Sekitar sebelas tahun sebelum Napoleon menginjakkan kakinya di Mesir, seorang ulama besar wafat di sebuah kamar sederhana yang menempel dengan masjid tempatnya mengajar selama puluhan tahun. Sang ulama itu bernama Syaikh al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Ahmad, yang lebih dikenal dengan sebutan al-Dardir. Beliau meninggal pada tahun 1201 H (1786 M) dalam usia sekitar 74 tahun (atau 71 tahun dalam hitungan masehi), setelah menghabiskan hampir seluruh usianya di lingkungan al-Azhar, mengajar dari sebuah mihrab kecil di pintu belakang masjid yang konon selalu penuh dari ujung ke ujung setiap kali ia membuka halaqah.
Nama al-Dardir sendiri sebenarnya bukan berasal dari keluarganya. Laqab itu melekat karena seorang syaikh kabilah Arab bernama al-Dardir pernah singgah sebagai tamu di rumah leluhurnya di tengah komunitas Bani ‘Adi, Asyut, dan tuan rumah yang menjamunya kemudian dikenal dengan nama tamunya itu. Cucunya, Ahmad, yang lahir pada 1127 Hijriah, mewarisi laqab tersebut dan membawanya ke Kairo ketika ia menempuh pendidikan di al-Azhar hingga akhirnya diangkat sebagai Syaikh al-Malikiyyah.
Gelar Syaikh al-Malikiyyah di masa itu bukanlah gelar sembarangan. Pada zaman Imam al-Dardir, seseorang tidak bisa menyandang gelar itu kecuali ia benar-benar diakui sebagai orang paling berilmu di seluruh Mesir dalam madzhab yang diwakili, dan pengakuan itu datang bersama tanggung jawab penuh atas ruwaq, semacam asrama mahasiswa Maliki di al-Azhar, mulai dari urusan makan dan minum penghuni asrama, pakaian mereka, hingga pencatatan siapa yang hadir dan siapa yang tidak. Gelar kehormatan dengan beban pengelolaan sehari-hari seperti ini barangkali terasa asing bagi kita yang terbiasa melihat gelar akademik sebagai sesuatu yang berhenti di ijazah semata. Tapi beginilah tradisi keilmuan di al-Azhar pada abad kedua belas Hijriah, di mana seorang ulama besar juga sekaligus pengurus logistik bagi para penuntut ilmu yang berada di bawah tanggungannya.
Imam al-Dardir menulis banyak karya, dan hampir semuanya masih dipelajari hingga hari ini. Al-Syarḥ al-Kabīr dan al-Syarḥ al-Ṣaghīr dalam fikih Maliki, matan dan syarah dalam ilmu balaghah, nadzam tentang asma’ al-husna, dan tentu saja al-Kharīdah al-Bahiyyah yang akan kita ulas selama beberapa waktu kedepan, insyā Allāh. Satu hal yang cukup langka dari Imam al-Dardir adalah bahwa seluruh karyanya seakan mendapat semacam perlindungan dari kritik. Banyak ulama besar yang karya-karyanya diperdebatkan, dikritisi, bahkan diserang secara terbuka oleh pihak-pihak yang berseberangan. Tapi Imam al-Dardir, seorang Asy‘ari bermadzhab Maliki yang juga menempuh jalan tarekat Khalwatiyyah, tampaknya tidak pernah menjadi sasaran serangan semacam itu. Karya-karya beliau dibaca dan diajarkan lintas madzhab tanpa resistensi yang berarti, dan fenomena ini sendiri dianggap sebagai salah satu tanda keikhlasan penulisnya.
Al-Kharīdah al-Bahiyyah sendiri adalah kitab yang “hanya” ditulis dalam satu malam. Judul kitab ini, sebagaimana telah disebutkan, terdiri dari dua kata yang masing-masing membawa gambaran tersendiri; kharīdah dalam bahasa Arab merujuk pada mutiara yang belum dilubangi, yaitu mutiara yang masih utuh, belum disentuh, dan karena keutuhannya itu nilainya jauh lebih tinggi dari mutiara yang sudah ditembus lubang untuk dijadikan kalung. Sedangkan kata bahiyyah berasal dari akar kata bahā’ yang berarti cahaya, sehingga judul lengkapnya kurang lebih bermakna “mutiara yang berkilauan.”
Kitab ini tersajikan dalam bentuk syair/nadzam. Tujuh puluh satu bait saja, ditulis oleh Imam al-Dardir di kamar yang sekarang menjadi maqam beliau, dan beliau sendiri menyatakan bahwa bait-bait itu seolah turun satu demi satu ke lisannya tanpa harus berpikir panjang. Fenomena semacam ini, di mana seorang ulama menyelesaikan sebuah karya utuh dalam waktu sangat singkat, bukan sesuatu yang asing dalam tradisi keilmuan Islam. Imam al-Laqqani juga meriwayatkan pengalaman serupa ketika menadzamkan Jawharat al-Tawḥīd, dan Syaikh al-Islām Zakariyya al-Anshari pun dikenal “mudah” menyelesaikan beberapa karyanya dalam tempo yang sangat pendek. Para ulama memandang kecepatan penulisan semacam ini sebagai futūḥ dari Allah, semacam karunia yang diberikan kepada hamba-Nya yang ikhlas, dan bukan sebagai tanda ketergesa-gesaan.
Meski kecil ukurannya, Imam al-Dardir sendiri yang menegaskan bahwa nadzam ini memadatkan intisari seluruh ilmu tauhid. Melalui dua bait syairnya, beliau berkata,
لَطِيْفَةٌ صَغِيْرَةٌ فِي الحَجْمِ … لكِنَّهَا كَبِيْرَةٌ فِي العِلْمِ
تَكْفِيْكَ عِلْماً إِنْ تُرِدْ أَنْ تَكْتَفِيْ … لِأَنَّهَا بِزُبْدِةِ الفَنِّ تَفِيْ
“(Ia) ringan dan kecil ukurannya, namun besar dalam muatan ilmunya. Cukuplah bagimu ilmu ini jika engkau hendak mencukupkan diri (dengan nadzam ini), karena ia telah memenuhi intisari dari ilmu ini (tauhid).”
Ungkapan ini tentu perlu ditempatkan dalam konteksnya. Dalam tujuh puluh satu bait gubahannya, Imam al-Dardir berhasil mempresentasikan empat wilayah besar, tiga yang secara langsung berkaitan dengan ilmu tauhid, dan satu sisanya terkait tasawuf/tazkiyah al-nafs. Bagian pertama membahas ilāhiyyāt, yaitu segala yang berkaitan dengan Allah, mulai dari sifat wajib, mustahil, hingga jaiz bagi-Nya. Bagian kedua membahas nubuwwāt, yaitu segala yang berkaitan dengan para rasul dan nabi. Bagian ketiga membahas sam‘iyyāt, yaitu perkara-perkara ghaib yang hanya bisa diketahui melalui wahyu. Terakhir, dan ini yang membedakan al-Kharīdah dari kebanyakan nadzam akidah lainnya, Imam al-Dardir menutup dengan bagian yang membahas adab suluk dan tasawuf, semacam nasihat-nasihat praktis tentang perjalanan batin menuju Allah. Empat wilayah ini menjadikan al-Kharīdah sebagai paket ringkas yang cukup lengkap bagi seorang Muslim yang ingin memahami pokok-pokok keyakinannya secara utuh.
Imam al-Dardir memulai nadzam tauhidnya dengan hamdalah, yang secara implisit sudah mengandung materi akidah, menyebut sifat-sifat Allah seperti al-‘Alī (Maha Tinggi), al-Wāḥid (Maha Esa), al-‘Ālim (Maha Mengetahui), al-Fard (Maha Tunggal), al-Ghanī (Maha Kaya, Maha Tidak Butuh Pada selain-Nya), dan al-Mājid (Maha Mulia), sehingga muqaddimahnya sendiri sudah berfungsi sebagai semacam pratinjau terhadap isi kitab yang akan datang. Teknik ini biasa disebut dengan barā’at al-istihlāl, yaitu ketika pembukaan sebuah karya sudah mengandung isyarat terhadap isi pembahasannya.
Muqaddimah dalam tradisi penulisan karya ulama pada umumnya memuat delapan unsur: basmalah (muqaddimah ḥaqīqiyyah), hamdalah (muqaddimah iḍāfiyyah), shalawat kepada Nabi ﷺ, penyebutan nama penulis, penyebutan nama kitab, tujuan penulisan (gharaḍ al-ta’līf), ammā ba‘d sebagai pemisah antara muqaddimah dan isi, serta isti’dzān alias permohonan izin untuk masuk ke pembahasan inti. Imam al-Dardir telah memenuhi seluruh unsur ini dalam beberapa bait pembuka, meski beliau tidak menyebutkan ammā ba‘d secara eksplisit dan memilih transisi yang lebih organik, dalam ungkapannya,
وَاللهَ أَرْجُو فِي قَبُولِ العَمَلِ … وَالنَّفْعَ مِنْهَا ثُمَّ غَفْرَ الزَّلَلِ
“Dan kepada Allah-lah aku berharap diterimanya amal ini, serta manfaat darinya, kemudian pengampunan atas segala kekhilafan.”
Bait ini adalah isti’dzān Imam al-Dardir. Beliau memohon tiga hal sebelum melangkah ke isi kitab, yaitu diterimanya amal penulisan, bermanfaatnya karya ini bagi pembaca, dan diampuninya kekeliruan yang mungkin terselip di dalamnya. Ketiganya menunjukkan posisi seorang penulis yang tahu betul bahwa apa yang beliau tulis bisa saja mengandung kekurangan, dan bahwa penerimaan di sisi Allah bukan sesuatu yang bisa beliau pastikan sendiri.
Sikap ini layak digarisbawahi, karena datang dari seorang yang disebut-sebut sebagai Syaikh al-Malikiyyah, ulama terbesar madzhab Maliki di masanya, yang malam itu duduk di kamarnya dan menuliskan tujuh puluh satu bait dengan kecepatan yang beliau sendiri gambarkan sebagai bait-bait yang “berjatuhan” ke lisannya.
Beginilah Imam al-Dardir membuka karyanya. Tujuh puluh satu bait yang ditulis dalam satu malam di kamar sederhana seorang ulama bermadzhab Maliki yang juga bertarekat Khalwati. Beliau memulai dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi, memperkenalkan dirinya dan karyanya, lalu memohon agar amalnya diterima dan kekeliruannya diampuni, sebelum melangkah ke pembahasan yang akan membentang dari sifat-sifat Allah hingga adab perjalanan batin menuju-Nya. Tapi sebelum kita mengikuti langkah Imam al-Dardir memasuki pembahasan inti, ada satu pertanyaan mendasar yang sepertinya perlu untuk kita jawab bersama terlebih dahulu, mengapa seseorang perlu mempelajari akidah secara sistematis?
Kita lanjutkan di artikel berikutnya.
Tabik,
Ibnu
* Artikel ini adalah bagian dari series “Syarah al-Kharīdah al-Bahiyyah” yang semoga bisa diulas secara tuntas via blog ini.

Tinggalkan komentar