Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Meremehkan Waktu

Dalam kitab Mīzān al-‘Amal, Imam al-Ghazali menuturkan,

وَكَمْ مِنْ فَقِيهٍ مُسَوِّفٍ يَسْتَهِينُ بِتَعْطِيلِ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، وَهَكَذَا عَلَى التَّوَالِي، فَيَفُوتُهُ كَمَالُ الْعِلْمِ. فَكَذَا مَنْ يَسْتَهِينُ بِصِغَارِ الْمَعَاصِي يَنْتَهِي بِهِ الْأَمْرُ إِلَى حِرْمَانِ السَّعَادَةِ.
وَكَمْ مِنْ فَقِيهٍ مُوَفَّقٍ لَا يَسْتَهِينُ بِتَعْطِيلِ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَهَكَذَا عَلَى التَّوَالِي، فَيُحْرِزُ كَمَالَ النَّفْسِ وَالْعِلْمِ. فَكَذَا مَنْ لَا يَسْتَهِينُ بِصِغَارِ الْمَعَاصِي يَنْتَهِي بِهِ الْأَمْرُ إِلَى دَرَجَاتِ السَّعَادَةِ، إِذِ الْقَلِيلُ يَدْعُو إِلَى الْكَثِيرِ.

“Betapa banyak ahli fikih yang menunda-nunda, yang meremehkan waktu, barang sehari semalam (untuk belajar/beribadah), dan terus menerus melakukannya, sehingga ia kehilangan kesempurnaan ilmu. Demikian pula orang yang meremehkan dosa-dosa kecil, pada akhirnya ia akan terhalang dari kebahagiaan.
Sebaliknya, betapa banyak ahli fikih yang diberi taufik, yang tidak meremehkan waktu, meskipun sehari semalam, dan terus melakukannya secara konsisten, sehingga ia meraih kesempurnaan dalam diri dan ilmunya. Demikian pula orang yang tidak meremehkan dosa-dosa kecil, pada akhirnya ia akan mencapai tingkat kebahagiaan yang tinggi, sebab amal kecil yang konsisten akan mengantarkan kepada amal yang lebih besar.”

Melalui kutipan ini, Imam al-Ghazali seolah sedang membandingkan dua tipe manusia. Tipe pertama, orang yang suka menunda dan meremehkan waktu. Orang tipe ini berpikir, “Ah, cuma sehari dua hari ndak belajar, nggak papa, nggak masalah.” Ternyata, besoknya begitu lagi. Lusa pun begitu lagi. Sampai tanpa disadari, ia terjebak dalam pola hidup menunda-nunda secara terus-menerus. Sehingga, ia kehilangan kesempatan emas untuk mencapai kesempurnaan dalam ilmunya.

Sedangkan tipe kedua, adalah orang yang bertolak belakang dengan tipe pertama. Orang ini konsisten, tidak mau meremehkan waktu, meskipun hanya sehari semalam. Ia menganggap bahwa hari ini penting, esok pun penting, lusa juga penting. Sehingga, ia benar-benar memanfaatkan setiap waktu yang dilaluinya. Ia terus belajar, berkembang, sampai akhirnya mencapai kesempurnaan jiwa dan ilmu.

Dua tipe ini, ternyata menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda. Karena obyeknya sama, maka yang bermasalah adalah subyeknya. Inilah mindset yang harus kita tanam dalam-dalam dalam jiwa kita, jangan menunda-nunda melaksanakan kebaikan. Demikianlah anjurannya dalam agama, sebagaimana dituturkan oleh Imam ‘Izz al-Dīn ibn ‘Abd al-Salām, al-musāra‘ah ‘ilā al-khayrāt ‘āmmah fī jamī‘ al-thā‘āt, illā mā tsabata istitsnā’uh —bersegera melakukan kebaikan sifatnya umum untuk seluruh ketaatan, selain untuk perkara yang dikecualikan. Nah, pengecualiannya ini sedikit sekali. Artinya, secara umum, kita dianjurkan untuk menyegerakan kebaikan, bukan justru menunda-nundanya.

Mari kita kembali pada dua tipe manusia yang telah kita bahas di atas. Tipikal ini, sekali lagi, sangat subyektif. Masalahnya, kita sering memperlakukan obyek-obyek berbeda dengan cara yang sama. Dan inilah yang sepertinya dikhawatirkan oleh Imam al-Ghazali. Ketika meremehkan sudah menjadi kebiasaan, ia juga akan meremehkan dosa. Nah, orang yang meremehkan dosa-dosa kecil mungkin berpikir, “ah ini mah dosa kecil, santai.” Tapi, lama-lama akan terhalang dari kebahagiaan sejati. Sebaliknya, orang yang serius menjaga diri bahkan dari hal-hal kecil, justru akan mencapai tingkat kebahagiaan yang tinggi.

Kenapa? Karena hal kecil yang konsisten punya kekuatan akumulatif. Amal kecil yang dilakukan terus-menerus akan mengantarkan kepada amal yang lebih besar. Begitu juga sebaliknya, kelalaian kecil yang dibiarkan akan menumpuk menjadi kerugian besar.

Kita tentunya cukup familiar dengan hal-hal ini. Mungkin cuma sehari tidak membaca baca buku. Barang kali hanya sehari skip salat sunah, atau lainnya. Rasanya seperti tidak ada yang hilang. Hanya saja, “cuma sehari” itu licin. Alasan itu punya kecenderungan alami untuk menjadi “cuma dua hari”, lalu seminggu, sampai akhirnya kita lupa kapan terakhir kali melakukan kebaikan secara konsisten.

Sebagai contoh, membaca buku hanya satu halaman per hari mungkin terasa tidak berarti. Namun jika dilaksanakan secara konsisten, itu sama dengan 365 halaman setahun. Pun dengan menjaga lisan dari ghibah, jika hanya sekali sepertinya ya biasa saja, tapi kalau terus dijaga, pelan-pelan akan menjadi karakter diri kita. Inilah yang secara tidak langsung sedang dibicarakan lewat teks Imam al-Ghazali di atas.

Benar bahwa manusia tidak akan bisa sempurna, sehingga mustahil bila kita mengejarnya. Namun, kita diberkahi akal dan kemampuan untuk memilih oleh Allah Swt. Kita diberikan hak untuk mengusahakan yang terbaik bagi diri kita masing-masing. “Kesempurnaan” dan kebahagiaan dalam hidup kita, sangat bisa direfleksikan dari bagaimana kita menentukan pilihan-pilihan kecil setiap hari. Maka, manfaatkan sehari semalammu, pilihlah sesuatu dengan bijaksana, dan jangan pernah meremehkannya.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts