Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Nabi Saw pun Merasa Cemas

Allah Swt berfirman,

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَۙ

“(Bukankah kami telah) meringankan beban (tugas-tugas kenabian) darimu?” (QS. Al-Syarh [94]: 2)

Kita mungkin sudah familiar dengan ayat ini. Kita menghafalnya, bahkan sudah di luar kepala. Tapi, apa maknanya? Nah, kebanyakan ulama menafsirkan kata wizr (beban) disini sebagai beban kenabian dan tugas-tugas mengurus umat. Kita tentu bisa membayangkan bahwa tanggung jawab Nabi Saw tidak main-main. Bukan hanya mengurus diri sendiri ataupun keluarganya, tapi seluruh umat. Karena beban itu teramat berat, maka Allah Swt pun “mengangkat” atau “meringankan” beban tersebut.

Ibn ‘Ajībah, dalam al-Bahr al-Madīd, menjelaskan aspek lain yang mungkin terkandung dalam penafsiran ayat ini. Beliau menganggap bahwa wizr itu adalah meninggalkan yang lebih utama, demi memilih yang utama. Sebentar, mari kita konversikan dengan angka agar lebih mudah memahaminya. Katakanlah kita bisa dan mampu (punya potensi besar) untuk mendapatkan nilai 100, tapi kita hanya sampai di 90. Nilai yang kita dapatkan sudah bagus, bahkan mungkin lebih dari kebanyakan orang. Tapi, ada rasa khawatir, cemas, dan bersalah, ketika sebenarnya mampu, tapi tidak meraih nilai 100 itu.

Itulah makna meninggalkan yang lebih utama, padahal mampu, dengan melakukan yang utama. Para nabi sebelumnya pun, ditegur dengan hal yang serupa. Nah, maksud dari Allah Swt meringankan (meletakkan) beban itu adalah mengampuninya. Seolah-olah Allah Swt memberikan penghiburan kepada Nabi, “jangan merasa bersalah dengan itu semua.”

Saya pun berpikir bahwa kita sering menjumpai hal-hal seperti ini di kehidupan nyata. Ada potensi untuk berbuat maksimal, tapi kadang perbuatan kita tidak sampai pada titik maksimal itu. Padahal, potensi dan kesempatannya ada. Lalu, kita menyesal, merasa bersalah, dan seterusnya. Kira-kira begitu lah.

Nah, menurut Ibn ‘Ajībah, setiap tingkatan (maqām) memiliki “dosa” berupa persepsi adanya kekurangan dalam memenuhi hak tingkatan tersebut. Maksudnya, ketika seseorang berada di tingkat tertentu, apa yang dilihatnya sebagai dosa atau kekurangan berbeda dengan orang yang berada di tingkat lain.

Mengapa? karena hasanat al-abrār adalah sayyi’at al-muqarrabīn (kebaikan orang baik adalah keburukan orang-orang yang dekat dengan Allah). Ini bukan berarti kebaikan mereka salah. Hanya saja, semakin tinggi posisi seseorang, semakin tinggi pula tuntutannya. Standarnya berbeda.

Dalam konteks Rasulullah Saw, beliau berada di maqam tertinggi yang mungkin dicapai manusia. Jadi wajar kalau beliau merasa khawatir tidak bisa memenuhi hak dari posisi luar biasa yang Allah berikan. Kekhawatiran ini bukan karena beliau kurang dalam amal, tapi karena beliau sangat sadar dengan tingginya standar yang harus dipenuhi.

Kekhawatiran itu seperti membawa beban di pundak. Dan Allah Swt mengangkatnya dengan memberikan kabar baik, bahwa segala yang beliau khawatirkan itu sudah diampuni. Dengan begitu, beliau bisa terbebas dari rasa cemas tersebut.

Padahal, kecemasan ini adalah kecemasan yang on-point, tepat. Tujuannya kepada Allah Swt. Lalu bagaimana dengan kecemasan kita yang justru kita tujukan bukan kepada-Nya?

Inilah pelajarannya untuk kita. Mungkin kita merasa sudah cukup dengan berbagai amal yang telah kita lakukan. Oh, sudah salat, sudah sedekah, sudah berbuat baik. Tapi kalau dipikir lagi, apakah kita sudah benar-benar memenuhi hak dari semua itu? Apakah kualitas ibadah kita sudah sesuai dengan yang seharusnya?

Bagi sebagian orang, pertanyaan seperti ini mungkin terasa berat. Tapi bagi mereka yang ingin terus meningkatkan diri, pertanyaan ini justru bisa menumbuhkan semangat untuk memberikan sesuatu yang lebih untuk Allah Swt. Artinya, kita tidak mencukupkan diri dengan berada di zona nyaman, tapi terus berusaha memperbaiki kualitas ibadah dan hubungan kita kepada Allah.

Pada akhirnya, ayat ini mengajarkan dua hal. Pertama, standar ketakwaan itu berjenjang. Apa yang cukup bagi kita mungkin masih kurang bagi orang lain yang lebih tinggi maqamnya. Kedua, seberapa pun tinggi posisi kita, kita tetap butuh ampunan Allah. Bahkan Rasulullah Saw yang sudah dijamin masuk surga pun tetap merasa perlu khawatir dan meminta ampun.

Kalau beliau saja begitu, bagaimana dengan kita?

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts