Ada satu hadis yang sangat masyhur, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi sallāllāhu ‘alayhi wasallam bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah (sempurna) iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
Ketika pertama kali mendengar hadis ini, banyak dari kita mungkin langsung berpikir pada hal-hal konkret. Misalnya, kalau kita punya rumah bagus, apakah kita harus berharap orang lain juga punya rumah bagus? Kalau kita dapat promosi jabatan, apakah kita harus senang kalau orang lain juga dapat promosi yang sama?
Kalau dipahami seperti ini, hadis ini memang terasa mustahil. Karena sifat dasar manusia memang cenderung ingin lebih unggul dari orang lain. Kita secara natural ingin punya keistimewaan tersendiri.
Tapi ternyata, pemahaman seperti itu keliru. Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam Fath al-Mubin menjelaskan bahwa yang dimaksud “saudaranya” dalam hadis ini adalah sesama Muslim. Artinya, kita mencintai kebaikan umum untuk mereka, bukan kebaikan yang bersifat spesifik dan personal. Maksudnya, kita senang jika saudara kita mendapatkan kebaikan demi kebaikan dalam hidupnya.
Contohnya begini: kita senang ketika mereka mendapat rezeki yang halal dan berkah, namun tidak mesti lewat rezeki kita sendiri yang kita bagikan kepada mereka. Kita juga berharap mereka mendapat kebahagiaan dalam hidup, tidak harus dalam bentuk kebahagiaan yang sama persis dengan apa yang kita rasakan. Kita ingin mereka selamat dari dosa dan maksiat, sebagaimana kita ingin diri kita sendiri selamat. Intinya, kita senang, bahagia, dan suka apabila saudara kita mendapatkan sesuatu yang seandainya kita mendapatkannya, kita pun akan senang, bahagia, dan bersuka cita.
Inilah yang dimaksud dengan “ma yuhibbu li nafsihi” (apa yang ia cintai untuk dirinya). Tidak harus identik, tapi serupa dalam jenis kebaikannya secara umum.
Menurut Imam Ibn Shalāh, hadis ini sebenarnya bisa dipenuhi dengan cara yang tidak terlalu sulit. Caranya adalah dengan mencintai agar orang lain mendapat kebaikan yang serupa dengan kebaikan yang kita terima, dari jalan yang tidak mengurangi kebaikan kita sendiri.
Artinya, kita tidak perlu khawatir bahwa kebaikan orang lain akan mengambil bagian dari kebaikan kita. Rezeki Allah itu luas. Tidak ada ruang untuk berkompetisi di sana. Semuanya sudah diatur secara presisi. Bukan berarti jika orang lain dapat kebaikan, kebaikan untuk kita jadi berkurang.
Ini yang sering kita lupakan. Kita terlalu sering melihat kehidupan seperti kue yang harus dibagi. Kalau orang lain dapat potongan besar, otomatis bagian kita jadi kecil. Padahal, rezeki dan kebaikan dari Allah tidak bekerja seperti itu.
Kalau kita sudah paham bahwa kebaikan orang lain tidak mengurangi kebaikan kita, seharusnya tidak ada alasan lagi untuk tidak senang melihat orang lain bahagia. Bahkan sebaliknya, kita akan merasa senang ketika melihat mereka mendapat kebaikan.
Lalu, kalau kita harus mencintai untuk orang lain sama seperti untuk diri sendiri, apakah tidak boleh jika kita punya keinginan untuk menjadi yang terbaik? Boleh-boleh saja. Bahkan, terkadang ini dianjurkan. Tapi dengan catatan, bukan karena ingin merendahkan orang lain atau ingin orang lain berada di bawah kita.
Rasulullah sallāllāhu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadis lainnya,
“Tidak boleh ada hasad (iri) kecuali dalam dua hal: seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan kebenaran, dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa boleh saja kita ingin seperti orang yang lebih baik dari kita. Ini disebut ghibthah (iri dalam makna positif), bukan hasad (iri yang merusak). Bedanya, ghibthah membuat kita termotivasi untuk berusaha lebih baik, sedangkan hasad membuat kita ingin kebaikan orang lain hilang.
Jadi, kalau ada teman kita yang rajin salat malam, kita boleh ingin seperti dia. Bahkan dianjurkan. Tapi dengan tetap mendoakan agar dia terus istiqamah, bukan malah berharap dia berhenti agar kita terlihat lebih baik.
Mengamalkan hadis ini pun tidak harus dengan cara yang muluk-muluk. Kita bisa memulainya dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita.
Seandainya ada teman yang sedang susah, tawarkan bantuan semampunya. Jika mungkin ada tetangga yang sedang sakit, kita bisa menjenguknya. Ketika ada saudara yang sedang bingung, kita juga bisa mendengarkan keluhannya. Semua ini adalah bentuk dari “mencintai untuk orang lain apa yang kita cintai untuk diri sendiri.”
Karena siapa sih yang tidak ingin dibantu ketika susah? Siapa yang tidak ingin dijenguk ketika sakit? Siapa yang tidak ingin didengarkan ketika bingung? Kepedulian, empati, dan simpati inilah bentuk paling sederhana dari pengejawantahan sabda Nabi sallāllāhu ‘alayhi wasallam di atas. Sehingga, perilaku suportif, dalam bentuk apapun —dalam kebaikan tentunya— termasuk dalam bentuk rasa cinta yang kita hadirkan kepada sesama, karena kita juga akan merasa senang seandainya mendapatkannya di waktu-waktu kita membutuhkannya.
Bahkan, bisa dipraktikkan dengan cara lain yang jauh lebih sederhana lagi. Misalnya ketika kita melihat ada orang yang berbuat baik, kita bisa memberikan support dalam bentuk mendoakannya. “Semoga Allah memberkahi usahanya. Semoga Allah menambah kebaikannya.” Doa seperti ini tidak mengurangi apa-apa dari kita, tapi bisa jadi sangat berarti bagi orang yang kita doakan.
Imam Ibn Hajar menyebutkan bahwa hadis ini lahir dari kesempurnaan hati yang bersih dari dengki, hasad, dan segala penyakit hati lainnya. Hati yang sehat adalah hati yang tidak merasa terancam dengan kebaikan orang lain.
Sebaliknya, hati yang sakit adalah hati yang gelisah ketika melihat orang lain bahagia. Ia merasa tersaingi, merasa sedang mendapatkan ketidak adilan, atau merasa bahwa dirinya kurang beruntung.
Padahal, kebahagiaan orang lain tidak seharusnya membuat kita sedih. Justru, kalau kita benar-benar beriman, kita akan senang melihat saudara kita mendapat kebaikan. Karena kita paham bahwa pada hakikatnya kebaikan mereka tidak mengurangi kebaikan kita.
Lebih dari itu, kebaikan orang lain sebenarnya juga bisa menjadi kebaikan bagi kita. Umpama lingkungan kita dipenuhi orang-orang baik, hidup kita juga secara otomatis akan lebih baik. Kalau orang-orang di sekitar kita makmur, kita juga akan merasakan dampaknya. Kalau masyarakat kita damai, kita jugalah yang akan menikmati kedamaian itu.
Meskipun dalam hadis disebutkan “saudaranya” yang merujuk pada sesama Muslim, bukan berarti kita tidak peduli sama sekali pada non-Muslim. Imam Ibn Hajar menyinggung bahwa sebaiknya kita juga mencintai kebaikan untuk mereka, yaitu agar mereka mendapatkan hidayah Islam.
Ini masuk akal. Karena Islam adalah kebaikan terbesar yang bisa kita harapkan untuk siapa pun. Jadi, ketika kita mendoakan agar seseorang mendapat hidayah, itu juga termasuk bentuk mencintai kebaikan untuk mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap baik kepada siapa pun—termasuk non-Muslim—adalah bagian dari akhlak Islam. Kita tetap berlaku adil, tidak menzalimi, dan membantu siapa pun yang membutuhkan, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Maka sudah sepantasnya kita melapangkan hati. Tidak perlu mudah iri, dengki, merasa tersaingi, dan pelit dengan kebaikan. Hati yang lapang adalah hati yang tenang dan menenangkan. Ia tidak akan gelisah ketika melihat orang lain bahagia. Ia pun tidak akan stres ketika harus melihat orang lain sukses.
Hati yang lapang adalah hati yang senang melihat kebaikan tersebar di mana-mana. Karena ia paham bahwa semakin banyak kebaikan di dunia ini, semakin baik juga kehidupan kita semua. Itulah kenapa mencintai kebaikan untuk orang lain adalah salah satu tanda sempurnanya iman kita. Apa sih yang lebih indah dari komunitas yang suportif pada hal-hal baik?
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar