Setiap amalan dalam syariat Islam memiliki kaitan langsung dengan Rasulullah ﷺ. Salat yang kita tunaikan lima kali sehari misalnya, mengikuti tata cara yang beliau ajarkan. Begitupun dengan puasa yang kita jalani di bulan Ramadhan, sudah mesti mengikuti ketentuan yang beliau sampaikan. Zakat, haji, dan seluruh rukun Islam lainnya juga sampai kepada kita melalui penjelasan dan teladan dari beliau. Bahkan dalam salat, yang merupakan syiar terbesar agama ini, Rasulullah ﷺ memiliki bagian yang sangat besar, karena kita membaca salawat kepada beliau di dalamnya, mengikuti gerakan-gerakan yang beliau contohkan, dan menunaikannya pada waktu-waktu yang telah beliau tentukan. Maka, hubungan antara seorang muslim dan amal ibadahnya tidak pernah terlepas dari hubungannya dengan Rasulullah ﷺ, karena beliaulah yang menyampaikan seluruh syariat itu dari Allah ta‘ālā kepada kita.
Konsekuensinya, ketika seseorang menjalankan amal-amal syariat tanpa menempatkan Rasulullah ﷺ pada posisi yang semestinya dalam hatinya, yaitu sebagai pembawa risalah yang harus diimani, ditaati, dicintai, diagungkan, dan dijadikan teladan, maka amal-amal itu kehilangan ruhnya meskipun bentuk lahiriahnya tampak sempurna. Misalnya ada seseorang yang salat dengan gerakan yang benar dan bacaan yang fasih, namun ternyata tidak memiliki pengagungan terhadap Nabi yang mengajarkan salat itu kepadanya, dia seolah sedang melakukan sesuatu yang secara lahiriah terlihat komplit tetapi secara batin terputus dari sumbernya.
Dengan demikian, iman kepada Rasulullah ﷺ beserta seluruh cabang-cabangnya, mulai dari membenarkan apa yang beliau sampaikan, mengikuti apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang, sampai mencintai beliau dan mengagungkan kedudukan beliau, semua itu merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari keabsahan amal seseorang di hadapan Allah. Siapa yang mengira bahwa ia bisa selamat hanya dengan amal dan usahanya sendiri tanpa memperhatikan hubungannya dengan Rasulullah ﷺ secara utuh, ia bagaikan mengejar sesuatu yang mustahil untuk digapai.
Namun kenyataan bahwa kebanyakan kita tidak mampu mencapai derajat amal dan ketaatan yang sempurna terhadap Rasulullah ﷺ tentu melahirkan kegelisahan tersendiri, dan kegelisahan semacam itu pernah diungkapkan secara langsung oleh seorang Arab Badui kepada beliau. Orang itu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan kiamat akan tiba?” Rasulullah ﷺ tidak langsung menjawab pertanyaannya, tetapi menimpali dengan pertanyaan balik, “Memang apa yang telah kamu persiapkan untuk hari itu?” Orang itu menjawab spontan tanpa tedeng aling-aling, “Wahai Nabi, aku tidak menyiapkan suatu amalan salat atau puasa yang banyak untuk hari itu, tetapi aku sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Statemen ini agaknya menggambarkan kegelisahan yang juga dirasakan oleh kebanyakan kita, yaitu kegelisahan seseorang yang hatinya sudah tertambat kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi ia sadar betul bahwa bekal amalnya masih sangat sedikit untuk menghadapi hari yang ditanyakan itu.
Jawaban Rasulullah ﷺ atas jawaban spontan si Badui itu lantas menjadi salah satu hadis yang paling menggembirakan hati umat Islam sepanjang sejarah,
اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang bersama orang yang ia cintai.”
Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anh meriwayatkan bahwa orang Arab Badui itu sangat gembira mendengar jawaban ini, dan bahwa beliau beserta para sahabat tidak pernah melihat wajah seorang muslim yang sesumringah itu. Kegembiraan ini sangat bisa dipahami, karena hadis ini membuka pintu harapan yang sangat luas bagi setiap muslim yang merasa amalnya kurang. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia adalah amalan hati yang tampaknya ringan jika dibandingkan dengan salat malam bertahun-tahun atau puasa sepanjang hayat, ternyata memiliki bobot yang cukup untuk menempatkan seseorang bersama orang-orang yang ia cintai di akhirat kelak. Hadis ini menjadi semacam “sedekah” dari Rasulullah ﷺ kepada seluruh umatnya, dari yang pertama sampai yang terakhir, karena setiap muslim yang betul-betul mencintai beliau di dalam hatinya, betapapun besar kekurangan amalnya, tetap memiliki harapan untuk berada di dekat beliau berkat cinta itu.
Hadis ini sekaligus menjelaskan mengapa cinta kepada Rasulullah ﷺ ditempatkan sebagai bagian dari iman itu sendiri, karena cinta itulah yang menyatukan seluruh umat beliau dalam satu ikatan yang melampaui perbedaan kadar amal di antara mereka. Seorang sahabat yang amalnya sangat banyak dan seorang Arab Badui yang mengaku tidak memiliki banyak bekal salat dan puasa, keduanya seolah memiliki pintu yang sama untuk meraih kedekatan dengan Rasulullah ﷺ, yaitu pintu cinta yang tulus kepada beliau. Perbedaan kadar amal tentu tetap membawa perbedaan derajat di akhirat, tetapi cinta yang menjadi dasar dari seluruh amal itulah yang memastikan bahwa seseorang tidak terputus dari Rasulullah ﷺ meskipun amalnya belum sempurna.
Allāhu a‘lam
Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar