Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Ketika Hadiah Mengaburkan Penilaian

Syaikh Mutawalli Sya’rawi, seorang mufassir kondang asal Mesir, pernah menceritakan kisah tentang seorang hakim yang terkenal adil. Semua orang tahu kredibilitas Hakim ini. Namun ia punya “kelemahan,” yaitu sangat suka dengan kurma segar. Semua orang juga tahu soal ini. Lalu, apa masalahnya dengan suka kurma segar?

Jadi, pada suatu hari ada seseorang yang sedang berperkara di pengadilan yang dipimpin oleh hakim tersebut. Orang ini kemudian mengirimkan sepiring kurma kepada sang hakim. Kurmanya adalah yang paling awal panen musim itu, yang biasanya paling dinanti-nanti karena rasanya.

Pelayan hakim menerima hadiah itu. Hakim kemudian bertanya dari mana asal kurma tersebut kepada pelayannya. Setelah dijelaskan, sang hakim langsung mengenali bahwa pengirimnya adalah orang yang sedang menunggu keputusan perkaranya. Sehingga, sang hakim secara otomatis menolak hadiah itu.

Sampai disini, ceritanya masih tampak biasa saja. Hakim yang adil menolak suap, selesai. Tapi kelanjutan kisah inilah yang justru lebih menarik.

Ketika jadwal sidang tiba, kedua pihak yang berperkara masuk ke ruang pengadilan. Sang hakim duduk di kursinya, melihat kedua orang itu, kemudian terdiam. Dalam persidangan itu, dia tidak memutuskan apa-apa. Dia justru meninggalkan kursinya dan bergegas pergi menemui gubernur.

Hakim itu tiba-tiba mengajukan pengunduran diri (dari kasus ini). Tentu saja gubernur kaget. Ini hakim terbaik yang dia punya. “Kenapa kamu mau mundur? Semua orang tahu kamu adil.”

Sang hakim lalu menceritakan soal kurma tadi kepada gubernur. “Saya sudah menolak hadiahnya,” katanya. “Tapi ketika kedua orang itu berdiri di depan saya, mereka tidak terlihat seimbang di mata saya. Saya tidak bisa memutuskan perkara mereka dengan adil.”

Padahal hakim itu sudah menolak hadiah kurma tersebut. Tapi ternyata, penolakan saja tidak cukup. Rupanya, ada semacam jejak psikologis yang tertinggal. Ada bias yang sudah terbentuk tanpa dia sadari. Meskipun niatnya tetap untuk berlaku adil, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang sudah bergeser.

Inilah soal yang jarang kita sadari. Kita sering berpikir bahwa selama kita tidak menerima sesuatu, kita masih netral. Kita merasa bisa tetap objektif. Padahal, keberadaan tawaran itu sendiri sudah mengubah sesuatu dalam pikiran kita.

Sang hakim dalam kisah ini paham betul batasannya. Dia tahu bahwa keadilan bukan cuma soal keputusan akhir yang benar, tapi juga soal proses dan kondisi batin saat memutuskan. Kalau ada yang mengganjal, sekecil apapun, lebih baik mundur daripada memaksakan keputusan yang mungkin tidak sepenuhnya adil.

Mungkin kebanyakan dari kita bukanlah seorang hakim. Tapi kita semua sering berada dalam posisi yang menuntut untuk berlaku adil. Entah itu sebagai orang tua, atasan, teman, atau bahkan pada diri sendiri. Dan sepertinya, pelajaran dari hakim ini cukup gamblang, bahwa terkadang yang benar bukanlah sebatas menolak godaan, tapi mengenali kapan kita sudah tidak bisa lagi bersikap adil.

Tabik,
Ibnu

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.