Suatu hari, seorang lelaki melintas di hadapan Rasulullah saw. Beliau bertanya kepada sahabat yang duduk bersama, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Sahabat itu menjawab dengan yakin, “Ini orang bangsawan. Jika melamar, lamarannya diterima. Jika memberi syafaat, syafaatnya dikabulkan.”
Rasulullah saw diam. Lalu lewat lelaki lain. Beliau bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Sahabat itu menjawab, “Ini orang fakir. Jika melamar, lamarannya ditolak. Jika memberi syafaat, tidak dikabulkan. Jika berbicara, tidak didengar.”
Respons sahabat dalam hadits ini sangat mirip dengan realitas kita sehari-hari. Penilaian pertama hampir selalu berdasarkan apa yang tampak: pakaian, kendaraan, rumah, atau jabatan. Semakin mentereng penampilannya, semakin tinggi estimasi kita terhadap kualitas orangnya. Pertanyaannya, benarkah itu ukuran yang benar?
هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِثْلَ هَذَا
Rasulullah saw bersabda: “Orang ini (yang fakir) lebih baik daripada sepenuh bumi orang seperti itu (yang kaya).”
Imam Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī dalam Fatḥ al-Bārī menekankan: kunci penilaian Rasulullah saw bukan status ekonomi, melainkan ketakwaan. Hadis ini bukan pujian menyeluruh pada kefakiran atau celaan menyeluruh pada kekayaan. Ukurannya ada pada hati dan amal.
Sikap diamnya Rasulullah Saw ketika mendengar pujian terhadap orang kaya yang lewat itu patut diperhatikan lebih seksama. Tidak semua sanjungan perlu ditanggapi. Beliau seakan mengarahkan agar kita tidak kesusu (terburu-buru) menilai seseorang hanya dari tampilannya saja.
Ahmad bin Naṣr al-Dāwūdī, sebagaimana dinukil Ibn Ḥajar, menjelaskan bahwa kefakiran dan kekayaan adalah ujian dari Allah Swt untuk hambanya. Bedanya terletak pada respons terhadap ujian itu. Ada yang diuji dengan sempitnya harta, ada yang diuji dengan lapangnya harta. Ukurannya tetap sama: ketakwaan.
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya.” (QS al-Kahf: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa harta dan status sosial hanyalah instrumen ujian. Allah Swt menilai kualitas amal, bukan kuantitas harta.
Perdebatan tentang mana yang lebih mulia antara kefakiran dan kekayaan sudah berlangsung sejak lama di kalangan ulama. Ibn Hajar mencatat bahwa sebagian ulama lebih memilih kafāf (kecukupan) sebagai kondisi yang paling ideal.
Kafāf adalah kondisi dimana seseorang memiliki cukup untuk memenuhi kebutuhan tanpa berlebihan, juga tidak kekurangan hingga harus meminta-minta. Rasulullah saw pernah berdoa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا
“Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad hanya sekedar cukup untuk hidup.”
Al-Qurṭubī mencatat bahwa Allah swt telah menghimpunkan pada Nabi saw tiga kondisi: faqr, ghinā’, dan kafāf. Kondisi pertama adalah awal kehidupan beliau, dimana beliau menjalankan kewajiban yang menyertai kemiskinan berupa mujāhadah al-nafs (perjuangan melawan nafsu). Kemudian ketika kemenangan-kemenangan datang, beliau berada dalam kondisi orang kaya, dan beliau menunaikan kewajiban yang menyertai kekayaan berupa pemberian kepada yang berhak, muwāsāh (berbagi), dan īṡār (mengutamakan orang lain). Kondisi ketiga adalah kafāf, dimana beliau secara aktif membatasi diri hanya pada apa yang dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. Beliau memilih dan mempertahankan kondisi ini hingga wafat.
Ibn Hajar menyebut kafāf sebagai kondisi yang selamat dari kemewahan yang memabukkan dan kemiskinan yang menyakitkan. Rasulullah saw memilih kondisi ini setelah merasakan sendiri apa yang ditawarkan oleh kondisi kemiskinan dan kekayaan.
Sufyān al-Ṡaurī pernah berkata:
اختار الفقراء خمسا، واختار الأغنياء خمسا. اختار الفقراء راحة النفس، وفراغ القلب، وعبودية الرب، وخفة الحساب، والدرجة العليا. واختار الأغنياء تعبَ النفس، وشغلَ القلب، وعبوديةَ الدنيا، وشدةَ الحساب، والدرجةَ السفلى.
“Orang-orang fakir memilih lima hal, dan orang-orang kaya memilih lima hal. Kaum fakir memilih ketenangan jiwa, kelapangan hati, penghambaan kepada Allah, ringannya hisab, dan derajat yang tinggi. Kaum kaya memilih kelelahan jiwa, sibuknya hati, penghambaan kepada dunia, beratnya hisab, dan derajat yang rendah.”
Ini berlaku bagi mereka yang benar-benar ridha dengan kefakirannya dan tidak tenggelam dalam kegelisahan memburu harta.
Ada perbedaan mendasar antara kemiskinan yang dipilih dan kemiskinan yang dipaksakan oleh keadaan. Para sufi dan ulama besar banyak yang memilih hidup sederhana bukan karena tidak mampu hidup berkecukupan, tapi karena mereka menyadari bahwa kesederhanaan membuka jalan menuju kedekatan dengan Allah swt.
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْغَنِيَّ التَّقِيَّ الْخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang kaya yang bertakwa dan tidak menonjolkan diri.” (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kekayaan yang disertai ketakwaan juga dicintai Allah swt. Masalahnya bukan terletak pada status kaya atau miskin, tapi bagaimana hati kita merespons apa yang telah Allah Swt berikan.
Apakah ini berarti kita harus sengaja menjadi miskin? Tentu tidak. Hal terpentingnya adalah tidak terjebak dalam penilaian berdasarkan penampilan luar. Bisa jadi orang yang berpenampilan sederhana memiliki hati yang lebih bersih daripada mereka yang bergelimang harta.
Jangan biarkan status sosial, harta, atau jabatan menjadi satu-satunya parameter untuk mengukur kemuliaan seseorang. Jangan sampai terlalu terpukau dengan gemerlap dunia. Terimalah rezeki yang Allah berikan sambil menjaga hati agar tetap merdeka dari dominasi harta. Seperti yang dikatakan para ulama: “jadikan dunia berada di tanganmu, bukan di hatimu.”
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar