Secangkir Makna

Jika kau bukan anak raja, bukan juga anak ulama besar, maka menulislah.


Mengapa Orang Beriman Masih Terus Berdosa?

Inilah salah satu pertanyaan yang sering muncul di benak kita. Kalau memang seseorang sudah beriman, mengapa ia tetap mengulang dosa? Bukankah iman seharusnya menjadi bentengnya terhadap dosa-dosa itu? Imam al-Ghazālī dalam Iyā’ menjelaskan bahwa perkara ini bukan karena hilangnya iman, tetapi karena lemahnya iman. Iman tetap ada, tetapi tidak cukup kuat menahan derasnya arus yang menggoda. Ada beberapa sebab yang membuat seseorang tetap terjerumus dalam dosa, meskipun keyakinan dasarnya kepada Allah dan Rasul masih ada. Mari kita coba urai sebab-sebabnya:

Pertama, karena hukuman itu gaib, sementara godaan dosa hadir di depan mata. Manusia diciptakan dengan tabiat lebih mudah terpengaruh oleh yang hadir saat ini dibanding ancaman yang jauh. Azab akhirat terasa jauh, sedangkan kenikmatan dosa langsung bisa dirasakan. Maka tak heran bila banyak orang memilih yang dekat meski tahu akibat buruk di belakangnya. Allah sudah mengingatkan: kallā bal tuibbūna al-‘ājilah wa tadharūna al-ākhirah—“sekali-kali tidak, tetapi kalian lebih mencintai yang segera (dunia) dan meninggalkan akhirat.”

Kedua, karena syahwat yang mendorong dosa sifatnya mendesak dan menekan. Apalagi bila sudah menjadi kebiasaan. Kata orang bijak, al-‘ādah abī‘ah khāmisah—kebiasaan itu laksana tabiat yang sulit dicabut. Maka wajar bila seseorang lebih memilih memuaskan hasrat sekarang, meski tahu akan akibatnya di masa depan. Nabi ﷺ pernah bersabda: uffat al-jannah bi al-makārih wa uffat al-nār bi al-syahawāt—“surga dikelilingi hal-hal yang berat, dan neraka dikelilingi syahwat.” Jalan surga memang terasa pahit di awal, sedangkan jalan neraka tampak manis.

Ketiga, karena panjang angan-angan. Hampir setiap pelaku dosa masih punya niat untuk bertaubat suatu hari nanti. Ia tidak mengingkari akibat dari perbuatan dosa itu, tapi menundanya. “Nanti kalau sudah tua,” “nanti kalau sudah berhenti bekerja,” “nanti setelah urusan ini selesai.” Begitu terus hingga usia habis, dan taubat yang ditunggu-tunggu ternyata tidak kunjung datang.

Keempat, karena berharap pada ampunan Allah. Seorang mukmin tahu bahwa Allah Maha Pengampun. Tetapi kadang harapan ini berubah menjadi sikap menggampangkan: “Toh Allah Maha Pengampun kok.” Iya, benar bahwa Allah memberi ampunan, tapi tidak seorang pun dijamin bisa mendapatkannya tanpa usaha dan taubat yang sungguh-sungguh.

Keempat sebab inilah yang membuat seseorang masih terus-menerus mengulang dosa walaupun ia beriman. Ia tidak mengingkari kebenaran, hanya saja imannya terlalu lemah dibanding derasnya godaan, kebiasaan, angan-angan, dan rasa aman semu karena harapan ampunan.

Makanya, Imam al-Ghazālī memberikan perumpamaan atas kondisi ini. Orang yang sakit tahu bahwa minum air dingin berlebihan bisa membahayakan tubuhnya. Ia percaya pada dokter, dan tidak mengingkari bahwa air dingin itu bisa saja membunuhnya. Tetapi ketika dahaga menyerang, ia tetap meminumnya. Ia bukan kafir (menolak percaya) pada ilmu kedokteran, hanya saja rasa haus lebih kuat dari keyakinannya. Begitu pula dosa: imannya tetap ada, tapi nafsunya lebih kuat dari iman itu sendiri.

Maka, barangkali yang perlu kita renungkan bukan “apakah kita beriman?” tapi “seberapa kuat iman itu mengendalikan diri kita?” Karena selama iman tidak cukup kuat, dosa akan selalu punya celah untuk masuk, meski keyakinan kepada Allah masih tetap kita genggam dengan erat.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.