuk melakukan perbaikan.
Karena itu, membela seseorang seharusnya berarti membela masa depannya, bukan hanya membela ego dan image-nya saja. Kita membela potensi kebaikannya, bukan justru melindungi kesalahannya.
Memang begitu, terkadang cara terbaik untuk membela seseorang adalah dengan menghentikannya melakukan keburukan.
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar