Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Negeri Keselamatan

Surga memiliki beberapa nama, dan salah satunya adalah Dār al-Salām. Nama ini sendiri diperkenalkan oleh Allah Swt melalui firman-Nya, salah duanya terdapat dalam QS. Al-An‘ām [6]: 127 dan QS. Yūnus [10]: 25. Penamaan ini, jika ditinjau lagi, rasanya cukup menarik karena dari sekian banyak sifat yang bisa digunakan untuk menggambarkan surga, seperti kenikmatan, keindahan, atau keagungan, Allah Swt justru memilih kata al-Salām (selamat) sebagai identitas utama negeri keabadian ini. Kenapa?

Pertama, boleh jadi yang dimaksud dengan Dār al-Salām adalah Dār Allāh, negerinya Allah. Mengingat al-Salām adalah salah satu dari nama Allah. Kedua, dan ini makna yang lebih utama, Dār al-Salām adalah negeri keselamatan. Tapi, negeri yang selamat dari apa? Dan mengapa keselamatan itu menjadi sifat yang paling layak untuk menggambarkan surga dibandingkan sifat-sifat lainnya?

Untuk memahami mengapa keselamatan menjadi identitas surga, kita perlu terlebih dahulu memahami apa yang disebut dengan “tidak selamat” dari kehidupan dunia. Setiap orang, tanpa terkecuali, bekerja dan berusaha pada hari ini untuk menyongsong hari esoknya. Dalam pengertian ini, setiap manusia memiliki dua “hari esok” yang berbeda, yaitu hari esok di dunia dan hari esok di akhirat. Imam al-Rāzī, dalam tafsirnya, melakukan komparasi antara keduanya dan menemukan bahwa hari esok dunia mengandung empat kelemahan struktural yang tidak dimiliki oleh hari esok akhirat, dan kelemahan-kelemahan inilah yang menjelaskan mengapa surga layak disebut sebagai dār al-salām.

Kelemahan pertama berkaitan dengan ketidakpastian apakah kita akan sampai pada hari esok itu atau tidak sama sekali. Kita bisa saja bekerja keras sepanjang hari ini untuk sebuah rencana yang akan dilaksanakan besok. Lalu, besok yang dinanti-nanti itu ternyata tidak pernah datang karena kematian mendahului kita. Ketidakpastian ini bersifat mutlak dan tidak bisa dihilangkan oleh usaha apa pun, karena tidak seorang pun yang memiliki jaminan bahwa ia akan hidup sampai besok secara pasti. Kita hanya bisa memprediksi berdasarkan tanda-tanda seperti kesehatan tubuh dan sebagainya, bahwa hari esok “mungkin” akan datang. Namun, prediksi hanyalah kemungkinan, dan yang namanya kemungkinan, sifatnya pasti tidak pasti.

Sebaliknya, hari esok di akhirat adalah sesuatu yang pasti akan ditemui oleh setiap manusia, karena kematian itu sendiri, yang menjadi penghalang bagi kita untuk bertemu dengan hari esok di dunia, justru menjadi entry gate-nya hari esok di akhirat. Sehingga setiap amal yang kita kerjakan untuk hari esok akhirat pasti akan ditemui hasilnya, sementara tidak ada jaminan bagi kita untuk sempat menikmati setiap usaha yang kita kerahkan untuk hari esok di dunia.

Kelemahan kedua berkaitan dengan kemampuan kita untuk menikmati apa yang telah kita usahakan dan kumpulkan, bahkan jika kita berhasil sampai pada hari esok itu. Kita bisa saja berhasil mengumpulkan harta yang banyak, lalu harta itu hilang karena musibah atau penipuan sebelum kita sempat menikmatinya. Atau kita bisa saja masih memiliki hartanya tetapi tubuh kita dilanda penyakit yang menjadi penghalang bagi kita untuk menikmatinya, sehingga harta itu hanya berakhir menjadi deretan angka di rekening yang tidak benar-benar bisa kita konversi menjadi kebahagiaan. Kelemahan ini tidak ada dalam hari esok akhirat, karena setiap kebaikan yang telah kita kerjakan untuk akhirat pasti akan sampai kepada kita dan pasti akan kita nikmati hasilnya, tanpa ada kemungkinan kehilangan atau penghalang di antara kita dan hasilnya.

Andaipun kita berhasil melewati dua kelemahan pertama, berhasil sampai pada hari esok dan berhasil menikmati apa yang telah kita kumpulkan, akan ada kelemahan ketiga yang menunggu kita. Segala jenis kenikmatan dunia selalu bercampur dengan sesuatu yang mengurangi kenikmatan itu sendiri. Ketika gembira, misalnya, kita mungkin juga merasakan kecemasan tentang kapan kegembiraan itu akan berakhir. Kenyamanan hidup pun, rasa-rasanya juga hampir pasti dibarengi dengan kekhawatiran tentang hal-hal yang berpotensi mengganggu kenyamanan itu. Bahkan pencapaian-pencapaian yang kita peroleh saja, agaknya kurang afdhal jika tanpa dibarengi dengan tekanan untuk mempertahankannya, dan tentu saja kegelisahan tentang kemungkinan mencapai pencapaian berikutnya. Imam Al-Rāzī sendiri mengutip sebuah riwayat bahwa kegembiraan sehari utuh yang dirasakan seseorang, tanpa ada gangguan sedikitpun itu termasuk salah satu hal yang tidak pernah diciptakan di dunia ini. Terlepas dari keabsahan riwayat ini, kita sendiri tentunya bisa memverifikasi berdasarkan pengalaman hidup dan realitasnya, bahwa kebahagiaan dalam hidup kita tidak pernah hadir dalam bentuknya yang paling murni. Ibarat emas, tidak pernah sampai 24 karat. Ada saja campurannya. Kenikmatan akhirat, sebaliknya, bersifat murni dari segala bentuk gangguan, terbebas dari kekhawatiran dan kecemasan, karena tidak ada sesuatu pun di dalamnya yang bisa mengurangi atau mengancamnya.

Kelemahan keempat adalah yang paling mendasar dari semuanya, karena bahkan jika kita membayangkan sebuah skenario yang nyaris mustahil, yaitu kita berhasil sampai pada hari esok di dunia, berhasil menikmati apa yang telah kita kumpulkan, dan kenikmatan itu kebetulan tidak bercampur dengan gangguan apa pun, kelemahan keempat tetap tidak bisa dihindari, yaitu bahwa kenikmatan itu pasti akan berakhir. Kefanaan adalah sifat bawaan kehidupan dunia yang tidak bisa dinegosiasikan. Setiap kenikmatan, sekuat dan semurni apa pun, pasti memiliki titik akhir, dan kesadaran akan titik akhir itu sendiri sudah merupakan bentuk gangguan yang mengurangi kenikmatan itu. Kenikmatan akhirat tidak memiliki kelemahan ini, karena ia bersifat abadi dan tidak mengandung kemungkinan berakhir.

Empat kelemahan ini, jika kita perhatikan, bersifat kumulatif. Kelemahan pertama sudah cukup untuk membuat usaha duniawi menjadi penuh ketidakpastian. Kelemahan kedua menambahkan lapisan ketidakpastian baru di atas yang pertama. Kelemahan ketiga menunjukkan bahwa bahkan setelah kedua ketidakpastian itu berhasil dilewati, hasilnya tetap tidak murni. Kelemahan keempat menutup seluruh kemungkinan dengan menegaskan bahwa bahkan hasil yang tidak murni itu pun akan berakhir. Masing-masing kelemahan ini tidak ada dalam kenikmatan akhirat. Kenikmatan akhirat pasti akan ditemui, pasti bisa dinikmati, pasti bersifat murni, dan pasti bersifat abadi. Karena itulah surga disebut Dār al-Salām, karena ia selamat dari keempat kelemahan yang melekat pada kehidupan dunia secara struktural.

Allah Swt sendiri mengisyaratkan sifat-sifat ini di berbagai tempat. Ketika menyebut surga, al-Qur’an sering kali menggandengnya dengan kata-kata yang menunjukkan kemurnian dan keabadian, seperti “dia memperoleh ketenteraman, rezeki, dan surga (yang penuh) kenikmatan” (QS. Al-Wāqi‘ah [56]: 89), dan “Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya selain kematian pertama (di dunia). Allah melindungi mereka dari azab (neraka) Jahim” (QS. al-Dukhān [44]: 56), yang menunjukkan bahwa ancaman kefanaan yang merupakan kelemahan keempat kehidupan dunia telah dihapus sepenuhnya di sana. Allah Swt, yang kesempurnaan kemurahan-Nya dan kuasa-Nya sudah diketahui, ketika mengundang hamba-hamba-Nya ke sebuah tempat dan menamakannya Dār al-Salām, undangan itu sendiri menjadi petunjuk tentang kualitas tempat yang dituju, karena Dzat yang Maha Agung, ketika memuji sesuatu dan mendorong manusia untuk menginginkannya dengan dorongan yang berulang-ulang di sepanjang kitab suci-Nya, maka sesuatu itu tentu memiliki kualitas yang melampaui apa yang bisa dibayangkan oleh pikiran manusia.

“Allah menyeru (manusia) ke Dārussalām (surga) dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk).” (QS. Yūnus [10]: 25)

Allāhu a‘lam

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Subscribe Newsletter

Latest Posts