Allah ta‘ālā berfirman,
وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan siapa yang diberi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah [2]: 269)
Kata ḥikmah sendiri hadir di banyak tempat dalam al-Qur’an, dan di setiap tempat itu, ia memunculkan makna yang berbeda-beda. Penelusuran terhadap penggunaan kata ini di berbagai konteks ayat menghasilkan setidaknya empat makna yang berbeda, sebagaimana dituturkan oleh Muqātil bin Sulaymān.
Makna pertama adalah nasihat-nasihat dan pelajaran yang terkandung di dalam al-Qur’an. Hal ini tampak ketika Allah menyebut bahwa Dia menurunkan al-Kitāb dan al-Ḥikmah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 231 dan QS. Al-Nisā’ [4]: 113, yang dimaksud dengan hikmah di sini adalah dimensi nasihat dan pengajaran yang dibawa oleh al-Qur’an, yaitu pesan-pesan yang menggerakkan hati dan membimbing perilaku manusia. Makna kedua adalah pemahaman dan ilmu pengetahuan yang diberikan kepada seseorang secara khusus. Sebagaimana Allah mengisahkan bahwa Dia memberikan al-ḥukm kepada Nabi Yaḥyā ‘alayhissalām sejak kecil dalam QS. Maryam [19]: 12, atau memberikan hikmah kepada Luqmān dalam QS. Luqmān [31]: 12, yang dimaksud adalah kemampuan memahami hakikat sesuatu dan ilmu yang dengannya seseorang bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Makna ketiga adalah kenabian itu sendiri, seperti ketika Allah menyebut bahwa Dia memberikan kepada keluarga Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām al-Kitāb wa al-Ḥikmah dalam QS. Al-Nisā’ [4]: 54, atau memberikan hikmah kepada Nabi Dāwūd ‘alayhissalām dalam QS. Shād [38]: 20, yang dimaksud adalah jabatan kenabian yang membawa otoritas untuk menyampaikan wahyu dan memimpin umat. Makna keempat adalah al-Qur’an secara keseluruhan sebagai kitab petunjuk, sebagaimana dalam perintah untuk berdakwah dengan hikmah dalam QS. Al-Naḥl [16]: 125.
Keempat makna ini, meskipun tampaknya berbeda satu sama lain, pada hakikatnya bermuara pada satu akar yang sama, yaitu ilmu. Nasihat al-Qur’an adalah bentuk dari ilmu. Pemahaman dan kecerdasan yang diberikan kepada Luqmān dan Nabi Yaḥyā adalah bentuk dari ilmu. Kenabian sendiri pada dasarnya adalah ilmu tertinggi yang diberikan Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya, karena seorang nabi adalah orang yang menerima pengetahuan langsung dari Allah melalui wahyu. Dan al-Qur’an, sebagai kitab petunjuk juga pada hakikatnya adalah sumber ilmu. Maka ketika Allah mengatakan bahwa siapa yang diberi hikmah maka ia telah diberi kebaikan yang banyak, yang sesungguhnya sedang dikatakan adalah bahwa siapa yang diberi ilmu maka ia telah diberi kebaikan yang banyak, apa pun bentuk ilmu itu dan melalui jalur mana pun ia diperoleh.
Kalimat “kebaikan yang banyak” dalam ayat ini menjadi semakin jelas bobotnya ketika disandingkan dengan penggunaan kata “sedikit” di tempat lain dalam al-Qur’an. Allah menyebut bahwa ilmu yang diberikan kepada manusia hanya sedikit dalam firman-Nya,
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 85)
Pada saat yang sama, Allah juga menyebut seluruh dunia beserta isinya sebagai sesuatu yang sedikit dalam firman-Nya,
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ
“Katakanlah, kesenangan dunia itu sedikit.” (QS. Al-Nisā’ [4]: 77)
Ternyata, seluruh dunia dengan segala kenikmatan, kekayaan, kekuasaan, dan kemegahannya disebut oleh Allah sebagai sesuatu yang sedikit. Kita sendiri pada hakikatnya tidak benar-benar mampu menghitung besarnya apa yang disebut “sedikit” oleh Allah ini, karena dunia yang kita tinggali begitu luas dan begitu penuh dengan hal-hal yang sulit dihitung jumlahnya. Maka, bagaimana dengan sesuatu yang Dia sebut “banyak” sebagai lawan dari sedikit? Jika apa yang Dia sebut sedikit saja sudah sedemikian besarnya dalam ukuran kita, maka apa yang Dia sebut banyak tentu berada di luar jangkauan imajinasi kita.
Kita bisa saja membandingkannya dengan pendekatan yang lebih rasional. Kita semua pasti sadar bahwa dunia ini bersifat terbatas dalam segala aspeknya. Ya terbatas ukurannya, terbatas jumlahnya, dan terbatas masa berlangsungnya, karena ia pasti berakhir pada suatu titik yang sudah ditentukan pada suatu saat nanti. Ilmu, sebaliknya, tidak memiliki batas dalam ukurannya, jumlahnya, maupun masa berlangsungnya, karena ilmu yang benar tidak pernah kedaluwarsa dan kebahagiaan yang lahir darinya tidak pernah ada habisnya. Perbandingan antara sesuatu yang terbatas dan sesuatu yang tidak terbatas sudah cukup untuk menjelaskan mengapa Allah menyebut dunia sebagai “sedikit” dan menyebut hikmah sebagai “kebaikan yang banyak,” karena yang terbatas, sebesar apa pun tampilannya, tetap kecil jika disandingkan dengan yang tidak terbatas.
Allāhu a‘lam
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar