Banyak orang keliru dalam membedakan antara irādah (kehendak) Allah dengan riḍā (keridaan)-Nya, juga dengan maḥabbah (cinta) dan masyi’ah (keinginan). Sekilas memang tampak serupa, tapi sebenarnya ini adalah hal-hal berbeda. Padahal, kesalahan memahami perbedaan itu bukan perkara kecil, karena dari sinilah banyak kekeliruan teologis berawal.
Nah, segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik yang kita sebut baik maupun buruk, semuanya terjadi dengan kehendak Allah. Tidak ada satu pun peristiwa yang luput dari irādah-Nya. Kehendak Allah berarti Allah melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, tanpa lupa, lalai, dan tanpa ada yang memaksa-Nya. Maka, setiap yang terjadi di alam raya ini adalah bagian dari qadar-Nya, termasuk hal-hal yang tidak disukai manusia. Itulah makna irādah, segalanya terjadi karena dikehendaki oleh Allah.
Benar bahwa segala kejadian yang terjadi di alam semesta ini adalah kehendak Allah, akan tetapi tidak mesti semua yang dikehendaki-Nya itu pasti di-riḍāi-Nya. Lalu, apa yang dimaksud dengan riḍā-Nya? Riḍā hanya berlaku pada hal-hal yang Allah perintahkan dan cintai, bukan pada yang dilarang-Nya. Allah tidak pernah meriḍāi kekufuran, meskipun kekufuran itu sendiri terjadi dengan kehendak-Nya. Dalam istilah lain, Allah menghendaki ia terjadi, tapi tidak meridai ia dilakukan.
Begini, ketika Allah menyesatkan seseorang, itu terjadi karena kehendak-Nya. Bagaimanapun, ketetapan dan kekuasaan-Nya sempurna, tidak ada yang menandinginya. Seandainya ada sesuatu yang diluar kehendak Allah, maka ada kekurangan dalam kesempurnaan-Nya. Dan itu mustahil bagi-Nya. Sehingga, bukan berarti Allah mencintai atau menyetujui kesesatan itu.
Allah hanya menyesatkan mereka yang memang memilih jalan kesesatan. Bukankah Allah sudah menjelaskan jalan terang dan jalan gelap? Sudah mengutus para rasul, menurunkan kitab, memberi akal, dan membukakan jalan petunjuk? Maka ketika seseorang tetap menolak semua itu, kehendak Allah hadir sebagai konsekuensi atas pilihan mereka sendiri.
Allah telah mengaruniakan manusia kemampuan untuk memilih. Manusia diberikan kebebasan untuk menentukan arah langkahnya. Maka, siapa mengarahkan pilihannya kepada hal-hal yang dicintai Allah, yang sejalan dengan syariat-Nya, maka Allah akan menuntunnya dan mempermudah urusannya. Namun, siapa yang membaca ayat-ayat Allah, mendengar seruan para rasul, mengetahui kebenaran tapi kemudian menyombongkan diri, menuruti hawa nafsu, dan menolak tunduk kepada perintah Allah — maka peringatan-peringatan Allah tidak lagi menyentuh hatinya.
Kadang Allah masih memberinya kesempatan untuk sadar sebelum kesempatan itu hilang. Tapi bila ia tetap keras kepala, tetap sombong, seperti kaum Nabi Nuh yang memilih lari dari kebenaran setelah Nabi Nuh menyeru kepada mereka siang-malam. Bahkan mereka menutup telinga, dan secara terang-terangan menolak seruan itu. Maka, pada saat itu Allah menetapkan kesesatan atasnya.
Ketika Allah menghendaki kesesatan bagi seseorang seperti Abū Jahl atau ‘Uqbah ibn Abī Mu‘īṭ, bukan berarti tanpa sebab. Mereka sendiri yang menolak kebenaran setelah mengetahuinya. Begitu pula orang-orang di masa kini yang berpaling dari Allah padahal tahu bahwa mereka berpaling — mereka pun terkena sebab yang sama: kesombongan, penolakan, dan pengabaian terhadap kebenaran yang sudah mereka ketahui.
Artinya, ada sebab-sebab yang bisa kita pilih. Kita bisa memilih sebab hidayah, atau justru menapaki sebab-sebab kesesatan. Seandainya kita menapaki sebab-sebab kesesatan, maka Allah akan menyesatkan kita dengan kehendak-Nya, tapi bukan dengan cinta atau riḍā-Nya. Dia menghendaki terjadinya kesesatan karena hukum kausalitas ilahiah menuntut demikian, namun Dia tidak mencintai atau menyetujui pilihan itu, sebagaimana firman-Nya:
وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَآ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّاۗ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ ࣖ
“Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Naml [27]: 14)
Dalam hal ini, tidak ada sedikit pun kezaliman dari Allah. Bahkan Allah telah berfirman secara jelas:
سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ وَاِنْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَاۚ وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۚ وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَانُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku). Jika mereka melihat semua tanda-tanda itu, mereka tetap tidak mau beriman padanya. Jika mereka melihat jalan kebenaran, mereka tetap tidak mau menempuhnya. (Sebaliknya,) jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.” (QS. Al-A‘rāf [7]: 146)
Ayat ini menegaskan prinsip bahwa kehendak Allah meliputi segalanya, tapi cinta dan keridaan-Nya hanya berpihak kepada kebenaran. Kekufuran, kemaksiatan, dan kesesatan adalah bagian dari apa yang Allah izinkan terjadi, bukan karena Dia menyukainya.
Sehingga, kalau ada yang bertanya, “Apakah Allah menghendaki kekufuran?” jawabannya: ya, dalam arti Allah menentukannya terjadi dalam qadar-Nya. Tapi jika pertanyaannya: “Apakah Allah mencintai kekufuran?” maka jawabannya: tidak. Allah tidak pernah mencintai atau meridai kekufuran itu.
Maka dapat dikatakan bahwa kehendak Allah bersifat menyeluruh, sedangkan cinta dan riḍā-Nya bersifat selektif. Dengan pemahaman ini, kita bisa menempatkan diri dengan benar. Bahwa segala sesuatu yang terjadi memang dengan kehendak Allah, tapi tidak semua mendapat restu-Nya.
Kita tidak mungkin keluar dari kehendak-Nya, tapi kita bisa memilih berada di dalam cinta dan riḍā-Nya.
Tabik,
Ibnu
* Disarikan dari kajian Syaikh Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi

Tinggalkan komentar