Pada suatu ketika, sekelompok orang Yahudi datang menemui Rasulullah Saw. Mereka mengucapkan salam, tapi dengan niat menghina. Alih-alih berkata “as-salāmu ‘alaikum” — “semoga keselamatan atasmu” — mereka memelintirnya menjadi “as-sām ‘alaikum”, yang berarti “semoga engkau mati.”
Kata itu terdengar hampir sama, tapi maknanya jauh berbeda. Ucapan itu dilontarkan bukan sebagai penghormatan, melainkan sebagai ejekan halus yang dibungkus kepura-puraan. Mereka tahu bahwa salam adalah tradisi Islam yang luhur, maka mereka memanipulasinya untuk mencemooh.
Sayyidah ‘Āisyah ra, yang kebetulan berada di sisi Rasulullah, langsung tersulut. Ia memahami betul maksud ucapan itu. Dengan spontan, ia membalas, “Wa ‘alaikum as-sām wa al-la‘nah!” — “Dan atas kalian kematian dan laknat!”
Ucapan itu keluar dengan nada tegas, penuh keberanian. Ia tidak ingin penghinaan terhadap Nabi berlalu begitu saja tanpa balasan.
Namun Rasulullah Saw, dengan ketenangan yang khas, menoleh kepadanya dan bersabda,
“Mahlan yā ‘Āisyah, innallāha yuḥibbu ar-rifqa fī al-amri kullihi.”
“Tenanglah, wahai ‘Āisyah. Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala urusan.”
‘Āisyah lalu berkata dengan heran, “Ya Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang mereka katakan?”
Beliau menjawab dengan tenang, “Aku sudah menjawab, wa ‘alaikum.”
Selesai. Tidak ada amarah, tidak ada kata tambahan. Hanya satu jawaban pendek yang sarat kebijaksanaan.
Inilah Nabi kita. Sosok yang akhlaknya sangat luhur, bahkan terhadap mereka yang mencacinya.
Dalam Fayd al-Qadīr, Imam al-Munawi menyebutkan bahwa hadis ini menunjukkan bahwa Allah Swt menyukai kelembutan hati dan perilaku. Apa maksudnya? Lemah lembut dalam ucapan, perbuatan, memilih cara yang paling mudah, dan menolak sesuatu dengan cara yang paling ringan.
Kelembutan ini berlaku pada segala urusan, fī al-amri kullihi. Baik itu urusan dunia, maupun urusan agama. Bahkan, termasuk dalam perlakuan seseorang terhadap dirinya sendiri. Kelembutan ini semakin ditekankan dalam berinteraksi dengan orang-orang yang sering kita temui, seperti istri, pelayan, dan anak.
Imam al-Munawi juga menukil sebuah pendapat bahwa yang dimaksud dengan rifq (kelembutan) adalah ḥusn al-inqiyād ilā mā yu’addī ilā al-jamīl, yaitu keindahan dalam mengikuti jalan yang mengantarkan kepada kebaikan.
Oleh sebab itulah, kita diharapkan dan diperintahkan untuk menjaga akhlak ini. Berlemah lembut, baik dalam bertutur maupun berperilaku. Tidak sembrono, tidak grusa-grusu. Dengan begitu, semoga kita bisa disukai oleh Allah Swt.
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar