Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Empat Syukur di Balik Musibah

Tidak akan ada manusia yang luput dari musibah. Setiap orang pasti akan merasakannya, entah cepat atau lambat, entah ringan atau berat. Al-Qur’an sendiri sudah mengingatkan bahwa ujian adalah keniscayaan: “Sungguh Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan” (QS. al-Baqarah [2]: 155). Ujian itu pasti datang. Pertanyaannya: bagaimana kita menyikapinya?

Ketika sedang kebagian jatah musibah ini, sebagian orang mungkin ada yang mengeluh panjang lebar. Ada juga yang diam saja berpura-pura sedang tidak terjadi apa-apa. Beberapa lainnya gampang move-on dan segera bangkit lagi. Dan sebagian lainnya mungkin ada yang terpuruk tanpa ujung.

Itulah beberapa cara merespon musibah yang sering kita kenali. Namun ada satu cara unik menghadapi musibah yang ditawarkan oleh Syuraih al-Qadhi, seorang tabi’in terkenal. Alih-alih meratapi nasib, ia justru memilih bersyukur atas musibah yang menimpanya. Bukan hanya bersyukur sekali, tapi empat kali sekaligus dalam satu periode musibah!

Beliau berkata:

إني لأُصاب بالمصيبة فأحمد الله عليها أربع مرات: أحمد إذ لم يكن أعظم منها، وأحمد إذ رزقني الصبر عليها، وأحمد إذ وفّقني للاسترجاع لما أرجو من الثواب، وأحمد إذ لم يجعلها في ديني

“Sesungguhnya ketika aku tertimpa musibah, aku memuji Allah sebanyak empat kali: aku memuji-Nya karena musibah itu tidak lebih besar dari yang terjadi, aku memuji-Nya karena Dia mengaruniakan kesabaran kepadaku untuk menghadapinya, aku memuji-Nya karena Dia membimbingku untuk mengucapkan istirja’ demi pahala yang aku harapkan, dan aku memuji-Nya karena Dia tidak menjadikan musibah itu menimpa agamaku.”

Perhatikan urutan syukur Syuraih. Pertama, ia bersyukur karena musibah yang menimpanya masih bisa lebih parah. Kehilangan harta memang menyakitkan, tetapi tentu akan lebih menyakitkan lagi jika yang hilang adalah nyawa orang yang dicintai. Sakit memang menyiksa, tetapi lebih menyiksa lagi jika sakitnya tak tersembuhkan. Cara pandang seperti ini menggeser fokus kita dari apa yang hilang menuju apa yang masih tersisa. Dan ternyata, yang tersisa selalu lebih banyak.

Syukur kedua tertuju pada karunia kesabaran. Sabar bukan bawaan lahir. Ia adalah pemberian Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar” (HR. al-Bukhari). Maka ketika seseorang mampu menahan diri untuk tidak mengeluh (dalam makna berburuk sangka terhadap takdir Allah) dan tetap tabah menghadapi musibah, itu sendiri adalah nikmat yang patut disyukuri.

Syukur ketiga berkaitan dengan istirja’, yaitu ucapan “innā lillāhi wa innā ilayhi rāji’ūn”—sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ucapan ini bukan sekadar kalimat penenang. Ia adalah pengakuan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, dan kembalinya milik-Nya kepada pemilik-Nya adalah sesuatu yang wajar. Allah menjanjikan balasan besar bagi siapa saja yang mengucapkannya dengan penuh kesadaran: “Mereka itulah yang mendapat ampunan dan rahmat dari Tuhan mereka” (QS. al-Baqarah [2]: 157).

Adapun syukur keempat adalah yang paling penting: musibah itu tidak menimpa agama. Harta bisa dicari lagi. Kesehatan bisa dipulihkan. Orang yang pergi bisa digantikan kehadirannya dengan orang lain. Tetapi jika yang rusak adalah iman, dari mana kita bisa memulihkannya? Agaknya, Syuraih sangat menyadari bahwa musibah terbesar bukanlah kehilangan dunia, melainkan kehilangan hubungannya dengan Allah.

Empat syukur ini mengajarkan cara pandang yang berbeda terhadap musibah. Ia bukan tentang menyangkal rasa sakit, tetapi tentang melihat sisi lain yang sering luput dari perhatian. Dengan cara pandang seperti ini, musibah tidak lagi terasa sebagai hukuman. Ia justru menjadi jalan untuk lebih dekat kepada Allah—melalui kesabaran, melalui kepasrahan, dan melalui kesadaran bahwa iman adalah harta yang paling berharga.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts