Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Orang Pelit Tidak Akan Masuk Surga

Dalam Ihya’ karya Imam al-Ghazali, disebutkan sebuah riwayat yang berbunyi:

لا يدخل الجنة شحيح ولا بخيل

Tidak akan masuk surga orang yang kikir dan bakhil.

Ungkapan ini pendek, tapi isinya “ngeri.” Kalau dipikir-pikir, bukankah pelit itu hanya enggan memberi saja? Tentu jauh jika dibandingkan dengan dosa-dosa besar seperti membunuh, berzina, atau mencuri. Tidak ada apa-apanya. Kenapa kok sampai orang pelit ini bisa divonis tidak masuk surga?

Pelit, dengan berbagai penyebutannya, sebenarnya termasuk kezaliman yang halus. Biasanya, orang pelit suka menahan sesuatu yang semestinya bisa ia salurkan kepada orang lain. Ia menutup aliran kebaikan. Bahkan juga menutup pintu rezeki yang seharusnya bisa mengalir lebih luas. Maka, pelit bukan lagi sekedar “enggan memberi,” tapi juga “menghalangi” hak orang lain.

Kita bisa membayangkan jika sifat seperti ini menguasai masyarakat. Apa yang akan terjadi? Tidak ada yang mau berbagi. Semua orang menjadi egois, hanya peduli pada dirinya sendiri. Kepedulian sosial hilang. Tolong-menolong akhirnya juga hanya akan menjadi slogan. Perputaran ekonomi-pun akan seret. Akhirnya, yang kaya akan semakin kaya. Dan yang miskin akan semakin miskin.

Pelit disini tidak mesti terbatas pada sikap tidak mau memberi saja. Tapi juga meliputi menahan diri dari membelanjakan hartanya untuk nglarisi pedagang-pedagang di sekitarnya. Seolah tidak rela jika orang lain mendapatkan keuntungan darinya, meskipun kecil. Inilah yang akan membuat macet perputaran ekonomi dalam lingkup sosial.

Makanya, dalam versi lengkap riwayat diatas, disebutkan dahulu bahwa Rasulullah Saw bertanya: “Apakah kalian mengatakan orang yang kikir lebih ringan dosanya daripada orang zalim? Padahal tidak ada kezaliman yang lebih besar di sisi Allah selain sifat kikir.” Lalu beliau bersumpah dengan keagungan Allah, bahwa orang yang kikir dan bakhil tidak akan masuk surga.

Pelit dalam riwayat ini disebutkan dengan dua istilah, al-syaḥīḥ dan al-bakhīl. Al-syaḥīḥ adalah ṣifah musyabbahah dari kata al-syuḥḥ. Maksudnya, ini adalah sifat yang menetap, tidak terikat oleh waktu lampau, kini, ataupun masa depan. Abū al-Ma‘ānī dalam al-Muntahā bahkan menerangkan bahwa al-syuḥḥ adalah bakhīl disertai rasa rakus. Jadi, al-syaḥīḥ adalah sifat kikir yang melekat pada seseorang, yang lebih kuat dari sifat bakhīl (pelit).

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan bahwa umumnya kata bukhl dipakai untuk hal-hal yang bersifat parsial (perkara kecil tertentu), sedangkan syuḥḥ bersifat umum, seperti sifat bawaan yang melekat dan datang dari tabiat. Lalu, Abū Isḥāq al-Ḥarbī dalam kitabnya Gharīb al-Ḥadīṡ menyebutkan tiga jenis makna al-syuḥḥ: mengambil harta saudaramu tanpa hak, menolak zakat dan menyimpan harta haram, serta kikir.

Makna-makna ini seluruhnya mengindikasikan bahwa al-syaḥīḥ dan al-bakhīl adalah dua sifat yang berbeda: al-syaḥīḥ lebih parah dari al-bakhīl.

Qāḍī ‘Iyāḍ mengomentari: “Hadis ini mendorong kita menjauh dari sifat kikir, meninggalkan kehinaan budi, membiasakan diri dermawan, ringan memberi, dan terbuka tangan dalam berbagi.”

Lalu, bagaimana agar kedua sifat ini tidak menetap dalam diri kita? Abū Isḥāq al-Ḥarbī menyebutkan sebuah riwayat:

برىء من الشُّح من أدّى الزَّكَاة وقرى الضَّيْف واعطى فِي النائبة

“Seseorang terbebas dari syuḥḥ jika ia menunaikan zakat, menjamu tamu, dan memberi pada saat bencana.”

Secara umum, kebalikan dari sifat “pelit” ini adalah sakhā’ (dermawan) dan samāhah (murah hati). Inilah akhlak yang banyak dipuji dalam al-Qur’an dan hadis. Bahkan Allah Swt berfirman:

وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Setidaknya, ayat ini menunjukkan bahwa keberuntungan di dunia dan akhirat bergantung pada sejauh mana kita bisa mengalahkan sifat pelit itu.

Para sahabat Nabi Saw mencontohkan hal ini dengan luar biasa. Abu Bakr al-Ṣiddīq ra memberikan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. ‘Umar bin al-Khaṭṭāb ra membawa separuh dari miliknya. ‘Utsmān bin ‘Affān ra membiayai pasukan perang Tabuk dengan jumlah yang fantastis. Ini tidak lain adalah simbol bahwa mereka tidak mau dikuasai oleh sifat “pelit.”

Pelit, bagaimanapun juga, sebenarnya justru mempersempit hidup kita. Kita sibuk menjaga apa yang kita miliki, takut berkurang, takut hilang. Padahal, harta itu pada akhirnya akan pergi juga—entah dengan dibelanjakan, dihibahkan, atau diwariskan. Maka, sudah seharusnya kita memperhatikan “ancaman” ini. Toh, harta dan kepemilikan apapun tidak pernah benar-benar bisa menentukan kemuliaan kita, apalagi untuk membeli kapling surga.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts