Taubat: Langkah Pertama untuk Menuju Allah SWT

Taubat secara bahasa artinya adalah kembali. Sedangkan menurut istilah syara’, taubat adalah kembali dari sesuatu yang dicela dalam syariat menuju sesuatu yang dipuji dalam syariat.1 Taubat termasuk laku batin yang jika dilaksanakan dengan benar, maka akan dapat menyucikan hati dari berbagai dosa.2 Mayoritas ulama’ berpendapat bahwa taubat merupakan titik permulaan dari sebuah perjalanan spiritual yang akan dilalui oleh para Salik.

Bahkan menurut Ibnu al-Qayyim, taubat bukan hanya merupakan pintu gerbang jalur pendakian spiritual semata. Taubat adalah awal permulaannya, pertengahannya, termasuk pula akhirannya.3 Maka sudah seharusnya setiap Salik menapaki jalur taubat di setiap jalur pendakian spiritualnya, agar dapat mengantarkannya dari satu tempat ke tempat yang lebih tinggi. Karena sejatinya taubat itu adalah garis start bagi seorang Salik, sekaligus garis finish-nya.

Sedangkan menurut Imam al-Ghazali, taubat tidak akan terlepas dari tiga keadaan yang saling terkait satu sama lain. Ketiga keadaan itu secara berurutan adalah ilmu (pengetahuan), hal (kondisi diri), dan fi’l (perbuatan). Ilmu adalah bentuk pengetahuan bahwa kerugian terbesar yang dihasilkan oleh dosa adalah munculnya hijab antara seorang hamba terhadap kekasihnya (Allah swt). Posisi seseorang pada keadaan pertama ini secara otomatis memicu terjadinya keadaan kedua, dan keadaan kedua ini akan memicu keadaan ketiga.4

Keadaan pertama (ilmu) itu adalah keyakinan bahwa ada beberapa hal yang jika dikerjakan bisa membuat seseorang kehilangan kekasihnya. Kemudian, jika hal yang membuat seseorang menjadi kehilangan itu tetap dilakukannya, ia akan menderita karena menyesali perbuatan terlarang yang dilakukannya. Saat ia merasa menderita itulah yang dimaksud hal (kondisi diri) yang mau bertaubat. Keadaan ini kemudian memancing satu keadaan lagi, dimana ketika seorang hamba sudah merasakan betapa sakitnya kehilangan kekasih, ia akan melakukan segala upaya (fi’l) agar ia tak merasakan sakit dan pedih yang sama lagi.5

Ketika kepedihan ini menguasai hatinya, bangkitlah sebuah keadaan lain yang disebut iradah (keinginan) dan qashd (maksud/tujuan) untuk melakukan perbuatan yang terkait dengan tiga dimensi masa: kini, dulu, dan nanti. Perbuatan yang terkait dengan masa kini adalah meninggalkan semua dosa yang sedang menyelimutinya. Sedangkan keterkaitannya dengan masa nanti, ia bertekad kuat  untuk meninggalkan dosa yang membuatnya kehilangan kekasih sampai akhir hayatnya. Adapun keterkaitannya dengan masa dulu adalah menebus apa yang telah diperbuatnya di masa lampau.6

Maka dari itu, apabila seseorang meninggalkan segala dosa yang berhubungan dengan masa kini, dulu, dan nanti disertai dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan masa lalu secara teratur, ia sudah dapat disebut bertaubat. Meskipun taubat sejatinya adalah konsekuensi dari tiga perkara, ilmu (pengetahuan), nadam (penyesalan), dan qashd (tujuan). Namun, kadangkala taubat hanya mengindikasikan makna penyesalan saja.7 Seorang ahli hakikat juga menegaskan bahwa penyesalan sudah cukup untuk mewujudkan taubat, karena penyesalan itu otomatis diikuti oleh rukun-rukun taubat lainnya.8

Sebagaimana sabda Nabi saw,

الندم توبة 9

Artinya: Penyesalan adalah Taubat.

Menurut para sufi, hadits ini menunjukkan bahwa penyesalan adalah konsep umum dari taubat. Sebagaimana Nabi saw bersabda, “Haji adalah Arafah”. Artinya, sebagian besar dari rukun haji adalah wukuf di Arafah, karena inilah rukun yang paling tampak dan menonjol. Maka, sabda Nabi bahwa penyesalan adalah taubat menunjukkan bahwa sebagian besar dari rukun taubat adalah penyesalan.10

Kewajiban Taubat

Apabila seseorang telah mengetahui hakikat taubat, maka akan sangat jelas baginya bahwa taubat adalah suatu kewajiban bagi siapapun.11 Bahkan kewajiban ini sangat jelas, dengan didukung banyaknya hadits dan ayat al-Qur’an sebagai dalil. Maka, taubat itu wajib bagi seluruh pendosa dan pelaku maksiat, baik itu dosa kecil maupun dosa besar. Tidak ada alasan yang dibenarkan bagi siapapun untuk tidak melakukan taubat setelah berbuat maksiat.12

Taubat itu wajib karena makna intinya adalah mengetahui bahwa dosa-dosa mempunyai sifat yang menghancurkan pelakunya. Sehingga, dari pengetahuan tersebut akan muncul satu dorongan untuk meninggalkan berbagai dosa. Hakikatnya, semua orang  adalah pendosa kecuali para nabi dan rasul. Tidak terlepasnya manusia dari perbuatan dosa, kebanyakan disebabkan oleh sifat-sifat bawaan manusia: sifat rububiyah (penuhanan), syaithaniyah (kesetanan), bahimiyah (kebinatangan), dan sabu’iyah (kebuasan).13

Sifat rububiyah menyebabkan seseorang untuk takabur, bangga diri, cinta pujian, sanjungan, hingga gila hormat. Beberapa sifat tercela ini adalah dosa-dosa yang menghancurkan, dan merupakan yang paling dahsyat. Kemudian sifat syaithaniyah senantiasa memancing seseorang untuk memiliki sifat dengki, sewenang-wenang, menipu, berbohong, munafik, hingga memerintahkan kepada kerusakan. Berikutnya, sifat bahimiyah membuat seseorang untuk bertindak jahat, memenuhi nafsu perut dan syahwat kemaluan, berbuat zina, homoseks, dan mencuri. Terakhir adalah sifat sabu’iyah yang darinya seseorang dibuat untuk memunculkan amarah, dengki, membunuh, menyerang, dan merampas harta.14

Menurut Imam al-Ghazali, ada dua alasan yang membuat seseorang wajib bertaubat. Pertama, agar seseorang dapat memperoleh pertolongan untuk sampai pada ketaatan. Sejatinya perbuatan dosa sangat menghambat usaha seseorang untuk mematuhi dan mengabdi kepada Allah swt. Perbuatan dosa yang dilakukan secara kontinyu akan membuat hati menjadi gelap, sehingga yang ditemuinya hanyalah kegelapan, kekerasan, tiada keikhlasan, kenikmatan, dan dzauq (rasa). Kedua, agar amal ibadah orang itu diterima oleh Allah swt, sebab sang pemberi hutang tidak akan mau menerima hadiah, jika hutangnya belum dilunasi oleh si penghutang.15

Sehingga, bertaubat adalah wujud untuk melunasi hutang-hutang seseorang kepada Allah swt dan menambahnya dengan derma-derma untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Adapun mengenai kewajibannya, maka taubat wajib dilakukan secara terus menerus dalam kondisi apapun.16 Hal ini tidak lain hanyalah sebuah sarana untuk menemukan dan memahami rahasia-rahasia hikmah. Allah swt berfirman,

17 وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُ ۗ

“Bertakwalah kepada Allah swt, maka Allah swt akan memberikan pengajaran kepadamu”

Dr. Wahbah Zuhaily menafsirkannya secara ringkas dalam al-Wajiz18, “Dan bertakwalah kepada Allah swt dalam perintah dan laranganNya. Allah swt mengajarkan kalian tentang hal-hal yang baik bagi urusan kalian dalam hal agama dan dunia.”

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Athaillah dalam Hikamnya,

19 أم كيف يرجو أن يفهم دقائق الأسرار وهو لم يتب من هفواته

“Bagaimana hati berharap untuk bisa memahami rahasia-rahasia terdalam, jika ia sendiri belum bertobat dari ketersesatannya? ”

Allahumma tub ‘alaina, innaka anta al-tawwab al-rahim

Tabik,
Ibnu Mas’ud


Catatan Kaki:

1 al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah (Jakarta: Dar al-Kutub Islamiyah, 2011), hal. 127.
2 al-Ghazali, Minhaj al-Abidin (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2017), hal. 20.
3 Ibnu al-Qayyim, al-Muhadzdzab min Madarij al-Salikin (Damaskus: Dar al-Qalam, 2011), hal. 74.
4 al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2016), hal. 4.
5 al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din vol. 4, hal. 4.
6 al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din vol. 4, hal. 4.
7 al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din vol. 4, hal. 5.
8 al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, hal. 127.
9 أخرجه ابن ماجه و ابن حبان و صحح إسناده
10 al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, hal. 127.
11 al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din vol. 4, hal. 12.
12 Muhammad Amin al-‘Aydrus, al-Washoya (Indonesia: Markaz Dar al-Syaikh Abi Bakr bin Salim), hlm. 245.
13 al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din vol. 4, hal. 21.
14 al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din vol. 4, hal. 21-22.
15 al-Ghazali, Minhaj al-Abidin, hal. 19.
16 al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din vol. 4, hal. 10.
17 QS. Al-Baqarah: 282.
18 Wahbah Zuhaily, al-Tafsir al-Wajiz (Damaskus: Suriah), hal. 49.
19 Al-Hikam hikmah no. 13.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.