Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Antara Kesedihan dan Kegembiraan

Tidak ada yang lebih melelahkan selain hidup yang mudah goyah oleh keadaan. Hari ini kita berduka, besok kita berbangga, lusa kita kecewa lagi. Seolah-olah perasaan kita ditentukan oleh kabar baik dan buruk yang datang.

Mungkin kita merasa telah mempersiapkan segalanya sebaik mungkin.  Rencana disusun, ada juga skenario cadangan, dan doa pun tidak lupa dipanjatkan. Tapi tetap saja, ada celah yang tak bisa kita kendalikan. Ada saja tamu tak diundang yang datang tiba-tiba. Entah itu nantinya akan membuat kita bahagia, atau justru malah bermuram durja.

Tapi inilah hidup. Selalu ada pasang surutnya. Mustahil jika hidup kita akan selalu bahagia. Mustahil pula jika selamanya kita akan menderita. Pasti kita akan mengalami keduanya, silih berganti.

Kita pun perlu proporsional ketika menghadapi keduanya. Ketika sedang didera penderitaan, kita tidak perlu terlalu larut dalam kesedihan. Ya, sedih boleh, tapi seperlunya dan sewajarnya saja. Pun demikian ketika sedang berbahagia, kita perlu berbahagia sepantasnya saja. Tidak perlu sampai “mabuk kepayang” sampai lupa segalanya. Semua ada waktunya, semua ada masanya.

Allah Swt berfirman:

مَاۤ أَصَابَ مِن مُّصِیبَة فِی ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِیۤ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِی كِتَـٰب مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَاۤۚ إِنَّ ذَ ٰ⁠لِكَ عَلَى ٱللَّهِ یَسِیر ۝٢٢ لِّكَیۡلَا تَأۡسَوۡا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوا۟ بِمَاۤ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَال فَخُورٍ ۝٢٣

“Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauhulmahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah. (Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Al-Ḥadīd (57): 22-23]

Ayat ini turun dalam rangkaian panjang yang sebelumnya menyebut tentang jihad, syuhada, dan hakikat dunia. Setelah berbicara tentang keutamaan orang yang berjuang dan janji pahala bagi syuhada, Al-Qur’an menyelipkan peringatan bahwa kehidupan dunia hanyalah “mata‘ al-ghurūr” — kesenangan yang menipu. Dari situlah konteks ayat ini bisa dipahami, bahwa musibah dalam jihad, kehilangan harta, rasa lapar, tertawan, hingga bencana alam, semuanya tidak lepas dari takdir Allah.

Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa terkadang musibah itu bersifat umum dan kolektif ( al-ar). Kadang pula, ia bersifat personal (anfusikum). Musibah yang bersifat umum bisa berbentuk kekeringan, banjir, kematian hewan ternak, atau kerusakan harta benda. Sementara musibah yang bersifat personal bisa berbentuk sakit, kehilangan orang tercinta, ditawan, bahkan kematian diri sendiri. Allah Swt menyebut —misalnya— “muībat al-mawt” [QS al-Mā’idah (5): 106] sebagai salah satu contoh paling nyata.

Ketika musibah umum terjadi, kita masih bisa menanggungnya bersama orang lain. Tetapi ketika musibah personal menimpa, kita merasakannya sendiri. Rasa sakit, kehilangan, dan duka menjadi pengalaman yang melekat pada diri. Oleh sebab itulah, kalimat penafian-nya diulang sebelum menyebutkan lafal anfusikum. Musibah personal memang terasa lebih berat ketimbang musibah umum.

Namun, kedua jenis musibah itu semua telah digariskan. Kejadian-kejadian itu telah tertulis dalam kitāb. Inilah ilmu Allah yang tidak berubah, tidak mungkin salah, dan tidak mungkin batal pula. Artinya, segala sesuatu di dunia ini terjadi berdasarkan keteraturan sistem sebab-akibat yang telah ditentukan. Bukan semata-mata terjadi begitu saja, apalagi kebetulan. Maka, apa saja yang kita alami, hakikatnya adalah bagian dari takdir yang telah tertulis sebelum “nabra’ahā”—sebelum bumi dan manusia ini diciptakan.

Hal ini sekaligus menjadi bantahan terhadap kaum musyrik dan munafik yang berkata, “Kalau saja mereka tidak berangkat, mereka tidak akan mati” [QS. Āli ‘Imrān (3): 156]. Ayat ini tegas menolak keyakinan semacam itu. Kematian, kemenangan, kekalahan, semua berjalan dalam skenario yang sudah ditetapkan Allah. Bukan berarti manusia bebas dari tanggung jawab. Kita tetap perlu berusaha sekuat tenaga, tapi hasil akhirnya kita kembalikan kepada takdir yang sudah ditulis.

Lalu, apa gunanya berusaha jika ternyata semua telah ditentukan? Rasulullah sendiri pernah ditanya hal yang sama oleh para sahabat. Beliau menjawab:

اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya.” [HR. al-Bukhārī dan Muslim].

Nabi tetap memerintahkan kita untuk berusaha. Karena takdir tidak meniadakan usaha, justru usaha itu sendiri adalah bagian dari takdir yang sedang berjalan.

Sekali lagi, kita perlu melihat bagaimana Allah Swt telah mengatur dunia dengan hukum sebab-akibat. Tidak ada ilmu tanpa belajar, tidak ada panen tanpa menanam, dan seterusnya. Usaha adalah bagian dari sunnatullah yang memang menjadi jalan bagi takdir itu untuk terwujud.

Dengan begitu, yang tertulis di kitāb bukan hanya hasil akhir, tapi juga jalan-jalan yang akan dilalui menuju hasil itu. Usaha kita, doa kita, kerja keras kita, semuanya sudah termasuk dalam skenario itu. Maka ketika kita berusaha, sebenarnya kita sedang berjalan di jalur yang memang sudah Allah tetapkan, meski kita tidak tahu di mana ujungnya. Pun sebaliknya ketika kita tidak berusaha, kita juga sedang menapaki takdir-Nya.

Oleh sebab itulah kita perlu menanam sebab sebaik mungkin, lalu kita tetap bersiap kalau-kalau ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Kalau berhasil, ya kita syukuri tanpa perlu bersombong. Kalaupun gagal, kita juga bisa menerimanya tanpa perlu merasa hancur berkeping-keping. Bagaimanapun, keduanya —hasil dan jalan— sudah ditetapkan oleh Allah Swt.

Itulah pesan penting yang juga diungkapkan oleh ayat ini: “likay lā ta’saū ‘alā mā fātakum walā tafraḥū bimā ātākum.” Allah sedang mendidik hati kita agar tidak larut dalam kesedihan atas apa yang hilang, dan tidak terlalu bergembira dan berbangga atas apa yang didapat. Maka, ayat ini ditutup dengan kalimat “wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr” — Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts