Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Lima Medan Peperangan yang Diringankan di Bulan Ramadan

Setiap manusia, disadari atau tidak, sedang berperang di lima medan sekaligus. Ini bukan perang dengan senjata dan pasukan, tetapi perang yang jauh lebih berbahaya karena lawannya tidak terlihat dan medannya ada di dalam diri sendiri. Lima medan ini terus aktif sepanjang tahun, menguras energi, menggerus iman, dan melelahkan jiwa. Namun di bulan Ramadan, Allah memberikan pertolongan khusus untuk menghadapi kelimanya.

Medan Pertama: Nafsu

Nafsu adalah musuh yang paling dekat. Ia tinggal di dalam diri, tidak pernah tidur, dan selalu menuntut. Sifat dasarnya adalah taṭfīf—ingin mengambil semua haknya tanpa kurang sedikit pun, tetapi enggan menunaikan hak orang lain dengan sempurna. Allah memperingatkan dalam al-Qur’an:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ۝ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

“Celakalah bagi orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan—yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. al-Muthaffifin [83]: 1-3)

Ayat ini berbicara tentang takaran dan timbangan dalam jual beli. Namun substansinya jauh lebih luas. Nafsu manusia memang cenderung seperti itu dalam segala hal—menuntut lebih untuk dirinya, memberi kurang untuk orang lain.

Di bulan Ramadan, Allah menolong hamba-Nya menghadapi nafsu ini dengan cara yang sangat efektif: memutus pasokannya. Ketika nafsu tidak lagi mendapat pasokan makanan, minuman, dan kesenangan yang biasa dinikmatinya, ia melemah. Dan ketika ia melemah, jiwa memiliki ruang untuk berpaling kepada Allah. Banyak hal yang terasa mustahil di luar Ramadan tiba-tiba menjadi mungkin. Jadi, perasaan mampu beramal secara lebih di bulan ini bukan disebabkan oleh bertambahnya waktu, tetapi karena penghambatnya berkurang.

Medan Kedua: Setan

Iblis telah bersumpah untuk menyesatkan manusia. Ia datang dari segala arah—depan, belakang, kanan, dari kiri, atas, dan bawah. Allah mengabarkan bahwa sumpahnya ini terbukti pada kebanyakan manusia:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sungguh, Iblis telah membuktikan kebenaran prasangkanya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang yang beriman.” (QS. Saba’ [34]: 20)

Melawan setan adalah pertempuran yang melelahkan karena ia tidak pernah berhenti mencari celah. Namun di bulan Ramadan, Allah memberikan pertolongan luar biasa dengan membelenggu para pemimpin setan. Nabi ﷺ bersabda bahwa di awal malam Ramadan, setan-setan dan jin-jin yang paling kuat (maradah) dibelenggu. Mereka adalah para jenderal dan komandan dalam pasukan Iblis.

Analoginya seperti sebuah pasukan yang seluruh perwiranya ditangkap dan dipenjarakan. Sehingga hanya tersisa prajurit-prajurit baru yang tidak memiliki keahlian dan tanpa ada yang mengarahan. Godaan memang masih ada di bulan Ramadan, tetapi bukan dari para ahlinya, yang menggoda hanyalah setan-setan lemah yang mudah dilawan.

Medan Ketiga: Teman yang Buruk

Tidak semua orang yang kita sebut teman benar-benar bermanfaat. Secara garis besar, ada tiga jenis teman. Pertama, teman yang seperti makanan, yang kita tidak bisa hidup tanpanya. Ia adalah orang yang mengingatkan kita kepada Allah, mengajarkan apa yang tidak kita ketahui, dan mengajak berlomba dalam kebaikan. Allah memerintahkan kita untuk selalu bersama mereka:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. al-Kahfi [18]: 28)

Teman seperti ini mengangkat kita tanpa harus berkata-kata. Cukup dengan melihat keadaannya, kita sudah terdorong untuk menirunya.

Kedua, teman yang seperti obat, yang dibutuhkan kadang-kadang, tidak setiap saat. Ia membantu urusan dunia, bukan urusan agama. Kita berhubungan dengannya seperlunya saja. Orang yang sehat tidak pergi ke apotek untuk membeli obat dan meminumnya tanpa alasan kan?

Ketiga, teman yang seperti penyakit, yang tidak bermanfaat untuk agama maupun dunia. Ia hanya menghabiskan waktu dan menyebarkan pengaruh buruk. Allah menggambarkan penyesalan orang yang berteman dengan jenis ini di hari kiamat:

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ۝ لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي

“Wahai, celakalah aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan fulan sebagai teman karib. Sungguh, ia telah menyesatkanku dari peringatan ketika peringatan itu telah datang kepadaku.” (QS. al-Furqan [25]: 28-29)

Di bulan Ramadan, Allah menolong kita menghadapi jenis ketiga ini dengan cara yang seorganik mungkin, yakni dengan mengarahkan kita pada kesibukan beribadah. Mereka tidak akan datang mengganggu di siang hari karena tahu kita sedang berpuasa, dan tidak akan muncul di malam hari karena tahu kita sedang di masjid. Ramadan secara otomatis menciptakan jarak yang sehat antara kita dan teman-teman jenis ini.

Medan Keempat: Dunia

Dunia adalah pesaing akhirat. Semakin banyak seseorang tenggelam di dalamnya, semakin sedikit perhatiannya kepada kehidupan setelahnya. Nabi ﷺ memperingatkan:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُهُ عَلَيْكُمْ مَا سَتَجِدُونَ بَعْدِي مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah apa yang akan kalian temukan sepeninggalku berupa keindahan dunia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dunia itu hijau dan manis. Ia menarik mata dan menggoda hati. Siapa yang mengikutinya, matanya akan selalu tertuju pada apa yang belum dimilikinya. Padahal kebanyakan dari apa yang dikejar manusia, ketika sudah tercapai, ternyata tidak seistimewa yang dibayangkan.

Dikisahkan bahwa seorang hamba datang kepada Nabi Sulaiman ‘alaihis-salam dan berkata: “Hari ini aku hanya makan setengah butir kurma.” Lalu ia berkata: “Fa ‘alā al-dunyā al-‘afā’“—semoga dunia ini tertutup debu. Maksudnya, dunia hanya berguna untuk memenuhi kebutuhan pokok saja. Lebih dari itu, ia tidak ada gunanya.

Di bulan Ramadan, Allah menolong kita melihat hakikat ini. Dengan berpuasa, kita membuktikan pada diri sendiri bahwa kita bisa hidup dengan jauh lebih sedikit dari yang kita sangka. Dan bukti paling nyata dari terlepasnya ikatan hati dengan dunia adalah kemudahan dalam berderma. Ibn ‘Abbas menggambarkan bahwa Nabi ﷺ di bulan Ramadan lebih dermawan dari angin yang berhembus. Orang yang hatinya masih terikat dengan dunia akan sulit memberi. Sedangkan orang yang hatinya sudah bebas, tangannya akan sangan mudah terbuka lebar.

Medan Kelima: Ambisi Pribadi

Setiap manusia memiliki keinginan dan cita-cita. Namun kebanyakan dari apa yang dikejarnya, ketika tercapai, ternyata biasa saja. Dan kebanyakan dari apa yang ditakutinya tidak pernah terjadi. Semua sudah ditentukan. Apa yang ditakdirkan akan sampai meskipun ia tidak berusaha keras. Apa yang tidak ditakdirkan tidak akan mampu untuk diraih, meskipun ia mencurahkan seluruh tenaganya.

Di bulan Ramadan, Allah mengalihkan perhatian kita dari ambisi-ambisi duniawi kepada ambisi yang jauh lebih besar: pembebasan dari neraka, pengampunan dosa, dan keridhaan Allah. Prioritas dan agenda pun berubah. Orang-orang beriman memahami bahwa bulan ini adalah ajang kompetisi terbuka untuk meraih ridha Allah, dan mereka tidak ingin kalah dalam kompetisi ini.

Siapa yang menyerahkan berkas lengkap—taubat yang sungguh-sungguh, hubungan baru dengan al-Qur’an, niat yang diperbarui, dan kesungguhan dalam beribadah—ia layak untuk menang. Siapa yang menyerahkan berkas tidak lengkap, ia hanya akan ditolak dan pulang dengan tangan hampa.

Lima medan perang dengan lima bentuk pertolongan Allah di dalamnya. Ramadan adalah bulan di mana Allah meringankan beban hamba-Nya dari segala arah. Semua ini adalah rahmat. Semua ini adalah kemudahan. Maka, mari kita memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts