Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Kaya dari Dalam

Ada cerita menarik dari Gus Mus yang saya tonton di Youtube. Beliau bercerita tentang dua kawan yang berbeda. Kawan pertama, seorang petani sederhana yang makan di galengan sawah. Menunya simpel: nasi, sambal, gereh (ikan asin), dan air dari kendi. Selesai makan, Alhamdulillahnya keras sekali sampai satu kampung kedengaran. Terlihat betul bahwa dia menikmati makanannya.

Sedangkan kawan kedua, seorang teman Gus Mus di Jakarta. Ia men-traktirnya di sebuah restoran mewah yang menunya sangat tebal seperti album pengantin. Pesanannya daging sapi impor dari Amerika seharga Rp 250.000,00 per porsi. Ketika datang, ukurannya hanya sebesar tangan, sangat kecil. Anehnya, daging itu pun tidak dihabiskannya. Setelah makan, si teman ini mengeluarkan segudang obat, untuk kolesterol, asam urat, dan macam-macam penyakit lainnya.

Pertanyaannya, siapa yang lebih kaya?

Kalau kita bicara secara materi, jelas orang kedua lebih kaya. Tapi kalau dilihat dari caranya menikmati hidup, petani di galengan sawah itu jauh lebih kaya. Ini yang disebut Gus Mus sebagai “kaya dari dalam.”

Kaya dari dalam itu bukan soal berapa banyak harta yang kita miliki. Ia soal tidak membutuhkan apa-apa lagi. Dalam bahasa Arab, kata “kaya” itu ghanī, artinya tidak butuh. Kalau kita punya rumah mewah, mobil bagus, tapi masih merasa butuh ini-itu, sejatinya kita masih miskin. Sebaliknya, kalau kita tidak punya apa-apa tapi tidak butuh apa-apa, kita sudah kaya.

Makanya, orang yang masih menimbun harta, masih mencari rumah kedua, masih ingin mobil baru, itu tandanya masih merasa butuh. Kebutuhan itu yang membuat dia terus mengejar kekayaan tanpa henti. Padahal, orang yang benar-benar kaya itu tenang. Tidak perlu apa-apa lagi. Mau tidur? Tinggal tidur. Mau nyimpan baju? Satu lemari sudah lebih dari cukup.

Ini bukan berarti kita harus hidup dalam kemiskinan. Ini tentang bagaimana kita memandang apa yang kita miliki. Kita boleh saja punya banyak, tapi jangan sampai hati kita menjadi budak dari yang kita miliki. Rumah gedung, mobil mewah, semua itu akan sia-sia kalau kita tidak bisa menikmatinya. Bahkan, sering kali yang menikmati justru orang lain. Rumah dengan fasad yang spektakuler misalnya, malah bisa dinikmati oleh orang-orang yang lewat. Kita sendiri tidak bisa menikmatinya, wong kita di dalam. Justru kita malah kepikiran dan sibuk dengan urusan perawatan sampai tagihan listrik.

Gus Mus juga mencontohkan soal berlian (perhiasan) yang dipakai oleh perempuan, misalnya. Ibu-ibu menghemat uang, lalu beli berlian mahal, dan dipasang di telinga. Tapi siapa yang menikmati? Dia sendiri tidak bisa melihat berliannya kecuali lewat cermin. Justru yang bisa menikmati adalah orang lain yang melihatnya. “Wah, berliannya bagus sekali.” Lalu si ibu tersenyum bangga. Padahal, dia sendiri tidak merasakan apa-apa.

Inilah yang disebut dengan menipu diri sendiri. Kita merasa kaya karena punya ini-itu, padahal kita tidak benar-benar bisa menikmati apa yang kita miliki. Kita terjebak dalam pola pikir bahwa kebahagiaan datang dari kepemilikan. Padahal, kebahagiaan justru berasal dari hati yang mudah merasa cukup.

Menurut Imam al-Ghazali, hati itu diibaratkan sebagai raja. Kalau hati bersih, semua anggota tubuh akan ikut bersih. Kalau hati sudah merasa cukup, semua kebutuhan akan terasa ringan. Hati itulah yang memegang komando, sedangkal lainnya akan mengikuti. Tapi kalau hati masih gelisah, masih haus akan pengakuan dan status, kita akan terus merasa kurang meski sudah punya banyak.

Makanya, cara kita memandang dunia ini juga penting. Rasulullah pernah mengibaratkan hidup di dunia seperti orang yang berteduh di bawah pohon sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Di hadis lain seperti orang yang menyeberang jalan. Sebentar, hanya lewat saja. Gus Mus bahkan mencontohkannya seperti orang yang menginap di hotel. Siapa yang mau mengecat ulang kamar hotel? Siapa yang mau mengganti perabotan hotel? Tidak ada, karena kita tahu sebentar lagi akan check out. Begitu juga dengan dunia. Kita hanya menumpang sebentar. Untuk apa repot-repot mengejar yang sifatnya sementara?

Hidup sederhana juga tidak mesti melarat. Sederhana itu tengah-tengah. Tidak berlebihan, tapi juga tidak kekurangan. Kalau kita hidup di tengah-tengah, kita tidak akan jauh dari siapa pun. Orang yang di atas tidak merasa kita jauhi, orang yang di bawah juga tidak merasa kita jauhi. Inilah yang disebut adil. Dan keadilan itu indah.

Indah itu ketika sesuatu berada pada tempatnya. Buah dada disebut indah ya karena tempatnya di dada, seloroh Gus Mus. Kalau tempatnya di dengkul, itu bukan indah lagi, itu aneh. Begitu juga dengan hidup. Kalau kita meletakkan sesuatu pada tempatnya, maka hidup akan terasa indah.

Lawan kata adil adalah zalim, yaitu ketika meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Kursi seharusnya untuk diduduki, bukan untuk dilempar. Rakyat seharusnya dihormati, bukan ditekan. Harta seharusnya digunakan dengan bijak, bukan untuk menimbun atau memamerkan status.

Pada akhirnya, kaya dari dalam itu soal hati yang merasa cukup. Tidak perlu banyak untuk bahagia. Tidak perlu mewah untuk merasa nikmat. Kita hanya butuh kesadaran bahwa segala yang kita miliki hari ini sudah lebih dari cukup. Dan ketika kita bisa merasakan itu, saat itulah kita benar-benar menjadi orang kaya.

Tabik,
Ibnu

* Disarikan dari apa yang disampaikan oleh Gus Mus via Youtube

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts