Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Bagaikan Api yang Menyala di Kepala Nabi Zakariyya

Silhouette of a tree with glowing blue and gold light trails rising into a starry sky.

Bahasa punya banyak cara untuk menyampaikan satu hal yang sama. Kita bisa mengatakan “saya haus” dan semua orang akan paham maksudnya. Kalimat itu lugas, to the point, dan tidak bertele-tele. Tapi kalimat seperti itu hanya menyampaikan informasi, tanpa membawa serta suasana hati orang yang mengucapkannya. Ia sebatas memberitahu, tanpa menghadirkan perasaan apa pun. Kalau konteksnya obrolan biasa di warung kopi, kalimat semacam itu mungkin sudah lebih dari cukup. Namun jika konteksnya adalah menyampaikan “kebutuhan,” rasanya kalimat-kalimat biasa seperti itu kurang dramatis.

Kita semua tentu familiar dengan cara sinetron-sinetron menampilkan seorang gelandangan yang sedang berusaha meminta-minta. Alih-alih hanya mengucap “kasihani saya, saya lapar,” mereka merasa akan lebih mantab jika menarasikannya dengan ungkapan “kasihani saya, sudah tiga hari tidak makan.” Meskipun contoh ini sangat klise, tapi dua ungkapan ini bertujuan untuk meminta makanan. Namun, keduanya jelas punya nuansa dan rasa yang berbeda. Hal yang sama juga akan terjadi, misalnya, jika kita terpaksa untuk meminjam uang dari teman atau kerabat. Tentu kita tidak akan hanya ngomong, “mas, pinjam uang.” Kita merasa perlu untuk memperbagus cara kita meminjam, dengan cara yang halus, tutur kata yang sopan dan lembut, disertai dengan usaha menghadirkan rasa, agar yang dipinjami uang tersentuh dan mau memberinya.

Memohon dan meminta kepada Tuhan pun selayaknya demikian. Doa, sebagai salah satu cara kita untuk memelas segala kebutuhan kepada Tuhan, semestinya diungkapkan dengan rangkaian kata-kata yang mampu menggambarkan kondisi kita yang sedang “kepepet butuh” itu. Dalam al-Qur’an, dikisahkan bahwa Nabi Zakariyya berdoa kepada Allah dalam keadaan yang sangat rapuh karena ingin dikaruniai momongan. Beliau merasa sudah tua, tulangnya melemah, dan uban pun telah memenuhi kepalanya. Tapi ketika mengungkapkan ketuaannya itu, beliau tidak menggunakan ungkapan biasa syāba ra (kepalaku beruban). Beliau memilih ungkapan yang jauh lebih kaya, yang memadatkan perasaan dan gambaran visual sekaligus dalam satu kalimat pendek,

وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا

Dan menyalalah kepala dengan uban.

Kalimat ini secara informatif menyampaikan pesan yang sama, yaitu fakta bahwa beliau sudah sangat tua, dengan menggambarkan kepala beliau beruban. Sebagaimana contoh-contoh di atas, kalimat informatif sederhana di awal (syāba ra) diolah dan dikembangkan dengan rasa, sehingga akhirnya menjadi kalimat baru (isytaala al-ra’su syaybā). Perpindahan dari syāba ra’sī ke isytaala al-ra’su syaybā ini terjadi melalui beberapa tahap pemadatan yang masing-masing menambahkan sesuatu pada maknanya. Setiap tahap membawa kalimat itu ke derajat yang lebih tinggi, dan masing-masingnya layak kita telusuri satu per satu agar terlihat betapa setiap pergeserannya menghasilkan efek yang berbeda.

Tahap pertama terjadi ketika ungkapan hakiki syāba ra’sī (kepalaku beruban) ditinggalkan menuju ranah istiārah dengan ungkapan isytaala syaybu ra (uban kepalaku telah menyala). Perpindahan ini penting karena ia membawa gambaran visual yang sama sekali tidak dimiliki oleh ungkapan pertama. Uban tidak lagi sekadar hadir di kepala, namun sudah “menyala” seperti api. Memutihnya rambut itu muncul dengan cara yang menyebar ke segala arah, tidak datang perlahan dan sembunyi-sembunyi, persis seperti api yang menjalar di permukaan sesuatu. Bayangkan perbedaannya seperti ketika kita bilang “rumah itu terbakar,” kita sudah menyampaikan fakta. Tapi kalau kita bilang “api menjilati seluruh rumah itu,” gambaran yang muncul di kepala pendengar langsung berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih hidup. Perpindahan dari syāba ra’sī ke isyta‘ala syaybu ra’sī bekerja dengan cara yang serupa, karena ia mengubah informasi datar tentang uban menjadi sebuah pemandangan.

Tapi ungkapan itu tidak berhenti di tahap ini saja. Ungkapan isyta’ala syaybu ra’sī kemudian ditinggalkan lagi menuju susunan yang lebih padat, yaitu isyta’ala ra’sī syaybā. Perubahannya terlihat kecil, hanya soal urutan kata, tapi dampaknya pada makna cukup besar. Pada susunan pertama, yang menyala adalah ubannya (syaybu). Sementara pada susunan kedua, yang menyala adalah kepalanya (ra’s). Untuk memahami bedanya, kita bisa kembali ke perumpamaan tadi. Kalimat “api menyala di rumahku” memberikan kesan bahwa ada bagian rumah yang terbakar, mungkin di satu sudut atau satu ruangan, atau jangan-jangan hanya api di kompor. Tapi kalimat “rumahku menyala oleh api” langsung memberikan kesan bahwa seluruh rumah itu telah terbakar, tidak ada sudut yang tersisa. Pergeseran subjek dari syaybu ke ra’s bekerja persis dengan cara itu. Ketika yang “menyala” adalah kepala, maka seluruh kepala Nabi Zakariya tanpa kecuali telah dirambati oleh uban, sehingga tidak tersisa sedikit bagian pun yang masih hitam.

Susunan kedua ini juga membawa serta sebuah teknik yang khas dalam bahasa Arab, yaitu menyebutkan secara global terlebih dahulu baru kemudian merincinya. Ketika telinga pertama kali menangkap isytaala al-ras (kepala menyala), pikiran langsung bertanya, menyala oleh apa? Lalu jawaban itu datang sesaat kemudian melalui kata syaybā (dengan uban). Jeda singkat antara pertanyaan yang muncul di benak dan jawaban yang menyusulnya itu menciptakan semacam ketegangan di pikiran pendengar, sehingga ketika kata syaybā akhirnya hadir, ia terasa lebih kuat daripada jika seluruh informasi disampaikan sekaligus. Efek ini mirip seperti ketika seseorang berkata “tadi malam, rumahku…” lalu berhenti sejenak sebelum melanjutkan “…terbakar.” Jeda itu sepele, tapi dapat mengubah cara pendengar menerima informasi.

Kata syaybā itu sendiri hadir dalam bentuk tanpa alif-lam (nakirah), dan bentuk ini pada posisinya sebagai tamyīz (kata penjelas) membawa fungsi penekanan. Seandainya Nabi Zakariya mengatakan al-syayb dengan alif-lam, ia akan menunjuk pada uban yang spesifik, yang sudah diketahui keberadaannya. Tapi dalam bentuk nakirah, kata itu mengandung kesan uban yang tak terhingga, yang meluap sampai tidak bisa lagi dibendung, seolah-olah seluruh kepala telah menjadi lautan putih yang menyala.

Maka apa yang kita baca dalam mushaf sebagai wasytaala al-rasu syaybā itu sesungguhnya adalah hasil dari beberapa lapis pemadatan bahasa. Tiga kata saja, tapi di dalamnya terkandung gambaran visual api yang merambat, cakupan menyeluruh yang tidak menyisakan sudut mana pun, ketegangan yang diciptakan oleh teknik penyebutan global sebelum rincian, dan penekanan melalui bentuk nakirah. Semua itu hadir dalam doa seorang nabi yang sudah sangat tua, yang sedang mengadu kepada Tuhannya dengan penuh harap, memohon agar diberi seorang pewaris sebelum ajalnya tiba. Keluhan tentang uban itu bukan keluhan kosong tentang penampilan. Ini adalah cara Nabi Zakariya menyampaikan kepada Allah bahwa waktunya sudah hampir habis.

Itulah kisah doa Nabi Zakariyya yang terekam dalam al-Qur’an,

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria, (yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lirih. Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku. Sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu. (Seorang anak) yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya‘qub serta jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridai.” (QS. Maryam [19]: 2-6)

Wallāhu alam.

Tabik,
Ibnu.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.