Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Kriteria Pemimpin

Setiap kali membicarakan kriteria pemimpin, hampir selalu ada dua hal yang tak luput dari pembicaraan: keturunan dan kekayaan. Dua hal ini seolah menjadi kunci untuk mendapatkan kekuasaan. Siapa yang lahir dari keluarga tertentu, dianggap lebih pantas daripada selainnya. Siapa yang punya jumlah kekayaan tertentu, dianggap lebih layak untuk mengatur selainnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dua hal ini memang penting. Nasab dan harta sama-sama mampu mengangkat pamor seseorang. Kita melihat betapa banyak kekuasaan yang diturunkan, mulai dari kekuasaan besar hingga yang terkecil. Kita juga sering melihat bahwa ternyata kepemilikan harta melimpah juga bisa “merebut” tampuk kekuasaan.

Namun, apakah nasab dan harta bisa menjamin seseorang menjadi penguasa yang baik? Penguasa yang bisa memimpin dan mengayomi rakyatnya? Tunggu dulu. Belum tentu. Berapa banyak penguasa dunia yang mendapatkan kekuasaannya dengan dua hal ini dan mampu membuktikan kualitas kepemimpinannya? Sudah berapa kali kita “dikelabui” oleh dewan-dewan yang mengandalkan dua modal ini?

Sepertinya kita perlu membaca ulang kisah Ṭālūt, seorang pemuda dari Bani Israil yang ditunjuk oleh Allah untuk menjadi raja. Kaumnya tidak terima dengan keputusan ini. Sebagian dari mereka bahkan merasa lebih pantas menjadi raja. Karena apa? Karena mereka merasa lebih kaya daripada Ṭālūt. Kisah ini digambarkan dalam firman Allah Swt:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا ۗ قَالُوْٓا اَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ اَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِۗ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۗ وَاللّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْكَهٗ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana (mungkin) dia memperoleh kerajaan (kekuasaan) atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik.” Allah menganugerahkan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas (kekuasaan dan rezeki-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah (2): 247]

Kenapa Ṭālūt mendapatkan mandat untuk menjadi raja? Pertama, karena Allah Swt menunjuknya. Kedua, ada karakter khusus yang dimilikinya —yang merupakan anugerah Allah Swt. Karakter itu adalah kelebihan ilmu dan fisik —wa zādahū basah fī al-‘ilm wa al-jism.

Menurut Syaikh al-Ṭanṭāwī, yang dimaksud dengan basah fi al-‘ilm adalah keluasan pengetahuan, akal sehat, dan keteguhan berpikir lurus yang Allah berikan kepada Ṭālūt. Ia memiliki kecerdasan yang tidak dimiliki kaumnya. Inilah yang membuatnya pantas memimpin, meski tidak bergelimang harta.

Syaikh Ibn ‘Āsyūr memberikan keterangan yang lebih spesifik. Beliau menyebut bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu politik dan strategi perang. Seorang pemimpin harus bisa menimbang maslahat, mengambil keputusan pada situasi genting, dan memberi arah ketika musyawarah tidak menghasilkan kata sepakat. Karena itu, ilmu disebut lebih dahulu dalam ayat ini—sebagai tanda bahwa kebijaksanaan mendahului keberanian.

Lalu, karakter kedua yang tidak kalah penting adalah fisik. Fisik yang bagaimana? Syaikh al-Ṭanṭāwī menafsirkan basṭah fil-jism sebagai tubuh yang kuat, tegap, dan berwibawa. Kekuatan fisik dan postur yang meyakinkan memberi wibawa alami kepada pemimpin. Sedangkan Syaikh Syaikh Ibn ‘Āsyūr mengutarakan bahwa kekuatan jasmani diperlukan agar pemimpin sanggup bertahan dalam pertempuran, sehingga keteguhannya menular kepada pasukan. Jika pemimpin goyah, maka seluruh barisan akan goyah. Karena itu, basṭah fil-jism bukan sekadar tinggi badan atau rupa yang gagah, melainkan daya tahan, keberanian, dan kapasitas praktis untuk menanggung beban kepemimpinan. Kita bisa menyebutnya dengan kekuatan, baik yang bersifat fisik maupun mental.

Mengapa Bukan Harta?

Bani Israil menolak Ṭālūt karena ia dianggap miskin. Menurut Ibn ‘Āsyūr, ini adalah cerminan kesalahpahaman mereka tentang politik. Mereka mengira bahwa raja harus kaya agar bisa membiayai pasukan, memberi hadiah, dan menolong yang membutuhkan. Hal ini terhadi karena mereka terbiasa melihat raja-raja tetangga hidup dalam kemewahan. Sehingga mereka menyangka kemewahan adalah syarat mutlak untuk menjadi penguasa.

Namun nyatanya pesan dalam ayat ini menyangkal anggapan itu. Bukan harta yang dibutuhkan, namun kelebihan ilmu dan fisik. Dengan keduanya, kekayaan akan datang dengan sendirinya. Karena bagaimanapun, harta dalam suatu kekuasaan didatangkan dari rakyatnya.

Seandainya pun seorang raja memiliki kekayaan, maka kekayaan itu tidak akan cukup untuk mengurusi urusan-urusan kerajaan (negara). Maka, memang tidak perlu ada syarat untuk para pengurus kerajaan —raja dan pemerintah— untuk memiliki harta yang melimpah.

Sejarah pun membuktikan bahwa umat ini pernah dipimpin oleh Abu Bakar, Umar, dan Ali. Padahal mereka bukan orang-orang yang kaya raya. Kekayaan umat itu berada di Baitul Māl, dan darinyalah berbagai kemaslahatan umat ditegakkan, termasuk “menggaji” para pengurus kerajaan itu (pemerintah).

Imam al-Razi bahkan mengungkapkan:

Kedua sifat ini lebih kuat relevansinya dengan kelayakan memegang kerajaan daripada dua sifat sebelumnya (yakni harta dan keturunan). Hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa sisi:

  1. Ilmu dan kekuatan (fisik) termasuk kategori kesempurnaan yang hakiki, sedangkan harta dan kedudukan tidak.
  2. Ilmu dan kekuatan merupakan kesempurnaan yang melekat pada manusia, sementara harta dan kedudukan adalah dua hal yang terpisah dari dzat manusia.
  3. Ilmu dan kekuatan tidak mungkin dilucuti dari seseorang, sementara harta dan kedudukan bisa dicabut darinya.
  4. Orang yang memiliki ilmu tentang urusan peperangan dan memiliki kekuatan yang tangguh untuk berperang, keberadaannya jauh lebih bermanfaat dalam menjaga kemaslahatan negeri dan menolak kejahatan musuh, dibandingkan seorang kaya dari kalangan terpandang yang tidak memiliki ilmu dalam mengatur kemaslahatan dan tidak memiliki kekuatan untuk menolak musuh.

Maka, sudah selayaknya kriteria pemimpin dikembalikan pada dua unsur utama ini. Tanpa keduanya, kita akan terus-menerus terjebak pada praktik politik uang dan politik dinasti. Seandainya kita mau peduli, kita bisa menyaring calon-calon pemimpin kita. Kita bisa melihat latar belakang dan sepak terjangnya. Dari situlah kita bisa menilai sejauh mana ia memenuhi kriteria ilmu dan fisik yang telah disebutkan diatas.

Toh, jika ternyata tidak ada yang memenuhi dua kriteria itu bagaimana? Utamakan yang memiliki keluasan ilmu. Menurut Imam al-Razi, ada isyarat khusus mengapa Allah menyebutkan basṭah fi al-‘ilm terlebih dahulu ketimbang fī al-jism. Ini menunjukkan bahwa keutamaan-keutamaan jiwa itu lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih sempurna dibandingkan keutamaan-keutamaan yang sifatnya jasmani.

Bagaimanapun, ilmu adalah sesuatu yang harus diusahakan. Ia tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari proses panjang melalui belajar, merenung, melatih diri, dan mengasah kemampuan. Dengan ilmu itu, seorang pemimpin diharapkan mampu membaca zaman, memahami problem rakyat, dan mengambil keputusan yang bijak. Begitu pula dengan kekuatan —baik fisik maupun mental—yang juga tidak bisa dimiliki seketika. Dengannya, diharapkan hadir seorang pemimpin yang mampu menanggung beban, menghadapi ancaman, dan tidak mudah runtuh ketika situasi genting.

Barangkali, dengan kedua bekal ini. Seorang pemimpin bisa tahu ke mana ia akan membawa rakyatnya. Dan semoga Allah segera menganugerahkan kepada kita, pemimpin-pemimpin seperti Ṭālūt yang memiliki dua kriteria kepemimpinan itu. Āmīn.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts