Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Tiga Penyakit dari Istana

Sakitnya sebuah negara bermula dari penyakit yang menyebar di istana. Penyakit ini mematikan, dan benar-benar bisa membunuh negara itu sendiri. Ibn Khaldun, berabad-abad lalu, sudah mengurai gejalanya. Ia menyebut tiga penyakit yang diidap oleh penguasa, sehingga membuat sebuah negeri menua lalu runtuh, yaitu:

Ego-sentris

Negara biasanya lahir dari semangat kebersamaan. Sekelompok orang berjuang, menanggung resiko bersama, dan rela mati demi mempertahankan kehormatan suatu bangsa. Inilah yang disebut ‘aṣabiyyah. Tapi ketika kekuasaan sudah mapan di tangan kekuasaan tertentu, wajahnya berubah. Kemuliaan yang dulu dibagi rata, mulai dimonopoli. Harta yang seharusnya beredar di antara banyak orang, kini berhenti di tangan segelintir elite.

Di titik itu, orang-orang yang dulu jadi garda terdepan suatu negara, mulai kehilangan daya juang. Mereka lebih memilih posisi aman sebagai “penerima gaji” istana. Anak-anak mereka pun tumbuh dengan mental penerima, bukan pejuang. Solidaritas yang dulunya jadi tulang punggung berdirinya negara, pelan-pelan runtuh. Dan ketika penguasa tak lagi ditopang oleh semangat bersama, keropos itu cepat menyebar ke seluruh tubuh negeri.

Bermewah-mewahan

Racun berikutnya muncul ketika istana terlalu sibuk dengan kemewahan. Kemakmuran suatu negara yang seharusnya memperkuatnya, justru melemahkan negara itu. Para elite terbiasa dengan hidup mewah, pengeluarannya membengkak, sementara pendapatan negara tidak lagi mencukupi. Jalan pintasnya: menaikkan pajak, memeras rakyat, dan menguras sumber daya.

Masalahnya, dana negara bukan hanya untuk istana. Ada banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh negara —militer, pendidikan, dll. Begitu kas negara habis untuk membiayai gaya hidup penguasa, semua elemen penting negara melemah. Ibn Khaldun menyebut bahwa ketika kemewahan sudah merata di kalangan elite, negara sebenarnya sedang berada di puncak rapuhnya. Gemerlap istana itulah yang menjadi tandanya.

Malas

Sikap egois dan bermewah-mewahan, tentu saja akan melahirkan kemalasan. Itulah yang terjadi. Para penguasa terlalu merasa “nyaman” di posisinya. Mereka malas untuk melihat dan mendengarkan rakyatnya, apalagi membuat perubahan. Kemalasan mereka ini akhirnya mengakar pada pola pikir untuk mempertahankan status-quo semata.

Generasi penerus penguasa ini juga sama saja. Mereka lahir di lingkungan yang serba kecukupan. Mereka tidak mengenal lapar, ditempa kesulitan, dan tidak pernah terbiasa menghadapi resiko. Semua tersedia, semua mudah. Lama-kelamaan, keberanian mereka pun hilang. Lalu tiba-tiba mereka menjadi penguasa negara. Bagaimana mungkin anak-anak istana yang lembek ini mampu membela negerinya, dan rakyatnya?

Wabah dari Atas

Tiga penyakit ini lahir dari atas, dari para penguasanya, bukan rakyat biasa. Ia mewabah. Hampir-hampir seluruh penguasa memiliki penyakit ini.

Rakyat bisa saja tetap sederhana, tetap bekerja keras seperti biasanya. Tapi kalau penguasanya sudah sakit, kehancuran sebuah negara hanya menunggu waktunya saja. Seperti tubuh yang melemah karena organ vitalnya rusak, begitulah negeri yang didera penyakit dari lingkaran istana.

Penyakit-penyakit ini tampaknya masih terlihat hari ini, di negara kita sendiri. Catatan Ibn Khaldun boleh jadi sudah berusia ratusan tahun. Tapi entahlah, kadang saya merasa beliau sedang menulis tentang kita juga.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts