Kata-kata punya umurnya sendiri. Ada yang lekas basi, ada yang singgah sebentar, dan ada pula yang mampu melintasi zaman. Banyak faktor yang menyebabkan untaian kata-kata bisa berumur panjang. Bisa jadi karena sosok yang mengucapkannya, bisa jadi pula karena pengaruh kata-kata itu sendiri.
Syair Burdah karya al-Bushiri, dalam konteks ini, adalah untaian kalimat-kalimat indah yang berumur panjang. Kini usianya sudah lebih dari tujuh abad. Ia melintasi zaman. Turun-temurun dari generasi satu ke generasi lainnya. Hingga kini, ia tetap diucapkan, dilantunkan di berbagai penjuru dunia.
Selama tujuh abad itu pula, syair burdah lainnya tenggelam. Jika seseorang ditanya tentang al-Burdah, mereka akan serta merta melantunkan syair karya al-Bushiri ini. Setidaknya, mereka hafal bait ini: maulāya shalli wa sallim dā’iman abada, ‘alā habībika khayri l-khalqi kullihimi. Huwa l-habību l-ladzī turjā syafā‘atuhu, likulli haulin mina l-ahwāli l-muqtahimi.
Padahal ada syair Burdah yang lebih awal, gubahan Ka’b bin Zuhayr yang dilantunkan secara langsung di hadapan Nabi Muhammad Saw. Penamaan syair pujian kepada Nabi dengan istilah “burdah” juga tidak lepas dari sejarah syair Ka’b ini. Selepas melantunkan syair ini, Nabi melepaskan burdah-nya, lalu mengalungkannya kepada Ka’b.
Kurang populernya syair Ka’b hari ini, mungkin karena diksi-diksinya terasa asing di zaman kita. Selain itu, motif yang membelakangi digubahnya syair ini mungkin juga menjadi “faktor lain.” Ka’b, bagaimanapun adalah asy’ar al-syua’rā’ (penyair paling ulung). Sebelum masuk Islam, ia termasuk orang yang paling vokal menyerang Nabi dengan syair-syairnya.
Syair burdah Ka’b, adalah pujian yang digubah karena rasa takutnya akan hukuman. Jika boleh dibilang, syair itu lebih seperti bentuk klarifikasi atas perbuatan jahatnya di masa lalu. Dalam syairnya yang berjumlah sekitar 50-60 bait itu, dua per tiganya berisi kenangan akan kekasih yang mungkin adalah kiasan untuk dunia yang telah hilang darinya. Dunia dimana ia pernah menjadi bintangnya.
Dunia itu pun kemudian berbalik menghantamnya. Ia tak menemukan siapapun yang bisa melindunginya. Lalu ia menceritakan perjalanannya dalam panas dan sakit, yang mungkin adalah gambaran ketakutan dan kesepiannya, sampai akhirnya bertemu Nabi untuk meminta keamanan. Sepertiga bagian terakhir syairnya baru berisi permohonan maaf kepada Nabi atas celaan yang pernah dilontarkannya. Baru pada beberapa bait terakhir, ia memuji Nabi. Pun ketika ia memuji, metafora yang dipakai masih khas syair perang: Nabi digambarkan dengan pedang dan singa.
Bandingkan saja dengan Burdahnya al-Bushiri. Sejak awal, ia sama sekali tidak punya “kepentingan” untuk keuntungan dirinya sendiri. Bahkan, pada masa al-Bushiri, apa yang dibuatnya ini saja sudah masuk kategori “tidak umum.” Sangat langka, seorang penyair menggubah syair sepanjang 160 bait, dan sama sekali tidak dipersembahkan untuk penguasa —khalifah, menteri, atau gubernur. Padahal, tidak ada ancaman apapun kepadanya, dan tidak pula hadir bongkahan emas untuknya.
Itulah kejanggalannya. Para penyair besar sebelum al-Bushiri biasanya hanya memuji mereka yang diharap pemberiannya atau perlindungannya. Biasanya, itu datang dari para penguasa mereka. Nama-nama besar seperti Jarir, al-Farazdaq, Basysyar, Abu Nuwas, Abu Tammam, Ibn al-Rumi, al-Buhturi, al-Mutanabbi, dan Abu al-Ala’, mereka semua tidak terekam menulis pujian khusus untuk Nabi.
Al-Farazdaq mungkin pernah memuji ahl al-bayt. Namun, pujian ini muncul karena ia ingin berlindung dari kemarahan Hisyam bin ‘Abd al-Malik bin Marwan. Ia memuji-muji Ali Zainal Abidin agar ada yang menjamin keselamatannya. Al-Kumait bin Zaid mungkin juga menyitir Nabi dalam syair-syair Hasyimiyahnya. Namun, pujian “seniat” dan setenar Burdah karya al-Bushiri, tidak pernah tercatat dari siapapun diantara mereka.
Krisis Zaman
Lantas apa yang sebenarnya mendorong al-Bushiri menulis syair ini? Ada sebuah kisah populer yang menceritakan bahwa saat itu ia sedang menderita lumpuh (mungkin stroke saat ini). Ia menggubah syair ini sebagai “wasilah” untuk kesembuhannya. Kemudian, ia bermimpi melihat Nabi Saw menyelimutinya dengan burdahnya. Sebangun dari tidurnya, ia sembuh seketika.
Kisah ini teramat masyhur, sampai-sampai banyak dari kita yang menelannya bulat-bulat. Kelumpuhan itu mungkin benar-benar terjadi kepadanya secara fisik. Namun, mungkin juga ini adalah kiasan. Kondisi umat Islam saat itu benar-benar lumpuh. Al-Bushiri hidup di Mesir antara tahun 1213 hingga 1295 M. Ketika ia berusia lima tahun, Perang Salib Kelima terjadi di pantai Mesir. Pasukan Salib mengepung Damietta dan melakukan pembantaian di sekitarnya selama tiga tahun tanpa henti. Al-Malik al-Kamil Muhammad, keponakan Salahuddin al-Ayyubi, akhirnya berhasil memukul mundur pasukan Salib dari Damietta. Saat itu, al-Bushiri baru berusia delapan tahun.
Kemenangan itu tidak bertahan lama. Ada kabar yang sampai ke Mesir bahwa pasukan Mongol berhasil melakukan ekspansi ke wilayah Persia. Mereka telah memporak-porandakan daerah Bukhara dan Samarkand. Al-Kamil ketakutan atas dua ancaman besar yang sedang mengintai umat. Di barat ada bangsa Franka (tentara Salib), dan di timur ada bangsa Mongol yang luar biasa bengis.
Al-Kamil akhirnya memilih berkompromi dengan bangsa Franka —yang kemudian akan menghapus semua jasa-jasanya. Ia menawarkan untuk menyerahkan Yerussalem. Rumah-rumah disana dibakar, benteng-bentengnya dibongkar. Semua diruntuhkan, kecuali masjid dan gereja. Yerussalem berhasil dikuasai oleh tentara Salib lagi, setelah dibebaskan oleh Salahuddin al-Ayyubi. Kejadian ini kemudian memicu terjadinya perang salib ke-6. Al-Bushiri, lagi-lagi, menyaksikannya. Saat itu, usianya menginjak 15 tahun.
Umat Muslim baru berhasil merebut Yerussalem ketika dipimpin al-Malik al-Salih Najm al-Din Ayyub. Saat itu, al-Bushiri sudah berusia 31 tahun. Namun, perebutan ini juga memicu perang salib selanjutnya —ke tujuh. Pasukan Salib dipimpin oleh raja Perancis, Santo Louis IX. Pasukan ini secara khusus menarget Mesir, yang menjadi pusat ekonomi dan militer umat Islam. Disana kembali terjadi pembantaian dan pembakaran, hingga sultan yang sakit akhirnya meninggal. Kairo, saat itu, bebas karena diselamatkan oleh sungai Nil yang airnya menenggelamkan perkemahan bangsa Franka di Mansoura. Umat Islam menang, dan raja Louis IX berakhir menjadi tawanan.
Menuju Kehancuran
Untuk kesekian kalinya, kegembiraan atas kemenangan itu tidak berlangsung lama. Ketika al-Bushiri berusia empat puluh lima tahun, ia menerima berita tentang bencana besar dari timur. Pasukan Mongol berhasil menginvasi Baghdad dan terjadi pembunuhan khalifah al-Mu’tashim Billah, khalifah Abbasiyah terakhir di Irak. Ratusan ribu penduduk kota itu dibantai, hanya dalam empat puluh hari.
Pembantaian itu semakin meluas. Tiba-tiba pasukan Mongol sampai di Damaskus dan Aleppo, lalu bersiap menuju Mesir. Bahkan, pada masa itu juga terdapat desas-desus bahwa pasukan Mongol akan “mampir” ke Hijaz untuk menghancurkan Haramain. Rumor ini tentu menggetarkan. Ia hadir seperti ancaman bagi penduduk Hijaz. Namun, ia juga mengancam seluruh umat Islam. Apa yang akan terjadi jika Haramain dihancurkan? Peradaban Islam mungkin akan hancur juga. Al-Quran terancam, Nabi terancam, ukiran-ukiran masjid, ilmu-ilmu, semuanya terancam hangus. Dengan begitu, Islam akan dilupakan dari dunia.
Sebelum mimpi buruk itu benar-benar terjadi, al-Bushiri menggubah Burdahnya. Ia memuji Nabi dengan sebaik-baik dan seindah-indah pujian. Ia mengabaikan kebiasaan penyair untuk memuji penguasa, demi mendapatkan perlindungan mereka. Para penguasa itu, dalam kondisi seperti ini, sama sekali tidak berguna. Bencana-bencana yang terjadi di Irak, Syam, Mesir, dan mungkin segera akan sampai Hijaz ini membuat mereka —para penguasa— tidak berdaya. Apa lagi yang bisa diharapkan, selain pertolongan dari Allah Swt?
Al-Bushiri melihat nama Nabi, risalahnya, Irak, Syam, Mesir, dan Hijaznya terancam akan dihapus oleh Franka atau Mongol. Maka ia menulis syair dengan harapan dapat menjaga nama dan risalah Nabinya. Ia sedang “bertawassul” dengan rasa cintanya kepada Nabi. Dengan syair itu, ia seperti sedang mengucap syahadat ketika denting pedang mengayun di hadapannya. Ia seperti sedang mencontoh Utsman bin Affan ketika ia memeluk mushafnya, entah untuk melindunginya, atau berlindung kepadanya.
Mungkin juga, syair ini adalah ungkapan “keputus asaan.” Seolah ia membayangkan kondisi seperti ini tidak akan terjadi seandainya Nabi hadir di tengah-tengah umat. Ia seperti merindukannya. Ingin menghadirkan Nabi di tengah carut marut itu, saat itu juga.
Kerinduan
Ya, Burdah anggitan al-Bushiri adalah bentuk keinginannya untuk meminta bantuan Nabi, sekaligus menemukannya. Maka bukan kebetulan jika kekasih-kekasih yang dirindukan al-Bushiri di pembuka syair, “jiran bi Dzi Salam” (tetangga-tetangga di Dzu Salam) —para penduduk sekitar Madinah al-Munawwarah— terasa samar. Ini mungkin ghazal untuk seorang wanita yang disebut dengan kata ganti orang ketiga jamak sebagai bentuk penghormatan, sesuai kebiasaan Arab. Bisa jadi juga, yang dimaksud adalah Nabi sendiri yang diekspresikan dengan kata ganti jamak sebagai bentuk pengagungan. Atau barang kali, Nabi dan para sahabatnya, atau seluruh generasi itu. Generasi terbaik umat ini, yang hidup mulia tanpa bangsa Franka dan Mongol.
Tentu bukan kebetulan pula, ketika ia menyebut tercampurnya kenikmatan dan rasa sakit setiap kali mengenang mereka. Lagi-lagi, bukan tanpa alasan pula, ketika rangkaian syair ini disusun bertahap sedemikian rupa. Naik sedikit demi sedikit sampai kenangan tentang Isra’ dan Mi’raj. Kemudian langsung disusul dengan pembahasan jihad. Seolah ini adalah mi’raj kedua, dari kerinduan menuju jihad. Dari tanah Hijaz, menuju al-Quds —Yerussalem— di Syam. Yerussalem dan jihad terhubung di dalamnya, sebagaimana benar-benar terhubung di zaman al-Bushiri hingga zaman-zaman setelahnya —sampai hari ini.
Setelah bab jihad, syair ini ditutup dengan bab permohonan syafaat dan doa.
Pulih
Tampaknya kisah mimpi burdah yang menyembuhkan kelumpuhan itu memiliki kebenaran historis. Al-Bushiri hidup cukup lama. Sehingga ia bisa melihat umat Islam pulih dari kelumpuhan yang menimpa mereka. Ia menyaksikan kepala-kepala pemimpin Mongol diarak di Kairo dan Damaskus setelah dikalahkan oleh al-Malik al-Muzaffar Saif ad-Din Qutuz di Ain Jalut, Palestina. Ia juga melihat kekalahan pasukan Salib di Antiokhia, di tangan al-Zahir Rukn ad-Din Baybars.
Ia pun mendengar kisah pengiriman utusan oleh al-Malik al-Asyraf Khalil bin Qalawun untuk meminta sisa-sisa pasukan Salib untuk keluar dari Akka, benteng terakhir mereka. Pasukan Salib mencoba menakut-nakuti utusan itu. Mereka memamerkan pasukan mereka di hadapannya, ribuan orang. Lalu, sang utusan itu menjawab dengan tenang: “Di penjara-penjara Kairo ada lebih banyak tentara kalian daripada yang kalian pamerkan di sini.”
Kemudian al-Bushiri akan mendengar, di usia tujuh puluh delapan tahun, kabar gembira tentang pengusiran pasukan Salib dari seluruh pantai, dan pembebasan Akka oleh al-Asyraf pada tahun 1291 M. Al-Bushiri akan melihat pula Khilafah Abbasiyah dilanjutkan di Mesir.
Bersama mereka, dibawa pula burdah Nabi ke Kairo. Burdah yang pernah berikan kepada Ka‘b bin Zuhayr. Burdah yang dilihat al-Būṣīrī dalam mimpi ketika Nabi menyelimutkannya hingga sembuh dari lumpuh. Burdah yang pernah dibeli Mu‘āwiyah, lalu diwarisi khalifah-khalifah generasi demi generasi. Ia selamat dari Mongol dan Salib, disimpan di Kairo lebih dari dua setengah abad, lalu dipindahkan ke Istanbul oleh Bani ‘Utsmān. Hingga kini masih terjaga di sana.
Maka terbukti benar mimpi sang penyair, dan yang dipuji menganugerahinya lebih dari sekadar kesembuhan:
ومن تكن برسول الله نصرته … إن تلقه الأسد في اجامها تجم
ولن ترى من وليّ غير منتصر … به ولا من عدوّ غير منقصم
“Barang siapa mendapat pertolongan Rasulullah, meski singa mengepungnya di hutan, ia akan menang. Tak ada wali yang tidak ditolong dengannya, dan tak ada musuh yang tidak dikalahkan dengannya.”
Maksudnya, bagaimana mungkin orang-orang kafir tidak gentar menghadapi para pahlawan itu, sementara mereka ditolong oleh doa Nabi? Barang siapa berada dalam keadaan demikian, tak ada sesuatu pun yang dapat menakutinya. Bahkan singa-singa, bila ia hadapi di sarangnya, akan terdiam karena wibawanya. Dan sejauh apa pun engkau mencari, tidak akan pernah kau temukan seorang mukmin yang beriman kepadanya (Nabi Muhammad Saw) dan membenarkan syariatnya, kecuali pasti menang secara nyata atas selainnya. Dan engkau tidak akan pernah menemukan seorang yang ingkar kepadanya dan menolak syariatnya, kecuali akan berakhir dengan kecewa dan merugi.
Maulāya shalli wa sallim dā’iman abada, ‘alā habībika khayri l-khalqi kullihimi.
Tabik,
Ibnu
* Sebagian konten disarikan dari acara Ma’a Tamim yang dibawakan oleh Tamīm al-Barghūṡī di kanal AJ+

Tinggalkan komentar