Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Kucing yang Tertidur di Jubah Syaikh Ahmad al-Rifā‘ī

Saat itu, azan telah berkumandang. Waktu salat telah tiba. Syaikh Ahmad al-Rifā‘ī bergegas untuk melaksanakan salat bersiap-siap dan hendak mengambil jubahnya. Ternyata, beliau mendapati bahwa seekor kucing sedang tertidur pulas diatas lengan jubahnya.

Beliau bisa saja membangunkan dan mengusir kucing itu. Tapi, beliau tidak melakukannya. Lalu, apa yang dilakukannya? Padahal itu adalah satu-satunya jubah yang dimilikinya untuk melaksanakan salat. Tanpa dinyana, beliau mengambil sebilah pisau kecil, kemudian memotong bagian lengan jubahnya itu.

Beliau memakai jubah tanpa satu sisi lengan itu dan berangkat melaksanakan salat. Sedangkan si kucing, masih saja terlelap dan tidak terusik sedikitpun, seolah tidak terjadi apa-apa.

Sekembalinya beliau dari salat, ternyata si kucing itu sudah pergi dari tempat tidurnya. Syaikh al-Rifā‘ī lalu duduk, lalu mengambil potongan kain yang menjadi alas tidur kucing tadi. Potongan lengan itu, beliau sambung kembali dengan menjahitnya.

“Tidak ada yang berubah,” begitu ungkapnya ketika telah menyelesaikan jahitan terakhirnya.

Kisah ini singkat. Terlalu singkat, dan mungkin terkesan sepele. Hanya soal seseorang yang memotong kain gara-gara ada kucing yang sedang tidur di atasnya. Tapi, dalam setiap kisah orang saleh, pasti terdapat pelajaran tentang akhlak yang agung.

Kita bisa melihat bagaimana Syaikh al-Rifā‘ī tidak menganggap seekor kucing sebagai gangguan. Padahal beliau sedang bersegera untuk beribadah. Seandainya mau, beliau bisa saja beralasan bahwa beliau memiliki urusan yang lebih penting. Salat adalah kewajiban yang tidak bisa ditunda. Jubah itu adalah satu-satunya, dan tanpanya beliau tidak bisa melaksanakan salat. Sedangkan si kucing itu hanyalah hewan yang tidak akan mengerti atau menghargai sikap baiknya. Semua alasan itu masuk akal secara logika.

Nyatanya, beliau justru memilih tidak mengganggu kucing itu dan mengalah dengan mengorbankan satu-satunya jubah miliknya. Wali-wali Allah Swt memang sering “melanggar” cara kerja logika manusia secara umum. Manusia pada umumnya selalu berpikir tentang untung-rugi, dan ini kita anggap wajar. Waktu, tenaga, dan sumber daya kita terbatas. Terasa masuk akal saja kalau kita jadi selektif dalam berbuat baik.

Ujungnya kita membantu orang lain sambil berharap ada balasannya. Kita hanya akan berbuat baik kepada mereka yang sekiranya bisa membalas kebaikan kita. Kita juga hanya akan berlembut-lembut kepada mereka yang posisinya lebih tinggi dari kita. Segalanya demi keuntungan-keuntungan yang akan kita dapatkan.

Dalam hal ini, Syaikh al-Rifā‘ī menunjukkan sesuatu yang berbeda total dari kebanyakan kita —khas wali-wali Allah. Beliau tidak memiliki beban apapun untuk berbuat baik. Sehingga, beliau bebas berbuat baik kepada siapapun. Tanpa mempedulikan apa yang akan didapatkannya setelah kebaikan itu, apa balasannya, dan lainnya. Begitulah sosok yang telah terbebas dari sifat “ke-aku-an” dalam dirinya.

Maka wajar ketika selesai menjahit kembali jubahnya, Syaikh al-Rifā‘ī hanya berkata, “ma taghayyara syai’”—tidak ada yang berubah. Memang benar. Tidak ada yang hilang. Tidak ada yang berubah. Jubah itu bisa disambung lagi.

Tabik,
Ibnu

* Kisah disarikan dari kitab Siyar al-A‘lām al-Nubalā’ (dengan penyesuaian detail tanpa mengubah keaslian kisah)

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts