Kita acapkali tertegun menyaksikan bagaimana seorang kawan yang dulu kita kenal santun, bicaranya lirih, dan tak pernah absen melangkahkan kaki ke surau, di kemudian hari kita dengar kabar ia melakukan perbuatan yang membuat kita sampai perlu mengelus dada. Kita pun lantas sibuk mereka-reka sebab musababnya, membayangkan perubahannya itu terjadi dalam semalam seperti lakon-lakon di panggung sandiwara. Di dunia yang fana ini, agaknya jarang sekali ada kejadian yang serta-merta jatuh dari langit begitu saja tanpa sangkan paran. Pohon ketapang yang rubuh di pinggiran jalan provinsi itu pun tidak tumbang hanya karena hembusan angin kencang saat hujan deras hari ini saja, melainkan karena serat-serat di dalam batangnya sudah lama lapuk dimakan usia dan hama tanpa pernah kita tengok.
Nasib manusia, kurang lebihnya mirip dengan situasi ini. Imam Al-Qusyairi dalam kitab Lathaif al-Isyarat pernah mengajak kita untuk merenungi anatomi kerusakan jiwa yang prosesnya merambat perlahan, seolah sulit terdeteksi oleh mata telanjang.
Kerusakan itu bermula dari sebuah kondisi di mana kita kehilangan pegangan, atau dalam bahasa pesantren disebut sebagai lunturnya muraqabah. Kita sering membayangkan Tuhan itu berada di “jarak” yang tak terjangkau, sementara kita di bumi merasa menjadi penguasa tunggal atas nasib kita sendiri. Hilangnya rasa “disertai” oleh Gusti Allah inilah yang membuat pertahanan kita keropos. Saat kita merasa sepi dan luput dari pengawasan-Nya, kita mulai berani bermain-main di tepi jurang.
Di tepian itulah biasanya muncul tamu pertama yang disebut khathrah. Ia hanyalah lintasan pikiran yang sangat halus, barangkali sehalus debu yang menempel di kaca jendela. Ia mewujud berupa keinginan selintas untuk mencicipi hak orang lain, atau secuil rasa bangga diri saat merasa lebih pintar dari kawan bicara. Karena tampilannya yang hanya seperti lintasan pikiran sekejap, membuat kita sering abai dan menganggapnya remeh. Kita biarkan pintu rumah kita tidak dikunci palang, sehingga lintasan itu tidak segera pergi, malah duduk manis di dalam kepala kita.
Apabila lintasan itu tidak segera kita sadari dan kita usir dengan perbaikan sikap, ia akan bermetamorfosis menjadi fikrah. Akal manusia yang katanya cerdas itu sering kali justru berbalik arah mendukung keinginan rendah. Pikiran kita mulai mengolah lintasan tadi menjadi sebuah gagasan yang utuh. Kita mulai menyusun skenario, menimbang untung ruginya, bahkan mencari dalil-dalil dan dalih-dalih untuk membenarkan keinginan yang bengkok itu. Gagasan itu terus digosok dan dipoles hingga mengkilap, sampai akhirnya memadat menjadi ‘azimah, tekad yang mengkristal.
Kala tekad sudah bulat, pertimbangan akal sehat biasanya sudah macet total. Kendali lepas, menyeret raga kita untuk melakukan mukhalafah, pelanggaran dalam bentuknya yang nyata. Tangan mulai menjamah yang haram, kaki melangkah ke tempat yang nista, dan lisan mengucapkan kata-kata yang melukai. Memang benar bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa, namun bukan berarti kita bisa berlindung di balik kelemahan itu untuk membenarkan setiap kejatuhan dan ketergelinciran kita. Gusti Allah Maha Tahu bahwa hamba-Nya bukan malaikat, tetapi Dia juga melengkapi kita dengan rem bernama nurani.
Persoalan yang jauh lebih gawat menurut Imam Al-Qusyairi bukanlah pada peristiwa jatuhnya kita ke dalam kubangan itu, melainkan pada sikap kita setelah pakaian kita berlumuran lumpur. Pada titik kegentingan inilah pertaruhan nasib kita ditentukan.
Andai setelah berbuat nista kita diam saja, tidak merasa risih, tidak segera membasuh diri, dan malah menikmati bau busuk dosa itu, maka kita sedang mengalami proses pengerasan atau qaswah. Ibarat kulit telapak kaki petani yang setiap hari bergesekan dengan tanah cadas tanpa alas, lama-kelamaan kulit itu akan menebal dan mati rasa. Begitu pun perasaan yang dibiarkan dalam dosa tanpa penyesalan. Ia akan menjadi bebal. Nasihat-nasihat hanya akan memantul, teguran kawan dianggap gangguan, dan fenomena alam yang seharusnya menjadi ayat-ayat Tuhan hanya dianggap kejadian biasa.
Jika kerasnya hati ini terus dipelihara, sampailah manusia pada kondisi yang disebut rayn, kondisi seperti pengaratan besi yang akhirnya menutup rapat kemilau dan kekuatan dari besi itu sendiri. Hati kita seolah tertutup karat dosa, sehingga kekuatannya melemah, tampangnya memburuk, dan kualitas aslinya tidak lagi tampak.
Dalam tahap ini, keburukan sudah menjadi watak, tabiat, bukan lagi sesuatu yang dilakukan karena khilaf. Ia melakukan kejahatan senatural ia bernapas. Perlahan, ia akan merasa bahwa dirinya seolah sedang membangun peradaban, padahal sejatinya sedang menumpuk kayu bakar untuk membakar dirinya sendiri. Sebelum karat itu menyatu dengan dengan hati kita, ada baiknya di malam-malam yang hening kita sering-sering bercermin, memeriksa bintik-bintik kecil di relung batin kita yang mungkin selama ini luput dari pandangan mata yang tersilaukan oleh gemerlap dan cahaya dunia. Semoga kita semua, dengan perlindungan Allah, dijauhkan dari keburukan-keburukan semacam ini.
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar