Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Move-On dari Kebiasaan Buruk

Move-on dari kebiasaan buruk memang tidak mudah. Saya sering mengalaminya, dan mungkin kita semua juga begitu. Contoh sederhananya: begitu bangun tidur, tangan otomatis meraih HP. Bangun tidur yang seharusnya menyegarkan, malah molor setengah sampai satu jam. Kadang suasana hati pun rusak sebelum hari benar-benar dimulai, hanya karena satu-dua informasi “nylekit” yang kita terima.

Kesadaran bahwa kebiasaan ini buruk sebenarnya sudah ada. Tetapi, kesadaran saja ternyata tidak cukup untuk membuat saya berhenti melakukannya. Bisa sih kalau ada bel rumah berbunyi, sehingga memaksa saya untuk segera beranjak. Tapi kalau tidak ada paksaan dari luar, kecenderungannya ya kembali pada pola lama itu.

Pada titik ini, perkataan Ibn al-Qayyim dalam al-Wābil al-ayyib terasa sangat menampar:

فهي النفس إن لم تشغلها بالحق شغلتك بالباطل، وهو القلب إن لم تسكنه محبة الله عز وجل سكنه محبة المخلوقين ولابد، وهو اللسان إن لم تشغله بالذكر شغلك باللغو وما هو عليك ولابد، فاختر لنفسك إحدى الخطتين، وأنزلها في إحدى المنزلتين

Jiwa itu, jika engkau tidak menyibukkannya dengan kebenaran, ia pasti akan menyibukkanmu dengan kebatilan. Dan hati itu, jika engkau tidak menempatkannya dengan cinta kepada Allah, niscaya ia akan ditempati oleh cinta kepada makhluk. Dan lisan itu, jika engkau tidak menyibukkannya dengan zikir, ia akan sibuk dengan ucapan sia-sia yang akan menjadi beban atasmu. Maka pilihlah salah satu dari dua jalan itu, dan tempatkanlah dirimu pada salah satu dari dua kedudukan tersebut.

Ibn al-Qayyim menegaskan bahwa tidak ada mode “netral.” Jiwa pasti akan terisi, hati pasti akan mencintai sesuatu, lisan pasti akan mengucapkan sesuatu. Kalau kita tidak secara sadar mengisinya dengan kebaikan, ia akan terisi dengan keburukan.

Dalam al-Fawā’id, beliau menambahkan:

قبولُ المَحلِّ لما يُوضع فيه مشروطٌ بتفريغه من ضدِّه

Penerimaan suatu tempat terhadap apa yang diletakkan di dalamnya bergantung pada pengosongan tempat tersebut dari lawannya.

Ibarat sebuah gelas yang penuh kopi, air bersih yang dituang tidak akan bisa memenuhi gelas itu dengan sempurna. Akan bercampur, bahkan menyisakan ampas. Demikian pula hati. Jika sudah penuh dengan kecintaan pada makhluk atau hal-hal yang sia-sia, maka tidak ada ruang tersisa bagi cinta kepada Allah.

Selama ini kita mungkin berpikir bahwa masalah utamanya adalah soal motivasi atau disiplin. Kalau gagal, berarti kurang niat. Kalau belum berhasil, berarti usahanya belum seberapa. Barangkali ini hanya karena “slot”-nya memang sudah penuh. Itulah sebabnya move-on terasa begitu sulit. Kita sadar, tapi tidak benar-benar punya space untuk berubah.

Di sinilah perlunya tindakan aktif untuk mengosongkan diri dari sesuatu yang buruk, lalu menggantinya dengan yang baik. Seandainya ingin berhenti scrolling HP begitu bangun tidur, solusinya tidak cukup dengan meletakkan HP jauh-jauh. Namun harus segera mengisinya dengan kebiasaan lain yang lebih baik. Tanpa pengganti, jiwa yang terbiasa dengan stimulus akan merasa hampa, lalu kembali mencari pengisi lama yang justru ingin kita tinggalkan.

Inilah sebabnya banyak usaha “detox” media sosial akhirnya gagal. Mereka berhenti, tetapi tidak mengisi kekosongan setelahnya. Jiwa yang terbiasa sibuk tidak tahan diam, dan akhirnya kembali pada kebiasaan lama.

Secara praktis, beberapa langkah perlu kita tempuh: pertama, identifikasi aktivitas buruk yang secara otomatis mengisi waktu luang kita. Kedua, siapkan pengganti yang konkret dan bisa langsung dilakukan saat itu juga. Ketiga, mulai dari yang kecil dan konsisten. Keempat, sadar bahwa prosesnya tidak nyaman. Jiwa yang kehilangan stimulus akan “memberontak”, seperti orang yang pindah rumah. Meski rumah baru lebih baik, tetap ada fase adaptasi yang akan terasa janggal.

Bedanya orang yang berhasil move-on dan yang gagal ada pada kesabaran menghadapi fase tidak nyaman itu. Mereka paham bahwa rasa hampa hanyalah transisi. Kehampaan itu sama sekali bukan tanda kegagalan.

Akhirnya, setiap saat kita akan dihadapkan pada dua pilihan: menghias diri dengan hal-hal baik, atau dengan hal-hal buruk. Tidak ada jalan ketiga.

Pilihan itu ada di tangan kita.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts