Kadang-kadang kita terlalu serius dengan dunia. Kita terlalu khawatir soal masa depan, sibuk dengan rencana, terjebak dalam persaingan, lalu tanpa sadar memperlakukan dunia seolah-olah hanya inilah satu-satunya realitas yang ada di depan mata kita. Padahal, apa yang kita anggap penting ini tiba-tiba dipatahkan oleh sabda Nabi Saw:
موضع سوط في الجنة خير من الدنيا وما فيها
“Tempat seukuran cambuk di surga lebih baik daripada dunia dan segala yang ada di dalamnya.” (HR. al-Bukhārī)
Kalimat ini benar-benar menghantam. Dunia yang selama ini kita besar-besarkan, kita kejar mati-matian, ternyata nilainya tidak sampai seukuran cambuk di surga. Seberapa besar sih ukuran cambuk itu? Bahkan tidak akan sebesar ukuran kamar kos 1,5×2 meter yang tergolong sangat kecil dan sempit. Nyatanya, itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya.
Ibn Hajar dalam Fatḥ al-Bārī menegaskan, jika sesuatu yang nilainya sekecil cambuk saja lebih baik dari seluruh dunia dan isinya, apalagi kenikmatan surganya yang jauh lebih tinggi. Beliau lalu mengaitkannya dengan hadis lain yang diriwayatkan Muslim:
والله ما الدنيا في الآخرة إلا مثل ما يجعل أحدكم إصبعه في اليم فلينظر بم يرجع
“Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat kecuali seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut. Lalu lihatlah berapa banyak air yang terbawa.”
Inilah dunia. Hanya bekas celupan yang menempel di jari, dan akhirat adalah luasnya samudera itu.
Dunia ini hanyalah sebuah permainan. Kita akan segera kehabisan waktu untuk memainkannya. Dunia juga seperti perhiasan yang tampak menarik, tapi lama-lama kita akan bosan juga. Allah Swt berfirman:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.” [QS. Al-Hadīd (57): 20]
Ibn Hajar mengutip tafsir Ibn ʿAṭiyyah yang menjelaskan siklus hidup manusia dengan permisalan ayat ini. Seorang anak akan lahir, tumbuh kuat, sibuk mengumpulkan harta dan keturunan, lalu menua, melemah, dan mati. Semua yang dibangga-banggakan itu kemudian akan beralih tangan, sementara dirinya akan lenyap begitu saja.
Selain itu, al-Ghazālī juga memberikan gambaran dalam bentuk kisah. Perumpamaan orang-orang yang lalai dengan dunia adalah seperti suatu kaum yang menaiki kapal, lalu mereka singgah di sebuah pulau yang dipenuhi tumbuhan. Awalnya, mereka turun untuk buang hajat. Sang nahkoda memperingatkan agar jangan berlama-lama, cukup sebentar saja, karena kapal akan segera berangkat. Ada sebagian yang segera kembali, hingga mendapatkan tempat paling lapang dan nyaman di kapal. Sebagian lagi sibuk menatap bunga, sungai, dan buah-buahan, lalu teringat pesan nahkoda, bergegas kembali, tapi hanya kebagian tempat sempit. Ada yang lebih parah, mereka memungut bunga dan buah, membawanya ke kapal, hingga berdesakan dan akhirnya terpaksa membuang semua karena layu dan rusak. Ada pula yang terlalu asyik masuk hutan, lalai mendengar panggilan, akhirnya ditinggal kapal dan hancur bersama apa yang dibawanya. Dan ada yang paling celaka, sama sekali tidak mendengar panggilan. Mereka terlambat, ditinggal kapal, lalu dimakan binatang buas, tersesat, mati kelaparan, atau digigit ular.
Jika sudah jelas nilai dunia ini kecil, mengapa kita tetap menggenggamnya erat-erat? Jawabannya sederhana. Dunia ini dekat, terlihat, dan bisa dirasakan oleh seluruh indera kita. Sedangkan akhirat rasanya jauh, samar, dan hanya bisa diimani. Karena itulah kita cenderung memilih yang terlihat meski hanya remah, daripada menunggu sesuatu yang lebih besar tapi tak kasat mata. Maka benarlah firman Allah Swt: “Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
Menurut Ibn ʿAṭiyyah, ayat ini tidak melarang kebutuhan dasar kita di dunia seperti makan, tempat tinggal, atau bekerja. Maknanya adalah peringatan agar kita tidak larut dalam “hiasan” dan persaingan yang berlebihan, terutama dalam jumlah harta dan status sosial.
Oleh karena itu, masalahnya tidak terletak pada dunia itu sendiri, melainkan pada cara kita melekat dan terikat kepadanya. Kita menjadikannya identitas, sumber gengsi, bahkan ukuran keberhasilan. Padahal dunia ini tidak lebih dari sekadar ruang tunggu.
Kenyataannya banyak orang yang telah hidup berkecukupan, tetapi tetap sibuk mencari dan menambah koleksi “perhiasan” dunianya. Padahal jika ditimbang dengan baik, kebutuhan selalu ada garis akhirnya, sedangkan keinginan tidak pernah selesai. Kita bisa kenyang dengan sepiring nasi, tetapi tidak pernah puas dengan ambisi.
Oleh sebab itulah, Nabi Saw pernah bedoa:
اللهم اجعل رزق آل محمد قوتا
“Ya Allah jadikanlah Rezeki keluarga Muhammad berkecukupan.”(HR. Bukhārī)
Doa ini menunjukkan bahwa ukuran ideal hidup di dunia bukanlah kelimpahan, bukan pula kekurangan, melainkan kecukupan yang membuat hidup lebih tenang. Oleh sebab itulah, tidak perlu terlalu serius pada dunia untuk bab-bab seperti ini. Kita perlu melihat dunia ini sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Pencipta. Sarana untuk menanam amal yang kelak akan kita panen di akhirat. Bukan justru menjadikannya puncak dari segala tujuan yang ada.

Tinggalkan komentar