Setiap manusia yang pernah mencoba menahan diri dari sesuatu yang ia inginkan tentu tahu tentang betapa sulitnya perjuangan itu. Seseorang yang sedang berdiet dan melewati restoran favoritnya tidak hanya berhadapan dengan rasa lapar, tetapi juga dengan ingatan tentang betapa nikmatnya makanan di tempat itu, dan lebih dari itu, ia juga memiliki keyakinan bahwa menikmati makanan yang enak adalah hal yang memang wajar dan layak dilakukan. Tiga lapis ini, yaitu keinginan itu sendiri, kecintaan terhadap keinginan itu, dan keyakinan bahwa kecintaan itu baik, beroperasi secara bersamaan di dalam diri manusia setiap kali ia berhadapan dengan sesuatu yang menarik hatinya. Struktur tiga lapis inilah yang diungkap dalam al-Qur’an ketika Allah ta’ālā berfirman,
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 14)
Ayat ini tidak sebatas mengatakan bahwa manusia menyukai hal-hal duniawi. Strukturnya menyimpan tiga tingkatan yang tersusun secara berlapis dan saling memperkuat satu sama lainnya. Tingkatan pertama adalah bahwa manusia memang memiliki syahwat, yaitu keinginan terhadap berbagai hal yang menyenangkan bagi dirinya. Ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri dan tidak pula perlu diperdebatkan, karena setiap manusia yang sehat jiwanya pasti merasakan ketertarikan terhadap makanan yang lezat, pasangan yang menarik, harta yang berlimpah, dan kenyamanan hidup secara umum. Tingkatan kedua adalah bahwa manusia tidak hanya memiliki syahwat, tetapi juga mencintai syahwatnya itu. Apa bedanya? Seseorang bisa saja memiliki keinginan terhadap sesuatu sambil merasa tidak nyaman dengan keinginan itu, seperti orang yang kecanduan rokok tetapi ndak suka dengan kecanduannya. Namun apa yang digambarkan oleh ayat ini adalah kondisi di mana manusia itu justru mencintai keinginannya, merasa nyaman dengannya, dan menjadikannya sebagai bagian dari identitas dirinya. Tingkatan ketiga, yang merupakan puncak dari seluruh struktur ini, adalah bahwa kecintaan itu telah dihiasi sehingga tampak sebagai sesuatu yang baik dan terpuji. Kecintaan terhadap syahwat itu tidak lagi dibiarkan apa adanya, namun justru dipoles, dihias dan diperindah sehingga pemiliknya meyakini bahwa mencintai hal-hal tersebut adalah sikap yang benar, bahkan merupakan bagian dari menjalani kehidupan yang baik.
Ketika tiga lapis ini bertumpuk dalam diri seseorang, yaitu ketika ia menginginkan sesuatu, mencintai keinginannya, dan sekaligus meyakini bahwa kecintaannya terhadap sesuatu itu baik, maka kekuatan tarikan syahwat mencapai titik puncaknya. Ikatan semacam ini hampir tidak bisa dilepaskan kecuali dengan taufik yang besar dari Allah ta‘ālā, karena orang yang terikat oleh tiga lapis ini bukan hanya sedang melawan keinginannya saja, tetapi juga melawan kecintaannya terhadap keinginan itu dan sekaligus melawan keyakinannya bahwa kecintaan itu benar. Melawan keinginan saja sudah berat, apalagi melawan kecintaan terhadap keinginan itu, dan terlebih lagi melawan keyakinan bahwa kecintaan itu baik. Orang yang sudah sampai di lapis ketiga ini cenderung akan melihat setiap nasihat untuk menahan diri sebagai sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal, karena dalam pandangannya, mencintai hal-hal duniawi justru merupakan sikap yang sehat dan natural.
Siapa yang berpotensi terbelenggu dengan tiga lapis syahwat ini? Dalam ayat tersebut di atas rupanya digunakan kata al-nās dengan huruf alif dan lām yang menunjukkan keumuman, sehingga hukum ini berlaku untuk seluruh manusia tanpa kecuali. Keumuman ini sejalan dengan apa yang bisa kita amati dari kenyataan dalam diri kita, pun dengan lingkungan sekitar kita. Segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan dan manfaat pasti dicintai dan diinginkan oleh tabiat manusia, entah itu kenikmatan jasmani ataupun kenikmatan ruhani. Kenikmatan jasmani adalah sesuatu yang dialami oleh setiap orang sejak awal kehidupannya. Bayi yang baru lahir sudah merasakan nikmat jenis ini dalam bentuk kehangatan dan rasa kenyang, lalu kenikmatan-kenikmatan jasmani ini terus menemani manusia sepanjang hidupnya dalam berbagai bentuknya yang semakin kompleks seiring bertambahnya usia. Kenikmatan ruhani, sebaliknya, hanya dialami oleh segelintir orang dalam kondisi yang sangat jarang. Seseorang yang merasakan nikmatnya bermunajat di tengah malam atau nikmatnya memahami sebuah kebenaran setelah perenungan yang panjang sedang merasakan kenikmatan ruhani, tetapi pengalaman semacam ini tidak datang secara otomatis dan cepat, sebagaimana kenikmatan jasmani.
Bahkan pada segelintir orang yang berhasil merasakan kenikmatan ruhani pun, kenikmatan itu baru hadir setelah jiwanya terlebih dahulu terbiasa dengan kenikmatan jasmani. Tidak ada manusia yang langsung merasakan nikmatnya beribadah sejak pertama kali ia lahir ke dunia, karena yang pertama kali ia rasakan adalah nikmatnya menyusu, nikmatnya kehangatan, dan nikmatnya tidur. Kenikmatan jasmani datang lebih dulu dan menetap lebih lama, sehingga ia menjadi semacam kebiasaan yang sudah mengakar kuat di dalam jiwa. Secara otomatis, diri kita pun mengenalinya sebagai sesuatu yang normal. Atau bahkan, kita sudah menganggapnya sebagai suatu kebutuhan. Adapun kenikmatan ruhani, ia datang belakangan dan bersifat lebih rentan dan mudah hilang oleh sebab-sebab yang tampaknya sepele. Seseorang yang sudah merasakan nikmatnya salat malam misalnya, bisa saja kehilangan kenikmatan itu hanya karena satu malam begadang menonton sesuatu yang menyenangkan bagi nafsunya. Kenapa? Karena kebiasaan jiwa terhadap kenikmatan jasmani sudah sedemikian kuatnya sehingga ia menyerupai malakah, yaitu kemampuan yang sudah menetap dan sulit diubah (sifatnya sudah intuitif), sementara ketertarikan jiwa terhadap kenikmatan ruhani menyerupai kondisi sementara yang bisa lenyap kapan saja. Inilah sebabnya mayoritas manusia didominasi oleh kecenderungan yang sangat kuat terhadap kenikmatan jasmani, dan sangat jarang orang yang berhasil menggeser dominasi itu ke arah kenikmatan ruhani. Kalaupun berhasil, itu pun tidak dalam setiap waktu.
Kerentanan kenikmatan ruhani inilah yang menjadikannya selalu membutuhkan penjagaan yang intens, dan barangkali itulah sebabnya doa dan permohonan taufik menempati posisi yang begitu sentral dalam kehidupan seorang mukmin, karena ia sepenuhnya sadar bahwa kemauannya sendiri tidak akan pernah cukup untuk menghadapi sesuatu yang sudah melekat di dalam dirinya sejak hari pertama ia mengenal dunia.
Allāhu a‘lam
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar