Tidak sedikit orang yang merasa terjebak dalam masa lalu mereka sendiri. Sebagian mungkin bergumam, “Dosa saya sudah terlalu banyak, percuma kalau ingin berubah.” Ada pula yang akhirnya memilih pasrah dalam apatisme, seolah-olah pintu kebaikan sudah terkunci rapat untuk mereka. Perasaan ini mirip dengan orang yang sedang tenggelam lalu berhenti berenang, padahal ombak masih memungkinkannya untuk menepi.
Al-Qur’an menggambarkan situasi batin seperti ini dengan cara yang menakjubkan. Setelah sederet ayat ancaman yang membuat hati gentar, Allah justru menurunkan firman yang menjadi oase di tengah padang keputusasaan:
قُلْ يا عِبادِيَ الَّذِينَ أسْرَفُوا عَلى أنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِن رَحْمَةِ اللَّهِ إنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إنَّهُ هو الغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Zumar: 53)
Biasanya, istilah “hamba-Ku” digunakan untuk menyapa orang-orang beriman. Namun dalam ayat ini, Allah justru memakai panggilan itu untuk mereka yang asrafū ‘alā anfusihim—yang berlebihan dalam dosa dan maksiat. Ibn ‘Āsyūr menyebutkan dalam tafsirnya bahwa Allah sengaja membuka jalan harapan, bahkan kepada musyrikin Quraisy yang telah membunuh, berzina, dan menentang risalah Nabi Saw.
Inilah pelajaran pentingnya. Identitas sebagai hamba Allah ternyata tidak hilang hanya karena seseorang sedang bergelimang dosa. Seburuk apa pun keadaan seorang manusia, Allah tetap memanggilnya dengan panggilan penuh kasih “yā ‘ibādī.”
Janji Ampunan yang Total
“Inna Allāha yaghfiru al-dhunūba jamī‘an”—Allah mengampuni dosa semuanya. Redaksi ini bersifat mutlak. Mencakup semua dosa, besar maupun kecil, berat maupun ringan.
Riwayat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī menyebutkan bahwa sekelompok orang Quraisy datang kepada Nabi Saw dengan berbagai kegelisahan. Mereka pernah membunuh banyak orang dan berzina, lalu bertanya apakah masih ada ampunan untuk mereka? Maka turunlah ayat ini. Hisyām bin al-‘Āṣ yang sempat murtad pun kembali berkat ayat ini.
Kesalahan manusia, sebesar apapun, bahkan yang tampaknya mustahil akan diampuni, tetap bisa terhapus. Selama ia benar-benar bertaubat dan kembali kepada-Nya.
Pesan utama dalam ayat ini cukup bisa menjadi penawar bagi dua kutub ekstrem yang sama-sama berbahaya. Pertama, mereka yang putus asa karena merasa dosanya terlalu besar dan tak mungkin diampuni. Kedua, mereka yang merasa aman sehingga menunda taubat dengan dalih bahwa Allah Swt maha pengampun.
Dua sikap ekstrem tersebut, bertentangan jauh dari spirit al-Qur’an. Cara yang benar untuk menyikapinya adalah dengan mengambil jalan pertengahan. Tidak terlalu “yakin” sampai-sampai meremehkan dosa. Tidak pula terlalu berputus asa sehingga enggan berusaha.
Disinilah perlunya optimisme. Optimis artinya berusaha sebaik-baiknya, kemudian mengharap hasil terbaik. Jika tidak mau berusaha, maka tidak bisa disebut optimis. Sikap ini adalah penolak wajah-wajah baru dari dua sikap ekstrem diatas. Boleh jadi ada yang berkata, “Saya memang begini, memang tidak bisa berubah.” Mungkin juga ada yang menutupi rasa bersalah dengan kalimat, “Sudahlah, toh semua orang juga berdosa.”
Maka, yang dimaksud dengan optimisme disini adalah sikap tidak menyepelekan dosa, sekecil apapun. Kalaupun sesekali kita lalai, kita tahu kemana jalan kembalinya. Karena kita sadar, bahwa rahmat Allah Swt selalu lebih luas dari dosa-dosa kita. Selama hidup masih berjalan, masih ada kemungkinan untuk menjadi lebih baik.
Ayat ini ditutup dengan firman-Nya “Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Ini adalah kalimat penegasan. Allah berkuasa mengampuni dosa sebesar apa pun, sebanyak apa pun, selama manusia mau kembali.
Rasulullah juga bersabda:
“Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.” (HR. Muslim)
Maka siapa pun yang pernah berlebihan dalam dosa, jangan sekali-kali merasa jalan kembali sudah tertutup. Pintu taubat tidak pernah dikunci. Semua kembali pada kita, apakah mau mengetuk dan membukanya atau tidak.
Sekali lagi, rahmat Allah selalu lebih besar dari dosa-dosa kita.
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar